Setitik Nila Media

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
61

“Pers dan media bukan tuk kita kendalikan, bredel, maupun kriminalkan, namun justru ingin kita berdayakan peran media sebagai pilar ke-4 demokrasi,” –Jokowi-

 

Media massa tentu bukan menjadi hal yang asing bagi masyarakat saat ini. Berbagai informasi rutin disajikan media dalam berbagai bentuk, baik cetak maupun digital. Masyarakat dalam berbagai kalangan pun rutin menggali informasi yang dibutuhkan. Sayangnya, tak semua informasi berlabelkan pers atau media kini dapat dipercaya sepenuhnya. Masyarakat dituntut mandiri memilah informasi yang benar dan yang palsu.

Maraknya pemberitaan palsu (hoax) menjadi perbincangan dunia media akhir-akhir ini. Tak hanya sulit dibedakan dengan yang fakta, hoax bahkan sempat mengancam kestabilan politik negeri. Berawal dari Pemilihan Legislatif (Pileg) dan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014 lalu, masuknya kepentingan politik di dalam media membuat pemberitaan media mainstream memiliki berbagai versi dalam menyajikan suatu peristiwa yang sama.

Pemberitaan media mainstream yang berbeda-beda dan cenderung disetting sesuai kepentingan pemiliknya membuat kepercayaan masyarakat menurun. Dampaknya muncul media-media baru, khususnya media daring yang terkesan “abal-abal”. Sayangnya media baru ini justru lebih diminati masyarakat penghuni media sosial. Dianggap lebih praktis dan cepat, terkadang penyebaran informasi pun tak diimbangi dengan literasi yang cukup.

Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara, dalam malam penghargaan SPS 2017, mengungkapkan perubahan perilaku konsumsi informasi publik selalu ingin cepat, update, tetap simpel, to-the-point dan akurat. Hal ini juga ditandai dengan budaya baca dari kanan ke kiri (membuka koran) menjadi atas ke bawah (scroll media di smartphone). Budaya inilah yang membuat hoax lebih cepat tersebar.

Berkembangnya berita hoax juga tak luput dari pantauan Dewan Pers. Apalagi hoax termasuk mencederai kode etik jurnalistik tentang larangan membuat berita bohong. Guna menanggulangi maraknya hoax yang beredar di masyarakat dan mengatasnamakan media, 74 media diverifikasi secara resmi. Verifikasi 74 media diumumkan dalam siaran Dewan Pers (3/2) dan diresmikan pada peringatan Hari Pers Nasional (HPN) (9/2) 2017 di Maluku.

Upaya pengembalian kepercayaan masyarakat terhadap media pun tak hanya dilakukan oleh Dewan Pers. Pemblokiran situs hoax telah dilakukan, berbagai gerakan anti hoax juga muncul untuk mengurangi penyebaran informasi palsu yang beredar. Melalui kampanye gerakan ini mengedukasi masyarakat tentang bahaya hoax, bahkan tersedia aplikasi berbasis internet guna menguji kebenaran berita yang disediakan. Hal ini guna meningkatkan literasi masyarakat yang masih rendah sebagai penyebab maraknya hoax yang beredar.

Selain berbagai upaya pemberantasan hoax dari berbagai pihak, masyarakat pun dituntut untuk lebih cerdas dalam menyaring informasi yang diterima. Sebagai tokoh utama penyebaran informasi, media pun menjadi penanggung jawab utama tersajinya berita yang berkualitas bagi masyarakat. Media yang sempat tercoreng oleh maraknya hoax ditantang untuk mampu menyajikan keakuratan berita disamping kecepatan kebutuhan informasi masyarakatnya. Hal ini ditujukan untuk mengembalikan fungsi media sebagai pilar demokrasi, sesuai dengan kode etik jurnalistik yang dianutnya. (Agc/Isti)

Karikatur : Agc/Ficky

Print Friendly, PDF & Email
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
61

Komentar

Orang berkomentar