Soempah Pemoeda dan Generasi Milenial

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
1

Peran pemuda dalam sejarah bangsa Indonesia adalah menjadi penggerak kebangkitan bangsa. Para pemuda dari seluruh penjuru Nusantara berkumpul dalam sebuah kongres. Kongres pada waktu itu dikenal dengan istilah “Kerapatan Pemoeda”. Kerapatan Peoeda berarti upaya pemuda Indonesia melawan kolonialisme yang berusaha menguasai alam Indonesia, agar selalu patuh dan tunduk pada kolonialisme Belanda, dan hilangnya identitas sebagai negara yang berdaulat dan merdeka. Kongres diadakan pada 27-28 Oktober 1928 mengahasilkan tiga ikrar sumpah pemuda yang sering kita dengar saat upacara memperingati Hari Sumpah Pemuda. Pada Kongres Pemuda ini pula, lagu Indonesia Raya pertama kali diperdengarkan oleh Wage Rudolf Soepratman.

Pemuda kembali menunjukkan perannya saat mahasiswa menuntut reformasi dan dihapuskannya KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme). Pada akhirnya Soeharto yang pada saat itu menjabat sebagai presiden, melepaskan jabatannya. Sekaligus menandakan berakhirnya masa Orde Baru dan awal menuju Orde Reformasi, yang mengubah tatanan kehidupan rakyat Indonesia. Semangat menggelora pemuda dalam rangkaian aksi dibekali dengan kecerdasan intelektual dan kritis dalam berpikir. Kini, rasa cinta tanah air pemuda Indonesia semakin menyusut pasca 90 tahun Sumpah Pemuda. Misalnya saja dari aspek budaya, banyak generasi millennial yang perlahan meninggalkan budaya lokal Indonesia dalam pengaruh budaya barat. Hanya segelintir pemuda Indonesia yang masih ingin melestarikan budayanya sendiri dan sisanya mungkin generasi tua.

Di era Millennial, pemuda dan gadget seakan tidak dapat dipisahkan. Internet dan sosial media seperti narkoba, yang menjadi candu di syaraf dan otak manusia jaman sekarang. Banyak pemuda yang menyalahgunakan media sosial terutama dari kalangan pelajar, sehingga membawa dampak buruk bagi diri sendiri maupun orang lain. Kecenderungan bergantung pada gadget, kadang membuat kita lupa akan komunikasi yang sesungguhnya, yaitu bertatap muka langsung dalam perkumpulan tanpa melirik gadget. Gadget memang mempermudah kita bersosial di dunia maya, namun justru membuat kita menjadi anti sosial di dunia nyata. Bersikap tidak peduli pada kawannya sendiri dan lingkungan tempat tinggalnya.

Tidak adil jika hanya menyebutkan dampak buruk sosial media saja, dampak positifnya pun ada. Pemuda-pemudi Indonesia yang memanfaatkan peluang dari media sosial tak jarang kita temukan. Teknologi informasi dan komunikasi digunakan untuk menciptakan ide-ide yang kreatif dan innovatif. Mulai dari menjadi entrepreneur, designer grafis dan pelaku ekonomi kreatif lainnya. Menurut data demografi, bahwa jumlah pemuda Indonesia dengan rentang usia 16-30 tahun adalah sekitar 61,8 juta jiwa. Jumlah tersebut merupakan 24,5% dari total jumlah penduduk Indonesia, yaitu sekitar 252 juta jiwa. Dari jumlah tersebut, pemuda memang seharusnya ikut andil dalam membawa Indonesia menuju masa depan yang cerah. Perlu strategi yang tepat agar jumlah pemuda tidak menjadi beban bagi bangsa Indonesia sendiri.

Di tangan pemuda lah negara ini dibawa, di pundak pemuda lah segala beban negara dipikul bersama. Mimpi apapun yang nantinya akan menjadi cita-cita kita para pemuda dan pemudi Indonesia, rasa memiliki terhadap bangsa ini harus tetap ada. Menjaga kesatuan negara Indonesia dan memperkuat cinta tanah air agar tidak pernah luntur. Mengabdi pada negara, penanaman jati diri bangsa Indonesia sehingga negara ini tidak kehilangan identitasnya. Mengisi keseharian pasca bangsa ini merdeka dengan hal-hal positif, mulai dari hal kecil seperti rajin belajar sampai hal besar yang membawa Indnesia mampu bersaing di kancah internasional.

Oleh: Yulia* (Mahasiswi Agroteknologi 2016)
Sumber gambar: Infobintaro

Print Friendly, PDF & Email
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
1

Komentar

Orang berkomentar