Parabel Mahasiswa

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
5

Mengutip sebuah puisi Ajip Rosidi, “Sebuah Parabel” tentang orang-orang yang selalu datang dengan tujuan.

Orang-orang mendaki gunung, memahat batu
dan pulang senja hari;
Orang-orang berlayar ke laut, menangkap ikan
dan pulang sehabis badai;
Orang-orang berangkat ke hutan, menebang kayu
dan pulang dengan beban yang berat;

Berdasarkan puisi di atas mungkin sajak mahasiswa sendiri dapat dikatakan,
Orang-orang haus llmu, melawan jarak
dan pulang dengan kolom huruf di atas kertas;

Kertas transkrip nilai tepatnya, kertas dengan indeks prestasi (IP) semua mata kuliah yang telah diambil. Sudah merupakan sistem pendidikan yang diterapkan pada tiap perguruan tinggi sejak tahun 1984, nilai akhir mahasiswa dinyatakan dengan beberapa peringkat huruf. Huruf-huruf ini mewakili angka poin kredit yang telah ditetapkan oleh masing-masing universitas. Nilai akhir dalam bentuk IP inilah yang digunakan untuk mengevaluasi pencapaian mahasiswa. Serta merta IP diperoleh dari angka kredit setiap mata kuliah yang diambil dengan memperhitungkan standar satuan kredit (SKS) tiap mata kuliah.
Secara umum terdapat empat jenis IP kumulatif (IPK), dan pemilihan penggunaan jenis IPK berdasar pada ketetapan otonomi masing-masing perguruan tinggi jua. Otonomi tersebut dapat dituangkan dalam penillaian hasil belajar sub sistem semester. Umumnya jenis IPK yang banyak digunakan adalah sistem A, B, C, D, sampai E atau dikenal sistem lima nilai.
Selain itu juga terdapat sistem penilaian tujuh nilai yaitu A, AB, B, BC, C, CD, D, dan E. Sistem penilaian seperti ini dianggap akan lebih menguntungkan bagi mahasiswa dibanding sistem pertama. Hal ini karena adanya nilai antara A, dan B atau antara B, dan C dapat menyelamatkan mahasiswa. Sebenarnya telah banyak keluh mahasiswa Unsoed yang sering membandingkan nilai sistem semester sendiri dengan beberapa perguruan tinggi lain. Tentu saja perbandingan dilakukan dengan posisi minus pada Unsoed.
Awal tahun 2017 berdasarkan SK Rektor nomor 17 tahun 2016 Tentang penilaian hasil belajar, Unsoed telah merubah sistem semester pada perhitungan nilai semester gasal tahun ajaran 2016/2017.

Perubahan berupa digantinya sistem kompenen lima nilai yang telah digunakan sejak dahulu menjadi sistem tujuh nilai. Skor berurut dari A sampai E adalah ≥ 80, 75.00 – 79.99, 70.00 – 74.99, 65.00 – 69.99, 60.00 – 64.99, 56.00 – 59.99, 46.00 – 55.99, < 46.00. Dikeluarkannya SK Rektor merupakan realisasi wacana sistem penilaian yang telah ada sejak lama. Wacana tersebut timbul karena anggapan bahwa sistem semester sebelumnya merugikan mahasiswa sebab Penilaian Acuan Patokan (PAP) di Unsoed memiliki rentan atau skala yang jauh satu sama lain.
Dasarnya perubahan sistem penilaian memang dilakukan guna mengatasi nilai-nilai di perbatasan, juga untuk mempersempit rentan antar nilai. Sehingga nilai mahasiswa dapat dipetakan secara lebih proporsional. Sebelumnya dikatakan bahwa sistem baru akan menguntungkan mahasiswa. Alasannya adalah kebanyakan mahasiswa biasanya tersangkut pada nilai “nyaris” A, “nyaris” B, “nyaris” C, “nyaris” D, bahkan E. Ditambah sistem penilaian terbaru memberikan perbedaan 0.5 antar peringkat huruf, sedang pada sistem sebelumnya perbedaannya 1.0.
Penerapan sistem semester baru ini diimplementasikan pada semua mahasiswa aktif Unsoed. Namun, perubahan sistem ini tetap tidak mempengaruhi nilai semester sebelumnya pada mahasiswa lama. Nilai semester sebelumnya tetap tidak dikonfersikan menjadi sistem nilai baru. Sehingga indeks prestasi mahasiswa yang telah menempuh tiga semester dan lebih akan menganut penilaian hasil belajar ganda dengan sistem lima nilai mix sistem tujuh nilai.
Bagaimanapun sebuah peraturan atau sistem baru lahir untuk memperbaiki kekurangan ataupun kesalahan pada sistem sebelumnya. Jika pada sistem yang baru belum dapat menyelesaikan masalah dimaksud, perbaikan akan terus berjalan selama manusia masih ingin untuk berpikir. hal lain yang perlu diperhatikan adalah walau rentan nilai menjadi pendek atau lebi proporsional tapi, juga bisa menjadi lubang tak terlihat yang mengecoh jika perubahan ini tidak dimaknai.
Hadirnya kebijakan turut melahirkan harapan agar mahasiswa tidak terlalu berfokus pada akademik namun juga pengembangan soft-skill. Namun perlu diingatkan bahwa kebijakan positif ini harus dimaknai dengan merubah cara pandang yang selalu IP oriented menjadi lebih serius dalam pemahaman materi. Sebab beberapa cara pandang yang IP oriented juga sering melahirkan kecurangan dalam meraih nilai, sehingga pemahaman menjadi formalitas belaka. Apalah arti perubahan jika tidak ada hal positif yang dibawanya, terlebih pada jika tidak ada perubahan pada mahasiswa sebagai objek utama didikan universitas. (Agc/Anggia)

Print Friendly, PDF & Email
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
5

Komentar

Orang berkomentar