Kemana Kau, Kartini Masa Depan?

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
2

Banyak orang yang mengaku kebebasan perempuan sudah terlaksana. Tahun 1904 adalah tahun kesedihan untuk warga Jepara pada masa itu. Jelas saja, salah satu pelopor wanita pada masanya meninggalkan dunia untuk selamanya. Namun atas dasar kegigihan dan perjuangannya mengedepankan hak perempuan hingga saat ini, Kartini masih dalam kenangan.

Berkat apa yang dilakukan Kartini, kini kita dapat merasakan hasilnya. Namun banyak orang bilang hidup tak semulus kisah ftv. Layaknya buah yang sudah dipetik harus dilakukan perlakuan pasca panen begitu pun perjuangan Kartini. Kita sebagai bangsa Indonesia bukan hanya tinggal menikmati saja hasil perjuangan Kartini. Kita harus peka terhadap lingkungan kita. Hingga sekarang, apakah dampak dari perjuangan Raden Ajeng Kartini atau yang seharusnya dipanggil Raden Ayu Kartini sudah kalian rasakan? Apakah semua yang diperjuangkan Kartini sudah berjalan dengan semestinya? Apakah simbol persamaan gender dan emansipasi wanita yang dicanangkan pelopor wanita Indonesia sudah berjalan dengan baik? Tentu tidak. Mungkin semua sudah berjalan dengan lancar seperti kelihatanya. Namun coba buka matamu sejenak apa semua wanita sudah mendapatkan haknya dengan baik dan benar

Mungkin tameng emansipasi wanita dan persamaan gender menjadi gemboknya, tapi apakah hal sekecil itu masih diperhatikan? Apa kamu pernah mendengar “cat calling”? Ya, ini adalah sebutan untuk seseorang yang bebunyian atau keributan kepada seseorang di depan publik yang membuat orang itu tidak nyaman. Mungkin secara tidak sadar kalian semua khususnya wanita pernah merasakan hal ini seperti “mau kemana neng?”sendirian aja?”mau ditemenin gak?”tau kah kamu, hal-hal kecil seperti itu sudah disebut pelecehan seksual. Banyak yang tidak menyadari bahwa yang orang itu lakukan sudah termasuk pelecehan seksual, membuat rasa tidak nyaman atau sakit hati. Sudah sepantasnyakah “kalian” melakukan hal seperti itu? jika itu pujian tolong sampaikan dengan cara yang baik begitupun kalau itu ejekan juga jangan disampaikan di depan publik.

Hal kecil seperti cat calling belum bisa dihilangkan dari keseharian kita. Mirisnya negeriku, ku teringat setiap tahunnya masalah mengenai pelecehan seksual, pemerkosaan ketidakadilan terhadap wanita kerap berdatangan. Lalu, apa yang kita lakukan? Hanya mengatasnamakan slogan-slogan perjuangan Kartini? Dan berdiam diri dengan bayang-bayang slogan tersebut? “habis gelap terbitlah terang,”. Kemana kau Kartini muda? Kau hanya menikmati apa yang sudah diperjuangkan seseorang yang kau anggap pelopormu?

Wahai kau Kartini muda, apa yang kelak akan kau laksanakan?

Jika kau kartini muda ingatkan mereka yang masih belum menghargai wanita, tak sekedar slogan, mulailah menegur dengan cara sopan. Lakukan dari hal kecil. Kampanye yang marak di media sosial tentang cat calling coba tetap diteruskan diluar event hari kartini. Lambat laun, kebiasaan baru mudah-mudahan terbentuk.

“Pergilah, laksanakan cita citamu. Bekerjalah untuk hari depan. Bekerjalah untuk kebahagiaan beribu-ribu orang yang tertindas. Dibawah hukum yang tidak adil dan paham paham palsu tentang mana yang baik dan man yang jahat. Peri! Pergilah! Berjuang dan menderitalah tetapi bekerja untuk kepentingan Abadi”

-R.A. Kartini , 1901-

*Kharisma Bunga Pratiwi, Mahasiswa Agroteknologi 2014

foto : Ficky Himawan

Print Friendly, PDF & Email
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
2

Komentar

Orang berkomentar