Keputusan Tanpa Menilik Kemanusiaan

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

“Manusia dikutuk untuk bebas,” begitulah Filsuf Jean Paul Sarter mendeskripsikan kebebasan. Manusia bebas berbuat dan melakukan apa saja sesuai kehendaknya. Namun, bukan berarti manusia tidak memperhatikan etika kemanusiaan.

Belum hilang dari ingatan masyarakat Indonesia tentang tragedi 1998 dan terbunuhnya Munir Saaid Thalib. Kejadian tersebut merupakan pelanggaran Hak Asasi Manusia salah satu terbesar di Indonesia bahkan di dunia. Kasus tersebut hingga sekarang belum bisa terselesaikan.

Baru-baru ini Presiden Amerika Serikat Donald Trump, menyatakan dan mengakui sepihak bahwa Ibukota Israel adalah Yerusalem. Keputusan Trump melanggar resolusi Dewan Keamanan dan Majelis Umum PBB bahwa status Yerusalem adalah kota bersama antara Palestina dan Israel yang tertera di dalam Resolusi PBB Nomor 181 Tahun 1947. Tentunya keputusan sepihak Trump akan menyebabkan ketegangan global yang bisa memicu konflik internasional dan akan menggagalkan rencana perdamaian antara Palestina dan Israel. Hal ini bisa dilihat sebagai tindakan yang melanggar Hak Asasi Manusia (HAM)

Trump berdalih hal tersebut adalah langkah dan taktik baru dalam mendekatkan Palestina dan Israel agar melakukan perundingan perdamaian. Bukti yang beredar berbanding terbalik dengan alasan Trump, lebih banyak bukti bahwa Trump melakukan hal tersebut untuk memenuhi janji kampanye kepada Yahudi Amerika pro-Israel yang menjadi massa politisnya. Ini  mengartikan bahwa Trump ingin menepati janji yang selalu gagal dilakukan oleh Presiden Amerika terdahulu.

 HAM yang dilanggar Trump masuk dalam pelanggaran HAM Kejahatan Terhadap Kemanusiaan karena perbuatannya dianggap membahayakan warga sipil Palestina. Poin pelanggaran berbentuk perampasan kemerdekaan yang dimana Trump telah sewenang-wenang membuat keputusan yang melanggar Resolusi PBB. Setinggi apapun jabatan Trump tindakan adalah bentuk perampasan kemerdekaan tanpa dasar.

 Pernyataan Trump tentunya membuat segala pihak terperanjat termasuk Indonesia. Pemerintah Indonesia mengecam keras pengakuan sepihak Trump terhadap Yerussalem sebagai Ibukota Israel. Pemerintah dan masyarakat Indonesia tetap konsisten bersama Masyarakat Palestina dalam memperjuangkan kemerdekaan seperti yang tertera dalam Pembukaan UUD 1945. Sikap Pemerintah dan masyarakat Indonesia sesuai dengan tema Hari Ham 2017 yaitu “Satu Bumi Tanpa Diskriminasi”.

Sebagai masyarakat yang menjunjung tinggi HAM, perlulah mendukung sikap dari Pemerintah Indonesia dalam mengecam pengakuan sepihak Trump. Keputusan yang diambil Trump tentunya melanggar HAM dengan mendererai mental jutaan melalui pengakuannya. Seperti yang dikatakan oleh Munir Saaid Thalib, “Tidak seharusnya terdapat klaim yang dapat diterima ketika mempertahankan integrasi negara dengan cara mengingkari penghormatan HAM”. Meskipun seperti itu, perlu kepala dingin dalam menghadapi masalah seperti ini, agar tidak terpancing dan tidak menimbulkan perpecahan.

Selamat Hari HAM 10 Desember

Hormati dan junjung tinggi HAM agar tercipta perdamaian antar Negara.  

 

Riva Saiful Rizal* Mahasiswa Agroteknologi 2016   

Karikatur: Agc/Kezia

Print Friendly, PDF & Email
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Komentar

Orang berkomentar