Selamatkan Gizi Generasi Muda!

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Kualitas makanan masyarakat merupakan tantangan yang harus segera disikapi demi menyelamatkan generasi penerus bangsa ini. Penyebaran penderita penyakit tidak menular di desa dan kota, salah satunya dipicu oleh status gizi masyarakat yang buruk. Dikutip dari Kompas, edisi 20 Mei 2015, sejak balita, lebih dari sepertiga anak Indonesia sudah kekurangan gizi, seperti protein, karbohidrat, lemak, vitamin dan mineral. Saat masuk sekolah dasar, mereka terpapar dengan jajanan sekolah yang tidak sehat. Pada jenjang sekolah yang lebih tinggi, jajanan yang memiliki kandungan gizi yang tidak lebih baik dari sebelumnya. Generasi muda kita tengah terancam.

Saat ini, pola makan hanya sekadar mengejar rasa enak dan murah, yaitu makanan dan minuman manis, asin, dan gurih. Selain itu, masyarakat dan para pelajar lebih memilih makanan dan minuman yang praktis, memiliki warna dan bentuk yang menarik. Padahal, kandungan gizi baik dalam makanan tersebut sangat rendah. Makanan dan minuman warna-warni seperti kerupuk, gulali, es gosrok, es batangan, dan sebagainya justru rentan terhadap bahaya, seperti bahan kimia jenis pewarna tekstil yang berwarna lebih mencolok dibanding pewarna makanan alami. Harga makanan tersebut pun lebih murah. Namun, pengumpulan bahan kimia jenis tesebut pada tubuh, dalam jangka panjang akan berakibat buruk pada kesehatan, yakni menimbulkan kanker. Generasi muda harus diselamatkan.

Selain itu, makanan yang familiar dan enak seperti gorengan, cireng, dan sebagainya tak luput dari bahaya. Pedagang hanya mengedepankan rasa enak dan murah untuk dijual ke pembeli. Terkadang mereka membuat gorengan dengan melarutkan plastik pembungkus minyak curah agar lebih gurih dan tahan lama. Minyak yang digunakan untuk membuat gorengan berwarna hitam karena terlalu sering dipakai, menjadi minyak jenuh yang tidak baik bagi kesehatan. Ya, generasi muda harus diselamatkan.

Pola makan yang buruk sejak kecil mengakibatkan gangguan fisik dan kognitif atau kecerdasan kurang. Bahkan dalam jangka panjang berisiko tinggi terkena penyakit tak menular, seperti stroke, diabetes melitus, dan jantung serta pembuluh darah. Menurut Riset Kesehatan Dasar 2013 yang juga ditulis pada sumber yang sama, umumnya penderita diabetes telah mencapai 2,1 persen, kanker 1,4 per mil, jantung koroner 1,5 persen, dan stroke 12,1 per mil. Artinya, dengan mengandalkan rasa enak dan murah, kita justru membayar lebih mahal untuk menyembuhkan berbagai penyakit yang ditimbulkan. Sekali lagi, generasi muda harus diselamatkan.

Mengapa? Karena generasi muda merupakan generasi penerus bangsa. Kualitas bangsa di masa depan ditentukan dengan kualitas generasinya saat ini. Upaya peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) harus dilakukan sejak dini. Masyarakat melalui sekolah dan perguruan tinggi diharapkan mampu menyediakan makanan sehat untuk memenuhi gizi generasi muda. Generasi muda yang cerdas diharapkan dapat memilih makanan yang diproses dengan dan pada tempat yang higienis. Kandungan gizi dari makanan dan minuman pun tak lupa diperhatikan.

Namun, upaya campur tangan gizi pada masyarakat khususnya generasi muda yang masih mengenyam bangku pendidikan, tidak bisa dilakukan oleh Kementerian Kesehatan atau Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sendiri. Upaya pencegahan tidak hanya urusan sektor kesehatan, tetapi juga tugas sektor lain, seperti pendidikan, perdagangan, industri, Usaha Kecil Menengah (UKM), dan infrastruktur masyarakat. Selain itu, pendidikan dasar dari orang tua terkait pola makan turut diperhatikan. Kerjasama itu akan membuat upaya perbaikan status gizi anak secara menyeluruh, sehingga akan melahirkan generasi–generasi muda yang tangguh untuk masa yang akan datang.

Opini oleh : Prisma Nurul Ilmiyati
Reporter LPM Agrica

Foto ilustrasi : blogspot

Print Friendly, PDF & Email
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Komentar

Orang berkomentar