Mengenang Hari Pahlawan 10 November   

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Tiga ratus lima puluh tahun lamanya Indonesia dijajah. Dengan mudahnya mereka mencaci orang asli Indonesia yang biasa kita sebut sebagai pribumi. Para pribumi ini dipaksa bekerja hingga kelaparan bahkan meninggal. Kematian dan pertumpahan darah kala itu menjadi hal yang lumrah dan biasa. Mati tertembak peluru, kelaparan, atau bahkan mati karena tersiksa hampir selalu ada di zaman penjajahan. Pertumpahan darah di medan perang dan kematian menjadi hal yang wajar dan tidak lagi menakutkan. Mereka yang berjuang di medan perang adalah mereka yang kita sebut sebagai pahlawan. Tidak takut kematian, hanya mengharapkan sebuah KEMERDEKAAN untuk bangsa ini. Ketika kemerdekaan kita dapatkan, kembali diambil oleh para penjajah. Perang pertama yang terjadi setelah kemerdekaan Indonesia dikenal sebagai Perang Heroik Arek Suroboyo banyak menelan korban jiwa.

            Pertempuran ini bermula dari 18 September 1945 dengan pengibaran bendera Belanda (merah-putih-biru) di atas Hotel Yamato Surabaya. Saat itu bertepatan dengan pengibaran bendera merah-putih untuk perayaan kemerdekaan Indonesia. Hal ini memantik kemarahan bangsa Indonesia karena dianggap telah melecehkan kedaulatan bangsa. Kemarahan tersebut membuat massa berkumpul di lobby Hotel Yamato hingga terjadi perundingan antara pihak pemuda Indonesia yang diwakili oleh Sidik, Soedirman, dan Hariyono dengan pihak Inggris. Namun, pihak Inggris tetap bersikukuh tidak akan menurunkan bendera tersebut hingga akhirnya massa menerobos masuk ke atap hotel dan Hariyono berhasil menurunkan bendera Inggris. Bagian berwarna biru bendera Belanda dirobek dan dikibarkan kembali menjadi bendera merah-putih.

Setelah insiden di Hotel Yamato, pada tanggal 27 Oktober 1945 meletuslah pertempuran pertama antara Indonesia melawan tentara Inggris. Gencatan senjata di Surabaya terus berlanjut dan memuncak dengan terbunuhnya Brigadir Jenderal Mallaby yang merupakan pimpinan tentara Inggris untuk Jawa Timur. 30 Oktober 1945 sekitar pukul 20.30. Mobil Buick yang ditumpangi Brigadir Jenderal Mallaby berpapasan dengan sekelompok milisi Indonesia ketika akan melewati Jembatan Merah. Kesalahpahaman menyebabkan tembak-menembak yang berakhir dengan tewasnya Brigadir Jenderal Mallaby. Kematian Mallaby menyebabkan Inggris marah kepada Indonesia. Mayor Jenderal Eric Carden Robert Mansergh yang menggantikan Mallaby mengeluarkan ultimatum 10 November 1945, untuk meminta pihak Indonesia menyerahkan persenjataan dan menghentikan perlawanan pada tentara AFNEI dan administrasi NICA.

            Ultimatum juga menyebutkan bahwa semua pimpinan dan orang Indonesia yang bersenjata harus melapor dan meletakkan senjatanya di tempat yang ditentukan dan menyerahkan diri dengan mengangkat tangan di atas. Batas ultimatum adalah pukul 06.00 pagi tanggal 10 November 1945. Ultimatum tersebut kemudian dianggap sebagai penghinaan bagi para pejuang dan rakyat yang telah membentuk banyak badan-badan perjuangan/milisi. Ultimatum kemudian ditolak Indonesia dengan alasan Republik Indonesia telah berdiri, dan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) juga telah dibentuk sebagai pasukan negara. Selain itu, banyak organisasi perjuangan bersenjata yang telah dibentuk masyarakat, termasuk di kalangan pemuda, mahasiswa, dan pelajar yang menentang masuknya kembali pemerintahan Belanda yang diboncengi oleh tentara  Inggris.

Pada 10 November pagi, tentara Inggris dan sekutu mulai melancarkan serangan dan  mendapatkan perlawanan Indonesia. Ultimatum yang dikeluarkan pihak Inggris jelas membakar amarah para pejuang hingga menolak semua keinginan tersebut. Inggris besar-besaran melancarkan serangan dari udara, laut dan darat terhadap pasukan Indonesia dan rakyat Surabaya. Kendaraan tempur seperti pesawat dan tank semua dikerahkan untuk menghancurkan Surabaya. Serangan udara dengan menjatuhi bom daerah-daerah pemerintahan Surabaya jelas mengakibatkan banyaknya korban jiwa dari pihak Indonesia.

Perlawanan berlangsung alot, dari hari ke hari, hingga dari minggu ke minggu lainnya. Perlawanan rakyat yang pada awalnya dilakukan secara spontan dan tidak terkoordinasi, makin hari makin teratur. Pertempuran ini memakan waktu sekitar tiga minggu. Setidaknya 6,000-16,000 pejuang Indonesia tewas dan 200,000 rakyat sipil Surabaya mengungsi. Sedangkan korban dari pasukan Inggris kira-kira sejumlah 600-2000 tentara. Pertempuran berdarah di Surabaya memakan ribuan korban jiwa menggerakkan perlawanan rakyat di seluruh Indonesia untuk melawan. Banyaknya pejuang yang gugur dan rakyat sipil yang menjadi korban pada hari 10 November selanjutnya dikenang sebagai “Hari Pahlawan”oleh Republik Indonesia.

Hingga kini, masih berdiri saksi bisu pertempuran 10 November yaitu Hotel Yamato di Surabaya sebagai tempat terjadinya perobekan bendera yang sekarang bernama Hotel Majapahit. Selain itu juga terdapat bekas mobil Mallaby yang terbakar terkena ledakan granat yang menyebabkan jenazah Mallaby sulit dikenali. Serta juga terdapat rekaman pidato yang Bung Tomo.

Pertempuran 10 November memiliki peran yang begitu besar untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Menggeloranya pidato Bung Tomo dalam radio RRI membangkitkan semangat juang pemuda Surabaya untuk mengusir para penjajah dari tanah air. Pilihan MERDEKA ATAU MATI dan takbir yang dikumandangkan Bung Tomo menghidupkan kembali semangat juang yang berapi-api dalam jiwa pemuda Indonesia yang sempat redup karena kegelisahan banyak pihak. Meski banyak menelan korban jiwa, keinginan para pahlawan demi kemerdekaan untuk bangsa ini terus berkobar.

Tanpa semangat juang dari mereka, mungkin Indonesia masih berada dalam kekuasaan Inggris, mungkin proklamasi bangsa pada 17 Agustus 1945 lalu hanya formalitas angan para pejuang. Harapan bahwa kemerdekaan yang utuh dan sejati telah ada sejak pengakuan atas kedaulatan bangsa yang diproklamirkan 17 Agustus 2017. Sehingga semangat juang untuk mempertahankan kemerdekaan akhirnya berhasil mempertahankan kota Surabaya selama kurang lebih 3 minggu lamanya.

Selamat hari Pahlawan 2017.

Diaktiva Asmarandani Sugiyanta  *Mahasiswa Agroteknologi 2016

 

 

Karikatur: Agc  Kezia

 

 

Print Friendly, PDF & Email
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Komentar

Orang berkomentar