Arah Laju Garuda bagi Teknologi Pertanian

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
131

Ibarat garuda tangguh, beberapa tahun terakhir baik Program Studi Teknik Pertanian (TEP) maupun Ilmu Teknologi Pangan (ITP) kian menunjukkan upaya guna meningkatkan mutunya dalam berbagai aspek. Isu perubahan nama prodi, segala persiapan menghadapi pra ke pasca akreditasi bersiklus kontinyu, pembentukan Fakultas baru, hingga perubahan gelar diperbincangkan khalayak mahasiswa. Keduanya mulai mengepakkan sayap dan terus melaju. Pasalnya,  kabar berdesir yang kian menghangat hingga tahun ini ialah perubahan kedudukan gelar dari Sarjana Teknologi Pertanian (STP) menjadi Sarjana Teknik (ST).

Di sayap kiri dari aspek akreditasi prodi Ilmu dan Teknologi Pangan yang baru diperbaharui tampak optimis. Contohnya pada penorehan prestasi, Nabila Faradina Iskandar berhasil memperoleh beasiswa penelitian dari Indofood Riset Nugraha, bersama Luluk Arum Mawar mahasiswi ITP 2013. Tak ketinggalan, Eka Permana mahasiswa 2013 dan Hilma mahasiswi 2012 ITP mendelegasai Winter Course dan International Conference di Ibaraki University, Jepang. Namun dari aspek perubahan gelar, tidak ada perubahan seperti tertera dalam lampiran Peraturan Rektor Universitas Jenderal Soedirman Nomor 17 Tahun 2016. Banyak faktor telah dipertimbangkan matang oleh pihak bersangkutan sehingga gelar prodi ITP tetap STP.

Di sayap kanan dari aspek menghadapi kadaluarsa akreditasi prodi Teknik Pertanian 8 Juni 2017, secara prestasi salah satu mahasiswa misalnya, Tri Irawan mahasiswa TEP 2012 unggul dalam berbagai kompetisi KTI Nasional hingga menyabet Unsoed Award pada Dies Natalies Unsoed ke-52 kategori Penalaran dan Riset. Dari segi perubahan nama prodi dan gelar, akhir dua tahun lalu Perhimpunan Teknik Pertanian Indonesia (PERTETA) dalam pertemuan di Surabaya tengah membahas Draft Nomenklatur Prodi se-Indonesia dengan tiga opsi yaitu Teknik/Rekayasa Pertanian dan Biosistem, Teknik/Rekayasa Pertanian, Mekanisasi Pertanian. Ketiganya masuk klaster teknik, artinya gelar bagi sarjana Teknik Pertanian se-Indonesia, tidak lagi STP. Hal ini diperkuat telak berdasarkan lampiran Peraturan Rektor Universitas Jenderal Soedirman Nomor 17 Tahun 2016 terpampang jelas perubahan gelar dari STP menjadi ST telah ditetapkan.

Satu kata ‘Teknik’ bertengger di kanan huruf berderet ‘Sarjana’ yang biasa berkonotasi ilmu teknik murni tentu masih terdengar asing dan baru bagi mahasiswa Teknik Pertanian umumnya yang tidak melulu membahas teknik dalam tiap mata perkuliahan. Meski khawatir menimbulkan polemik baru, suatu perusahaan dimana sarjana tersebut bekerja pasti tahu dimana menempatkannya melalui proses wawancara.

Dalam menghadapi anggapan masyarakat mengenai spesifikasi ‘Sarjana Teknik’ pada umumnya, perancang kurikulum tentu telah mengonsep sedemikian rupa melalui pematangan materi perkuliahan, seiring berpengaruhnya terhadap tuntutan pasar kerja. Seperti yang diungkapkan ibu Dr. Ir. Wiludjeng Trisasiwi, dosen TEP sekaligus pemegang PERTETA cabang Purwokerto dan sekitarnya bahwa penambahan muatan kurikulum harus ditambah, seperti muatan matematika di TEP. Pertimbangan penambahan persentase materi fisika juga perlu diadakan guna menghindari gesekan dari orang-orang Teknik Murni. Disini penindaklanjutan dosen berperan, sehingga diharapkan tidak kalah dengan sarjana teknik lain, tinggal bagaimana mahasiswa mengaplikasikannya dalam proses KBM.

Selain itu, Tri Irawan mengungkapkan bahwa mitrokontrol dari Pertanian ada di TEP, dan TEP satu-satunya yang membahas energi dan elektrifikasi pertanian. Jadi harus menguasai bidang prodi sendiri sehingga tidak perlu lagi khawatir kedepannya. Bagaimanapun, segala upaya tersebut mulai menegaskan hasil nyata, melalui aspek pembentukan Fakultas baru untuk kedua prodi yang telah melakukan penyelesaian naskah akademik sebagai syarat politis. Hasilnya akan dikirim ke Jakarta untuk ditindaklanjuti Kemenristekdikti.

Apapun gelarnya, merupakan prioritas untuk senantiasa menjaga kekompakan dan terus meningkatkan mutu dari berbagai aspek baik ITP maupun TEP, mulai dari internal ke eksternal, personal ke kelompok oleh segenap civitas akademika terkait. Langkah solutif bagi mahasiswa antara lain menyerap ilmu yang diperoleh dengan sebaik-baiknya. Mengutip novel 5 Menara karya Alif Fuadi, “Kami ikhlas mendidik kalian dan kalian ikhlaskan pula niat untuk mau dididik”, yakni layaknya burung garuda yang penuh percaya diri, energik dan dinamis, juga salah satu mahfudzat (kata mutiara berbahasa Arab), Man Jadda Wa Jada, Barangsiapa yang bersungguh-sungguh, maka ia akan berhasil. (SSY)

Print Friendly, PDF & Email
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
131

Komentar

Orang berkomentar