Perfilman Indonesia, dulu, kini, dan nanti

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Setiap tahunnya, 30 Maret diperingati sebagai Hari Film Nasional. Bermula sejak 30 Maret 1950, yaitu pengambilan gambar film “Darah & Do’a” atau “Long March of Siliwangi” yang disutradarai oleh Usmar Ismail pertama kali dilakukan. Enam puluh tujuh tahun berlalu, bagaimana keadaan Perfilman di Indonesia saat ini? .

 

Perfilman di Indonesia mengalami perkembangan yang fluktuatif. Seperti yang kita ingat, dahulu banyak film ber-genre horror yang bersaing untuk mendapat minat penonton dengan penggunaan judul dan kontennya yang mengandung pornografi. Tak luput dari ingatan kita juga sekitar tahun 2015 lalu adanya isu pembatasan film impor yang masuk ke Indonesia. Serta kasus pajak film impor yang lebih tinggi dibandingkan dengan pajak film lokal. Akhirnya membuat banyak film box office Hollywood menolak untuk menayangkan filmnya di Indonesia. Hal ini tentu dirasa menguntungkan bagi sutradara-sutradara lokal, hanya saja kebijakan ini tidak sebanding dengan perkembangan perfilman dalam negeri. Sebagai hasilnya, studio bioskop menjadi sepi dan film impor diperbolehkan masuk kembali.

 

Lalu bagaimana dengan keadaan dunia perfilman sekarang? Jaman semakin berubah, teknologi pun mengalami banyak perkembangan. Aplikasi dan perangkat lunak untuk mengedit video semakin bertebaran. Banyak generasi muda yang akhirnya dapat membuat video bahkan film pendeknya sendiri.  Apalagi didukung dengan boomingnya YouTube yang dinilai lebih banyak ditonton dibandingkan Televisi nasional. Sebagai hasilnya, semakin banyak generasi muda yang berlomba-lomba untuk unjuk gigi, menunjukan karyanya di media sosial tersebut. YouTube juga dinilai sebagai tempat para produser film besar untuk mencari talent baru yang akhirnya akan memproduksi film layar lebar. Sebagai contoh, Raditya Dika yang berawal dari buku, sebuah video series pendek di YouTube, sampai akhirnya mampu memproduksi banyak film layar lebar yang nyaris semuanya masuk dalam jajaran Best Seller dan paling dicari penonton.

 

Perkembangan jaman juga membuat genre film yang diminati mulai bermunculan. Genre yang diminati tidak lagi Horror yang mengandung pornografi. Genre komedi, romantis, action, fantasi, bahkan kartun pun juga mulai diminati oleh penikmat film Indonesia. Banyaknya genre membuat masyarakat Indonesia mempunyai banyak pilihan untuk film apa yang ingin ditonton.

 

Hanya saja dari sekian banyaknya film yang ada di Indonesia, hanya sedikit yang mempunyai nilai edukasi khususnya untuk anak-anak. Banyak sutradara dan produser yang memilih untuk memproduksi film romantis dan horror ketimbang film yang mendidik. Sedikitnya film animasi atau yang biasa kita kenal film kartun dinilai masih sedikit dan sebagian besar berasal dari luar negeri. Film animasi pun sebagian besar dikategorikan sebagai film ‘Remaja’ bahkan ‘Dewasa’ karena mengandung adegan yang tidak cocok dikonsumsi oleh anak-anak. Terlebih lagi, banyak orang tua yang mengajak anaknya untuk menonton film tersebut. Seakan tidak peduli sudah tertera hanya untuk 13 tahun keatas karena dinilai tergolong fim kartun.

 

Masa yang akan datang diprediksikan penikmat film akan semakin bertambah. Harapannya, penikmat film semakin pintar dalam memilih film yang sesuai dengan umurnya. Selain itu, semakin banyak diproduksinya film anak yang mengandung nilai edukasi. Di sisi lain orang tua juga dihimbau untuk berperan aktif dalam mendampingi anaknya saat menonton film. Agar, apa yang dijabarkan di film tidak disalah tangkap oleh sang anak. Penyamarataan kategori film juga diharapkan untuk memperkaya pilihan penonton. Untuk para sutradara muda, jangan pernah takut untuk terus berkarya dan memulai dari hal kecil seperti membuat film pendek. Jangan juga untuk takut salah, karena ketahuilah seperti yang dikatakan om Didi Petet ‘Tidak ada Film yang jelek, yang ada.. bagus dan sangat bagus’. Viva Perfilman Indonesia!.

 

*Aulia Rahmadiani, Mahasiswa Agroteknologi 2014.

 

 

 

 

 

Print Friendly, PDF & Email
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Komentar

Orang berkomentar