Pancasila Milik Kita?

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Negara Indonesia yang akan kita bentuk itu apa dasarnya?” Pertanyaan itulah yang muncul saat sidang BPUPKI digelar. Beberapa anggota sidang menafsirkan pertanyaan tersebut dan mengemukakan pendapatnya. Dari beberapa anggota sidang yang memaparkan pemikirannya, istilah Pancasila yang dicetuskan Soekarno dianggap menjadi jawaban atas pertanyaan ketua BPUPKI tersebut.

Tepat 72 tahun yang lalu, Soekarno mengenalkan istilah Pancasila sebagai dasar negara. Pancasila sejatinya digali dari nilai-nilai bangsa Indonesia sendiri yang kemudian dituangkan dalam kelima sila yang ada. Meski istilah Pancasila sudah tercetus sejak 1 Juni, tetapi perjalanan terbentuknya Pancasila sebagai dasar negara tidak mudah. Sebagai negara dengan berbagai suku, ras, dan agama, tidak mudah dalam menyusun poin dalam sila pertama. Terbentuknya sila ke satu dalam Pancasila merupakan cerminan atas sikap toleransi yang tinggi bangsa Indonesia.

Kemudian di masa orde baru, Pancasila menjadi sebuah dogma. Dianggap sebagai sumber kekuatan atas berbagai tindakan yang dianggap anti kebhinekaan, begitulah stigma Pancasila kala itu. Sebut saja ideologi PKI yang mulai menjalar di era orde baru. Kematian enam Jenderal TNI-AD dalam peristiwa G/30/S/PKI menjadi alasan ditetapkannya Hari Kesaktian Pancasila pada 1 Oktober. Kesaktian Pancasila diperingati dengan nuansa kebencian, anti PKI, dan anti Bung Karno. Tak lama setelah itu, peringatan 1 Juni sebagai Hari Lahirnya Pancasila dilarang. Setiap kegiatan yang bertentangan dengan pemerintah dianggap sebagai tindakan anti Pancasila. Sejak saat itu, Pancasila menjadi dogma. Latar belakang tercetusnya Pancasila sebagai nilai-nilai luhur bangsa pun mulai terkikis.

Kini, 1 Juni resmi diperingati kembali sebagai hari lahirnya Pancasila dan ditetapkan sebagai hari libur nasional. Konsep P4 yang dulu sempat ditiadakan, kembali digemborkan, mulai dari instansi pendidikan hingga birokrasi pemerintahan. Konsep bela negara yang akan diterapkan dalam ospek kampus juga tak luput dari jangkauan. Mungkinkah Pancasila mulai terlupakan dari kehidupan bangsa? Apakah pendidikan pancasila dan kewarganegaraan yang diterapkan sejak SD di bangku kuliah tidak cukup sebagai bekal dalam bernegara? Miris jika masih ada mahasiswa yang tidak hafal kelima butir Pancasila.

Jika benar ruh Pancasila mulai pergi dari raga, maka 1 Juni ini baiknya tak hanya dijadikan sebagai seremonial atau ajang unjuk gigi di media sosial. Lebih dari itu, peringatan Pancasila digunakan sebagai bentuk introspeksi diri dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sikap toleransi antar umat beragama dan menghargai pendapat orang lain misalnya, merupakan contoh kecil penerapan Pancasila. Perbedaan juga seharusnya tak menjadi tembok penghalang persatuan. Karena, Indonesia bukanlah Indonesia tanpa perbedaan dan keberagaman. Karena, Kita Indonesia, Kita Pancasila. 

 

Oleh : Ayuning Karimah *Mahasiswa Agrobisnis 2014

Sumber foto : Indowarta.com

Print Friendly, PDF & Email
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Komentar

Orang berkomentar