Mendongkrak Produksi Melalui Intensifikasi dan Ekstensifikasi

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Indonesia dikenal sebagai Negara dengan daerah yang beriklim tropis dan beriklim pendek dengan fotoperiode 12 jam, pada saat musim tanam pangan tiba, berbagai komoditas pertanian, salah satunya kedelai, akan mendapatkan sinar matahari dengan rata-rata 12 jam per hari. Paparan sinar matahari ini sangat di butuhkan kedelai untuk pertumbuhan dan perkembangannya, khususnya dalam menentukan besarnya produktivitas biji. Namun di negara subtropis seperti Amerika Serikat, memiliki panjang hari fotoperiode antara 13-14 jam sehingga tanaman kedelai yang ditanam disana akan mendapatkan sinar matahari lebih lama dibandingkan dengan iklim tropis seperti Indonesia sehingga hasil bijinya pun akan berbeda. Produksi kedelai di dunia masih didominasi oleh negara subtropis seperti Amerika Serikat dan Brasil yang menguasasi 60% produksi dunia karena Negara-negara tersebut memiliki iklim subtropis yang optimal untuk penanaman kedelai.
Produktivitas kedelai di Indonesia rata rata masih 1,3 ton/ha yang lebih rendah di bandingkan Amerika Serikat dan Brasil yang produktivitas per hektarnya sudah melebih 2 ton per ha. Jumlah kebutuhan kedelai dalam negeri pun cukup besar sekitar 2 juta. 1,3 juta ton untuk bahan baku tahu dan tempe, 0,6 ton untuk bahan kecap dan susu kedelai serta 0,05 juta ton untuk benih.
Tahun
impor ( juta ton )
2007
1,199
2008
1,37
2009
1,2
2010
1,739
2011
1,81
Badan pusat statistik 2011
Laju impor Indonesia dari tahun ke tahun mengalami peningkatan yang luar biasa. Oleh karena itu upaya meningkatkan produksi kedelai harus dilakukan dengan sungguh sungguh dan konsisten. Jika tidak, cadangan devisa pemerintah akan semakin berkurang hanya untuk impor kedelai dari Negara lain. Langkah yang bisa di tempuh untuk meningkatkan produksi kedelai dalam negeri adalah dengan melalui ekstensifikasi dan intensifikasi. Ekstensifikasi ini dikenal sebagai suatu upaya untuk meningkatkan produksi kedelai dengan cara menambah areal luas tanam kedelai yang ada di Indonesia. Intesifikasi adalah meningkatkan produksi kedelai melalui peningkatan produksi per satuan luas.
Luas lahan di Indonesia yang digunakan untuk areal penanaman kedelai dari tahun ke tahun semakin berkurang. Hal tersebut diakibatkan oleh laju alih fungsi lahan yang tinggi dan semakin berkembangnya industri di pulau jawa serta meningkatnya pembangunan non pertanian. Oleh karena itu, upaya ekstensifikasi ini di arahkan ke lahan di luar pulau jawa seperti Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi yang kita tahu luas areal pertanian di pulau tersebut cukup luas di bandingkan pulau jawa yang sudah semakin padat.
Di samping itu, perluasan areal kedelai yang di tanam di luar jawa juga akan mengalami hambatan karena tanah di luar jawa banyak yang memiliki sifat masam. Sifat masam ini akan menyebabkan hambatan pertumbuhan pada kedelai terutama karena keracunan alumunium. Pada tahun 1995 Universitas Jenderal Soedirman khususnya Fakultas Pertanian telah melepas varietas unggul kedelai yang toleran terhadap tanah masam serta toleran keracunan alumunium. Varietas ini diberi nama varietas slamet. Dengan hadirnya varietas slamet ini di harapkan mampu memperluas areal penanaman kedelai di Sumatera, Kalimantan, maupun Sulawesi karena varietas slamet ini toleran terhadap tanah masam.
Berdasarkan data dari Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian (balitkabi, 2013) diperoleh informasi bahwa varietas kedelai slamet dan kedelai sindoro merupakan varietas yang potensial yang dikembangkan di daerah-daerah dengan tingkat kemasaman tanah yang tinggi.
Pencetakan sawah di luar jawa untuk areal penanaman kedelai masih terbatas, jadi sebagian kedelai hanya di tanam pada lahan kering. Namun masalah yang dihadapi pada penanaman kedelai di lahan kering, karena tingkat ketersediaan air yang kurang, khususnya pada musim kemarau. Berkaitan dengan hal ini pemuliaan tanaman juga dituntut untuk bisa menghasilkan varietas unggul kedelai yang toleran terhadap kekeringan.
Kebutuhan kedelai yang begitu tinggi berbanding terbalik dengan kemampuan dalam negeri untuk meningkatkan produksi. Upaya peningkatan produksi secara makro dapat dilakukan dengan menstabilkan harga kedelai pada tingkat yang baik (menguntungkan petani). Langkahnya adalah dengan membatasi impor secara bertahap dan perlahan lahan. Apabila harga kedelai baik, dalam arti menguntungkan petani maka petani akan bergariah menanam kedelai. Dengan demikian, luas areal penanaman kedelai akan semakin bertambah dan selanjutnya akan meningkatkan produksi kedelai baik secara perseorangan maupun secara nasional.
Perubahan iklim global dan alih fungsi lahan mengakibatkan pergeseran areal pertanian termasuk kedelai yang biasa ditanam di sawah pada kondisi musim tertentu menjadi tergeser ke musim lain. Kedelai yang semula banyak di budidayakan di lahan subur mulai dikembangkan di lahan lahan marjinal (Sub optimal) yang memiliki banyak permasalahan baik berupa cekaman biotik maupun abiotik
Kebutuhan masyarakat terhadap kedelai begitu tinggi. Karena kedelai salah satu sumber protein nabati di masyarakat Indonesia juga telah berkembang. Saat ini kedelai tidak lagi hanya digunakan sebagai bahan baku tahu dan tempe tetapi sudah memasuki industri pangan, pabrikan dalam berbagai bentuk seperti susu kedelai yang banyak dikonsumsi oleh balita dan orang dewasa yang alergi terhadap susu hewani, kecap yang menghendaki biji kedelai dengan warna kulit hitam. Makanan ringan dengan ukuran besar dan lain sebagainya.
Perbaikan varietas kedelai yang sesuai dengan perkembangan manusia akan dievaluasi terhadap sifat-sifat tertentu pada plasma nutfah kedelai yang telah ada. Sehingga akan memberikan khasanah pengetahuan baru, mengenai keunggulan spesifik varietas. Hal tersebut sangat mendukung strategi peningkatan produksi kedelai di Indonesia khususnya terkait dengan ekstensifikasi ke lahan-lahan marjinal.

Di samping itu harus di atur pula tata niaga kedelai supaya harga (makro) menguntungkan bagi petani serta melakukan pengurangan impor secara bertahap. Permasalahan lain muncul karena politik dan polse dari pengambil kebijakan tentang impor dari pemerintah yang kurang mempercayai kemampuan dalam negeri. Petani digalakkan dan dibangkitkan supaya menanam kedelai dan kebijakan impor di batasi secara bertahap. Bagaiaman cara menjaga harga jual kedelai dalam kondisi yang baik dan menguntungkan petani, berupaya keras untuk meningkatkan produktivitas kedelai melalui upaya intesifikasi dan ekstensifikasi.

Prof. Dr. Sunarto M.S

Oleh : Prof. Dr. Sunarto  M.S ( Profesor dan Guru Besar Emertus Fakultas Pertanian Unsoed)
Print Friendly, PDF & Email
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Komentar

Orang berkomentar