Independensi Lembaga Pers Mahasiswa (Kemerdekaan Tanpa Intervensi)

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
21

Lembaga pers mahasiswa (LPM), lembaga pers yang dikelola mahasiswadi dalam kampus. Idealnya LPM berperan sebagai sarana bagi mahasiswa untuk menyalurkan ide kreatif dalam bentuk tulisan karya jurnalistik, menjadi pengawal dan alat perantara informasi antar civitas kampus. Selain itu, dapat menjadi wadah dalam mengembangkan pendapat mahasiswa serta memperjuangkan keadilan dan kebenaran.

Pada umumnya lembaga pers mahasiswa bersifat inpenden. Artinya,  bersifat bebas, merdeka, atau berdiri sendiri. Independen pers merupakan dasar sikap kemerdekaan berita dan penyampaian berita secara objektif. Didalam pelaksanaannya LPM tidak boleh di intervensi atau pengaruhi oleh kepentingan maupun pihak manapun.

Seolah – olah semuanya mengerti, namun faktanya dunia pers mahasiswa pernah dihebohkan dengan berita adanya penarikan majalah yang dihasilkan oleh LPM Lentera dengan judul Salatiga Kota Merah pada Oktober 2015, penarikan tersebut dilakukan oleh Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Komunikasi (FISIKOM) Universitas Kristen Satya Wacana. Majalah tersebut dianggap meresahkan karena mengangkat tema dampak peristiwa G30S PKI di kota Salatiga.1)Hal tersebut sampai diadukan kepada Komnas HAM karena diduga merampas kebebasan berekspresi dan hak menyebarluaskan informasi.2)

Pembatasan ruang gerak LPM dalam berbagai bentuk seperti tindakan intimidasi, diskriminasi, pelarangan diskusi hingga pembredelan media, maupun intervensi demi kepentingan salah satu pihak,hal hal seperti itulah  yang menyebabkanruang independensi dari LPM sendiri terancam. Kasus lain seperti pembredelan buletin Expedisi edisi pra ospek hasil karya jurnalistik dari LPM Ekspresi yang dilakukan Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) pada tahun 2014 3)dan adanya intimidasi yang terjadipada Agustus 2016 terhadap reporter LPM Himmah UII oleh oknum di dalam lingkungan UII4)menjadi bukti masih banyaknya kasus yang mengancam keberlangsungan LPM. Banyak pihak yang hingga saat ini berpikiran bahwa keberadaan LPM merupakan sebuah ancaman yang dapat merusak citra mereka di mata publik.

Padahal perlu diketahui bahwa sejatinya adanya karya jurnalistik LPM merupakan bentuk kebebasan berpendapat dan kebebasan berpendapat tersebut dijamin dalam Pasal 28 Undang-Undang Dasar 1945. Selain itu ada Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers dan di dalam pasal 18 ayat 1 UU No. 40 Tahun 1999 menyatakan bahwa :“Setiap orang yang secara melawan hukum dengan sengaja melakukan tindakan yang berakibat menghambat atau menghalangi pelaksanaan seperti penyensoran, pembredelan atau pelarangan penyiaran (sesuai ketentuan Pasal 4 ayat (2)) termasuk menhambat atau menghalangi pers untuk mencari, memperoleh, dan menyebarluaskan gagasan dan informasi (sesuai Pasal 4 Ayat (3)) dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun atau denda paling banyak Rp. 500.000.000,00 (Lima ratus juta rupiah)”

Dengan adanya Undang Undang yang sah, lembaga pers mahasiswa tidak perlu merasa khawatir ataupun takut dalam menjalankan tugasnya sebagai media pers yang independen dan tidak memihak.Dalam memperingati hari kebebasan pers internasional yang jatuh pada tanggal 3 Mei ini lembaga pers mahasiswa. Sudah selayaknya meningkatkan kualitas menjadi media intelektual yang menjunjung tinggi kode etik jurnalistik dan bertanggung jawab, serta senantiasa membahas permasalahan yang harus diperjuangkan kebenarannya untuk memperoleh keadilan. Bersifat independen dan bebas dari intervensi. Hal itu dapat terwujud dengan cara melaksanakan reportase yang jujur tidak menutupi keterangan narasumber dan memberitakan sesuai dengan keadaan. Selain itu LPM berani untuk mempertanggungjawabkan hasil karya jurnalistiknya yang memang berdasar fakta.

oleh : Savira Kusumadewi *Mahasiswa Agribisnis 2016

Sumber data :

Sumber foto : M.Replubika.co.id

Print Friendly, PDF & Email
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
21

Komentar

Orang berkomentar