Karnoe, Sepenggal Nama Penerbit Cakrawala

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
11

Judul Buku : KARNOE, Sejarah Tak Tertulis di Balik Nama Besar

Pengarang : Jombang Santani Khairen

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit : 2013

Tempat Terbit : Jakarta

Tebal : 269 halaman

Buku ini merupakan bacaan recommended untuk anak kampus. Mengajarkan betapa pentingnya persatuan akademik dan organisasi. Betapa pentingnya Intelligence Quotient (IQ) yang juga dipadu Emotional Quotient (EQ) serta Spiritual Quotient (SQ). Betapa pentingnya penyertaan Tuhan dan orangtua. Menggambarkan bagaimana lika-liku kehidupan kampus di salah satu sudut organisasi Fakultas Ekonomi, sebut saja Badan Otonom Economica (BOE). Tak ketinggalan, Tere Liye, penulis tersohor nusantara, Sri Mulyani Indrawati, Direktur Bank Dunia yang saat ini menduduki posisi Menteri Keuangan RI, juga aktif dalam BOE semasa perkuliahannya dulu di Universitas Indonesia (UI).

Penulis berusaha menggambarkan rangkaian kegiatan BOE dalam buku ini contohnya,  melalui kegiatan penelitian daerah di Kawah Ijen, Banyuwangi, Jawa Timur. Senantiasa melakukan penelitian dengan mempersiapkan segala berkas untuk mengorek segala informasi dari para responden  di lokasi tersebut. Memperoleh responden dengan metode random sampling tujuh persen.  Sadar bahwa inilah salah satu jalan menjadi agen perubahan, menyelamatkan permasalahan yang terjadi, persoalan mengangkat 90 kilo belerang berkilo-kilomeneter jauhnya, besar medannya, dari atas gunung ke pasar, dan hanya dihargai 600 rupiah per kilonya. Berharap hasil dari penelitian bisa dijadikan rekomendasi kepada kementrian terkait sehingga dapat mempengaruhi pola hidup orang di lokasi tersebut.

Kemudian tumbuhlah manusia-manusia loyal, menuangkan apapun yang mereka punya, untuk sekretariat berbau jurnalistik yang disebut-sebut Badan Otonom Economica itu, mengesampingkan materi dan ego. Segala proses yang dideskripsikan penulis dalam organisasi tersebut tak lepas dari sesosok perawakan Mas Karnoe, ia membawa karakternya hingga terbentuklah berbagai kultur yang turun-temurun lestari di Economica; mengemban nilai-nilai kejujuran, keikhlasan, mengakarkan pada tiap kepribadian penghuni sekre tersebut. Satu-satunya organisasi kampus yang mempekerjakan Mas Karnoe sebagai simulasi pengurus Economica. Tidak berlebihan, dari level mahasiswa sudah memikirkan uang yang harus dialokasikan untuk membayar gaji, kesejahteraan Mas Karnoe, dan uang pensiunnya. Hal ini membuat penghuni BOE lebih serius dan memiliki tanggung jawab yang lebih besar. Kalau organisasi ini hanya dihuni mahasiswa saja, maka tidak perlu pusing memikirkan gaji, tapi ini beda ceritanya. Para alumni pun seringkali datang mengunjungi Economica, mereka datang hanya untuk mencari Mas Karnoe, bercakap-cakap melepas rindu dan banyak lagi. Setelah selesai barulah perihal organisasi ditanyakan.

Buku ini membuat saya semakin cinta oleh organisasi saya, terlebih sampai di semester 5 ini saya masih bergelut di Agrica, organisasi atau Lembaga Pers Mahasiswa Fakultas Pertanian Unsoed yang berbau jurnalistik—idem dengan BOE. Semakin ngena buat anak-anak jurnalis yang memiliki ciri khas tersendiri : berkumpul dan berdiskusi, kemudian asik dan ngelantur dari satu topik. Bagaimana membuat geger kampus karena isu yang disebarkan. Mencari daerah demi membantu penyelesaian permasalahannya, melalui pertemuan langsung dengan pemerintah terkait, atau hasil reportase yang dijadikan berita. Memotret kawasan yang membuat mulut mengucap syukur.

Ada yang menarik dari salah satu kutipan buku ini. “Konon, kalimatnya ini yang membuat aku berkesimpulan bahwa nanti setelah lulus kuliah, tak akan aku masuki lagi dunia jurnalistik di luar sana. Karena, hanya di dunia kampuslah keberadaan pers itu benar-benar pada titik idealis. Di luar sana belum tentu. Idealisme pers itu, menurutku, akan condong pada kuat atau tidak adanya dukungan capital dan political. Kalau politiknya lebih kuat, maka pers tersebut seakan-akan berorientasi pada satu bentuk kepentingan politik. Begitu juga kalau modalnya yang kuat, lebih bahaya kalau politik dan modalnya sama-sama kuat”.

Kutipan tersebut mengajarkan kita betapa hebatnya kekuatan organisasi, terutama betapa besar pengaruhnya kekuatan jurnalistik di dunia kampus, kekuatan asah mengasah baca membaca, tulis menulis, kala didampingi kesibukan akademik program studi. Mengasah otak kanan dan kiri, menukarkan keberhasilan dengan cicilan berbagai kegagalan dan kesempatan. Bernapas pada tiap hirupan dinamisnya proyek lembaga pers yang telah dirancangkan. Kemudian upaya merealisasikan dalam tiap helaannya oleh tiap divisi. Mengingatkan saya tentang arti keyakinan yang selalu Agrica sebut dalam tiap nasehatnya, “Setialah pada proses”.

Keunggulan isi buku : menyajikan berbagai inspirasi dan hikmah melalui hal-hal kecil yang dirangkai dalam kegiatan sehari-hari subjek maupun objek yang ada dalam novel. Gaya penulisan yang santai sehingga maksud penulis mudah dicerna pembaca.

Kelemahan : masih banyak penggunaaan kata yang terlalu tinggi sehingga bisa terjadi ketidakpahaman dari beberapa pihak pembaca.

Saran  : lebih mengembangkan cara penyampaian sasaran pembaca yang dituju, tidak hanya kepada beberapa pihak (semisal : organisasi tertentu atau akademisi) sehingga dapat lebih tersampaikan ibrahnya oleh semua kalangan.

Manfaat : mengajarkan nilai-nilai moral untuk dikedepankan, disamping kepintaran yang telah diperoleh, disamping segala kesibukan di dunia. Melihat cara pandang hidup melalui sisi lain kampus. Melalui salah satu tokoh yang tidak asing namanya di telinga penghuni sekretariat BOE UI.

 

 

Chaerun Nabilah Firdaussy *Mahasiswa Teknik Pertanian 2015

Print Friendly, PDF & Email
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
11

Komentar

Orang berkomentar