Tantangan Pertanian Di Era Milenial

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
5

Pertanian adalah salah satu sektor vital bagi pembangunan suatu bangsa. Hal ini dikarenakan pertanian bertanggung jawab terhadap ketersediaan pangan dan kesejahteraan rakyat. Apalagi pangan merupakan kebutuhan primer yang harus dicukupi oleh manusia untuk bisa bertahan hidup. Selain itu, pertanian juga turut membantu sebuah negara dalam menaikan pendapatan finansial, salah satunya melalui ekspor.


Sebagai negara tropis, Indonesia memiliki potensi yang tinggi di sektor pertanian. Tak heran jika negara ini adalah salah satu eksportir kopi, teh, karet dan tembakau terbesar di dunia. Bahkan kopi luwak pernah mendapat predikat sebagai kopi termahal di dunia.

Melihat pada pembahasan di atas, tentunya peluang Indonesia untuk menjadi negara yang berjaya di sektor pertanian sangat besar. Akan tetapi realita berkata lain. Negara kita masih belum mampu memaksimalkan potensi yang ada. Beberapa faktor menyebabkan potensi tersebut belum menampakkan hasil yang optimal. Salah satu faktor tersebut ialah belum maksimalnya pemanfaatan teknologi di bidang pertanian. Saat ini, kegiatan pertanian di Indonesia masih banyak yang menggunakan teknik pertanian cara konvensional. Padahal, pemanfaatan teknologi sangat membantu kegiatan pertanian supaya lebih efektif dan efisien. Akibatnya, produktivitas komoditas pertanian menjadi rendah dan kemungkinan gagal panen menjadi tinggi.

Ada beberapa alasan kenapa sistem pertanian konvensional masih dilakukan. Alasan tersebut diantaranya yaitu biaya dan kebudayaan. Mahalnya harga alat dan mesin pertanian (Alsintan) menyebabkan petani kurang mampu membelinya. Untuk menyiasati hal tersebut, pemerintah khususnya Kementerian Pertanian membantu petani dengan memberikan Alsintan kepada Kelompok Tani (Poktan). Namun, timbul permasalahan jumlah luas lahan petani yang rata-rata seluas 0,03 ha menyebabkan Alsintan menjadi kurang efektif. Sebut saja penggunaan traktor dan combine harvester yang akan efektif jika digunalan pada lahan yang luas. Akibatnya, banyak Alsintan bantuan pemerintah yang menganggur/tidak digunakan. Oleh karena itu, pemerintah harus benar-benar melindungi luasan lahan petani ditengah gencarnya prakttik alih fungsi lahan untuk kepentingan lain.

Selain Alsintan, penggunaan teknologi lain seperti internet juga dapat dimaksimalkan fungsinya oleh petani. Kenyataan bahwa di zaman sekarang, seluruh informasi tersedia di internet. Petani dapat menggunakan internet untuk mengakses informasi cuaca, informasi harga sarana produksi (Saprodi), informasi harga komoditas, dan masih banyak lainnya. Selain itu, petani juga dapat menjual produk pertaniannya di internet mengingat saat ini sudah banyak aplikasi jual beli hasil tani. Hal ini tentunya dapat memperpendek rantai distribusi produk pertanian sehingga selisih harga antara petani dan konsumen menjadi rendah. Selain itu, dominasi tengkulak juga akan menurun.

Namun masalah lain muncul, yaitu rendahnya kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) pertanian khususnya petani yang rendah. Dilansir dari Akurat.co, Tingkat pendidikan petani yakni belum pernah sekolah 766.954 orang atau sekitar 9,65 persen. Belum lulus SD 10.358.754 orang atau 26,54 persen. Sementara untuk lulusan SD 15.023.269 orang setara 38,49 persen, lulusan SLTP 6.330.800 orang setara 16,22 persen. Lulusan SLTA 332.106 orang atau 8,54 persen dan lulusan perguruan tinggi dan Diploma dan Sarjana 223.809 orang setara 0,57 persen
Selain itu, usia rata-rata petani juga yang didominasi diatas 55 tahun. Rendahnya kualitas petani menyebabkan petani tidak mengerti cara memanfaatkan internet. Alhasil informasi sebanyak dan selengkap apapun tidak dapat dimengerti oleh petani. Oelh karena itu, perlu adanya perhatian khusus dari pemerintah. Salah satu upaya tersebut yaitu dengan cara melatih penyuluh-penyuluh pertanian agar mampu mengarahkan dan membimbing petani dalam mengakses dan mamahami informasi yang ada di internet dengan tidak menghilangkan budaya petani itu sendiri.

Sebagian besar kelompok masyarakat yang mampu menyerap serta mencerna kemajuan teknologi informasi adalah anak muda. Namun, generasi muda yang seharusnya dapat dijadikan sebagai penerus nampaknya tidak tertarik dengan dunia pertanian. Dalam pikiran mereka menjadi petani adalah pekerjaan yang melelahkan, berpenampilan kotor, dan minim penghasilan sehingga mereka lebih memilih bekerja menjadi buruh pabrik atau karyawan. Hal ini menyebabkan regenarasi petani menjadi. Padahal keterlibatan generasi muda di bidang pertanian sangatlah diharapkan.

Untuk menarik minat generasi muda, pendekatan secara teknologi sangatlah dibutuhkan. Hal ini dikarenakan generasi muda memiliki sifat keingintahuan dan cenderung menyukai sesuatu yang baru. Merubah mindset petani menjadi terkesan lebih fresh dan kekinian sangatlah dibutuhkan. Oleh karena itu dibutuhkan sosok petani muda yang dapat dijadikan panutan. Salah satu tokoh tersebut yaitu seperti Adi Pramudya. Nama tersebut sudah sering dibicarakan di berbagai media nasional. Petani rempah yang masih berusia 25 tahun tersebut berhasi membudidayakan lengkuas menjadi sesuatu yang menghasilkan. Dia pun turut serta memberikan pelatihan maupun bimbingan kepada petani lain. Atas kerja kerasnya itu, banyak petani lain yang mengikuti jejaknya menjadi petani lengkuas . Alhasil, dirinya dapat membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat disekitar tempat tinggalnya. Tokoh yang patut dicontoh oleh generasi muda!!

Pembangunan pertanian merupakan tanggung jawab semua pihak. Bukan hanya petani maupun pemerintah. Seluruh elemen masyarakat harus selalu memberikan dukungan maupun perhatian terhadap sektor ini. Bagi konsumen, menghargai produk pertanian dalam negeri dapat membantu meningkatkan kesejahteraan petani. Bagi kaum intelektual, inovasi sangatlah diperlukan. Dan terkhusus bagi generasi muda, sumbangsih kalian sangatlah dibutuhkan. Mengingat kondisi SDM pertanian kita yang belum optimal dalam menerapkan teknologi pertanian.
Salam Tani! Selamat Hari Tani Nasional 2018!

Opini : Rifkyadi Naufal Agribisnis 2016

Foto : Instagram @badansdm

Sumber pendukung : https://www.google.co.id/amp/m.akurat.co/234014/-tingkat-pendidikan-petani-indonesia-masih-minim

https://m.suara.com/lifestyle/2018/03/12/102247/jadi-petani-adi-parmudya-ekspor-lengkuas-ke-shanghai–page-2

Print Friendly, PDF & Email
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
5

Komentar

Orang berkomentar