“Menabung” Air untuk Masa Depan

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Ungkapan air sebagai sumber kehidupan seolah tak luput dari ingatan. Air memang sejatinya berperan penting bagi seluruh komponen kehidupan. Air seolah takkan pernah habis karna menutupi sekitar 71 persen dari permukaan bumi. Secara keseluruhan air di muka bumi, sekitar 98 persen terdapat di laut dan hanya 2 persen merupakan air tawar yang terdapat di sungai, danau dan bawah tanah. Air tawar yang ada 87 persen berbentuk es, 12 persen di dalam tanah, dan sisanya sebesar 1 persen terdapat di danau serta sungai. Air yang dibutuhkan bagi makhluk hidup bukanlah sembarang air. Hanya air yang bersih, tidak berbau dan tidak memilki rasa lah yang dapat dikatakan menjadi syarat air bersih untuk memenuhi kebutuhan.

Air bersih menjadi kebutuhan setiap mahkluk, tak terkecuali manusia. Seiring berjalannya waktu, kepadatan penduduk di dunia semakin meningkat. Hingga kini tercatat sekitar 7 milyar manusia yang hidup di bumi. Tak terelakkan lagi, kebutuhan air pun turut meningkat mengingat air menjadi sumber kehidupan. Berdasarkan data WHO (2000), diperkirakan terdapat lebih 2 milyar manusia per hari terkena dampak kekurangan air pada 40 negara di dunia. 1,1 milyar tidak mendapatkan air yang memadai dan 2,4 milyar tidak mendapatkan sanitasi yang layak. Sedangkan pada tahun 2050 diprediksikan bahwa satu dari empat orang akan terkena dampak kekurangan air bersih. Ironis, kebutuhan air yang meningkat tidak diimbangi dengan pasokan air bersih yang mencukupi.

Lalu bagaimana dengan negara kita, Indonesia? Bersyukurlah kita berada di negara layaknya surga. Segala sumber daya alam memadai termasuk air. Namun, air bersih di negara kita pun masih sangat minim untuk beberapa wilayah dan sangat melimpah di tempat lainnya. Dikutip dari Suara Pembaruan edisi 23 Maret 2007, sekitar 119 juta rakyat Indonesia belum memiliki akses terhadap air bersih. Penduduk Indonesia yang bisa mengakses air bersih untuk kebutuhan sehari-hari, baru mencapai 20 persen dari total penduduk Indonesia. Itu pun yang dominan adalah akses untuk perkotaaan. Artinya masih ada 80 persen rakyat Indonesia terpaksa mempergunakan air yang tak layak secara kesehatan. Adanya ketimpangan ini diperparah pula dengan perubahan iklim saat ini yang kian lama tak menentu. Ketika musim hujan misalnya, pasokan air melimpah ruah hingga terjadi banjir. Namun ketika kemarau datang, sulitnya mencari setetes air sungguh bukan main.

Kenampakan masalah air bersih hingga kini masih terus diatasi. Banyak hal yang telah dilakukan pemerintah dan beberapa lembaga masyarakat yang mengkampanyekan pentingnya air bagi kehidupan. Upaya yang dilakukan di antaranya penghijauan untuk mengatasi minimnya air masuk ke dalam tanah, kampanye untuk tidak menggunakan air secara berlebihan, menutup kran bila tidak sedang digunakan, dan masih banyak lagi. Namun kenyataannya di lapangan masih sering ditemukan ketidakefisienan penggunaan air. Contohnya pada diri kita sendiri, sudahkah kita menutup kran ketika air di penampungan sudah penuh? Sudahkah kita menutup kran wastafel ketika sedang menggosok gigi?

Suatu kebiasaan terkadang sulit diubah ketika kita masih merasakan kenikmatan melimpahnya air. Namun, kita pun harus tahu diri bahwa di luar sana masih banyak orang yang kekurangan air. Jangankan untuk mandi, untuk minum pun sulit mendapatkan air bersih. Oleh karna itu, perlunya sikap semakin sadar bahwa air bersih tidak hanya untuk diri pribadi. Kita pun harus tahu bahwa anak cucu kita nanti masih membutuhkan adanya air bersih. Lantas segala cara penghematan air memang harus dilakukan. Mengurangi penggunaan air bersih dengan cara berprinsip seperti orang menabung. Layaknya menabung uang di bank, menyisihkan sebagian uang untuk bekal masa depan. Tabungan air bersih pun mungkin perlu dilakukan, dengan menyisihkan pasokan air untuk ketersediaan air bersih di masa yang akan datang.

Opini oleh Agc/Winduningsih Solihah

Source : coolimages4free

Print Friendly, PDF & Email
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Komentar

Orang berkomentar