Tanah Kaya, Miskin Gizi

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Hari gizi nasional yang diperingati setiap tanggal 28 Februari rupanya masih menyisakan duka. Baru-baru ini Indonesia digemparkan kasus gizi buruk dan campak yang telah merenggut nyawa anak bangsa. Sebanyak 72 anak Asmat meninggal dunia, 66 orang meninggal akibat campak dan sisanya gizi buruk. Tak luput sekitar 15 ribu warga Asmat menderita gizi buruk. Warga mengalami kelaparan gizi karena defisit konsumsi bahan pangan seperti sayuran, buah, ikan, dan sumber protein lainnya. Sekitar 40 persen kondisi kesehatan masih di bawah standar normal. Pemerintah pun menjadikan keadaan tersebut sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB), namun sekarang status KLB telah resmi diangkat.

Kejadian ini menunjukkan masih buruknya gizi di Indonesia. Alasan klasik kembali terlontar seperti minimnya tenaga kesehatan, Puskesmas atau layanan kesehatan yang jauh dari penduduk. Obat yang tidak memadai karena faktor alam di Papua, dimana medan yang dilalui sangat berat, mahalnya transportasi hingga desa yang terisolir. Tingkat kesadaran masyarakat Papua di kampung dalam hal hidup sehat masih rendah dan kurang bersih serta budaya nomaden disinyalir turut menjadi faktor penyebabnya. Tidak ada yang salah akan hal itu, namun perlu disadari bahwa wilayah Papua dari dulu merupakan medan berat yang sulit dilalui. Menjadikan alam sebagai alasan di tengah canggihnya peradaban mungkin terdengar kurang bijak.

Hal ini  menjadi sorotan masyarakat dan menuai berbagai tanggapan. tanggapan menyalahkan pemerintah pusat yang tidak kompeten dalam pemerataan pembangunan, pemerintah daerah yang dituding menyelewengkan Dana Otonomi Khusus (Otsus), hingga dijadikan sebagai tunggangan politik menuju  Pilkada  2018 maupun Pilpres 2019.  Kartu kuning kepada presiden pun mewarnai tanggapan akan KLB  yang terjadi.

Alih-alih terus menyalahkan keadaan, lebih baik memberi solusi. Status KLB yang telah dicabut tidak serta-merta menyelesaikan kasus ini. Semua pihak layaknya memiliki andil akan keselamatan setiap anak bangsa. Mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, TNI-Polri, akademisi, dan seluruh kalangan masyarakat. Pembangunan infrastruktur berupa jalan, rumah sakit, balai pengobatan, Posyandu, dan Puskesmas. Mempermudah akses masyarakat untuk mendapat pelayanan kesehatan, ketersediaan obat-obatan yang memadai, serta mengirimkan bantuan tenaga medis ahli maupun relawan kesehatan merupakan solusinya. Selain itu dibutuhkan sosialisasi pentingnya gizi dan pola hidup sehat kepada masyarakat. Pemerintah juga harus memberdayakan masyarakat setempat untuk membangun kesehatan di kampung halamanya. Perlu adanya sinergi antara pihak terkait untuk mewujudkannya dan mengawal masyarakat.

Gizi berkaitan erat dengan kualitas pangan. Ketahanan pangan harus diperkuat dengan memfokuskan pembangunan pertanian. Infrastruktur pertanian dibangun agar mempermudah warganya berladang dan menghasilkan pangan bergizi. Diperlukan  perubahan dari pertanian konvensional ke modern yang berkelanjutan dengan memanfaatkan teknologi agroindustri. Saat ini produksi pertanian Papua didominasi oleh sagu, umbi-umbian dan tanaman holtikultura sehingga dibutuhkan kebijakan yang tepat sasaran dan sesuai dengan kearifan lokal. Bisa jadi pemerintah harus menerapkan program diversifikasi pangan sekaligus menciptakan produk pangan olahan sagu, umbi dan lainnya yang memberi nilai tambah kepada petani lokal.

Seperti lirik lagu Tanah Papua yang ditulis Edo Kondologit “Tanah Papua tanah yang kaya, surga kecil jatuh ke bumi. Seluas tanah sebanyak madu adalah harta harapan”. Surga yang telah jatuh ini sudah sepantasnya harus dijaga, karena tanah Papua adalah harta harapan.

 

Savira Kusuma Dewi* Mahasiswa Agribisnis 2016

Karikatur: Agc/Kezia

Print Friendly, PDF & Email
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Komentar

Orang berkomentar