Green Campus, Let’s Moving On

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Hari ini, dan beberapa hari sebelumnya komplek Unsoed terasa berbeda. Berbagai macam spanduk bekas banner yang dibalik tiba-tiba majang di seantero kampus, kampus depan, kampus belakang, kampus Margono, bahkan kampus Blater pun tak mau ketinggalan, bertuliskan #SoedirmanMelawan. Ya, ini adalah sebuah aksi protes terhadap apa yang terjadi pada UKT saat ini di Unsoed.

Ini semua bermula dari dikeluarkannya Permenristekdikti No. 22 Th 2015. Akibatnya perhitungan ulang terhadap BKT (Biaya Kuliah Tunggal)1 dilakukan di kampus-kampus. Mestinya ini menjadi awal yang baik untuk UKT yang lebih transparan. Sayangnya tidak setiap kampus mengikutsertakan mahasiswanya. Pun keikutsertaan mahasiswa hanya pada ranah kesepakatan, bukan keikutsertaan mengawal. Alhasil, UKT di hampir setiap fakultas di Unsoed naik!

Lalu bagaimana dengan kampus pertanian? Dekanat dan mahasiswa sepakat bahwa kenaikan untuk UKT tertinggi, yang berada di level 8, besarnya adalah 50% dari BKT tiap program studi. Agroteknologi merupakan program study dengan BKT paling tinggi di Faperta, yaitu sebesar Rp. 10.112.000, sehingga UKT level 8 nya sebesar Rp 5.056.000. Naasnya, dari 176 mahasiswa baru pertanian jalur SNMPTN sebagian besar masuk dalam level 8.

Peraturan menteri tidak hanya berhenti disitu, disebutkannya bahwa Perguruan Tinggi diperbolehkan menarik uang pangkal pada mahasiswa baru yang memalui jalur mandiri, kelas internasional, jalur kerjasama dan mahasiswa asing juga menjadi polemik. Bagaimana tidak, mahasiswa baru yang sudah tercekik UKT yang naik mesti dibebani juga dengan uang pangkal. Meskipun Rektor Unsoed, Achmad Iqbal pernah mengatakan bahwa uang pangkal di Unsoed dibayar dengan besaran yang sukarela, tapi beberapa fakultas tetap memberikan batas minimal uang pangkal yang disumbangkan. Sebut saja kedokteran yang nilainya mencapai 9 digit.

Kemudian apa masalahnya dengan kita yang sudah menjadi mahasiswa di Unsoed? Kawan, pendidikan adalah hak semua manusia, terserah dia mau berduit atau tidak. Bukankah negara sudah mengaturnya dalam UUD 1945, katanya “Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan”. Pendidikan sudah disebutkan sebagai hak, maka negara berkewajiban memenuhinya, pada jenjang mana pun itu. Pada kenyataannya hanya SD saja yang baru digratiskan.

Oleh sebab itu kawan, kita sedang membantu negara untuk memenuhi hak nya. Menolak UKT yang mahal dan menolak diterapkannya uang pangkal dapat memperbesar kemungkinan adik-adik kita mengenyam pendidikan tinggi, siapa pun dia, bagaimana pun kondisi keuangan keluarganya. Selama dia warga negara Indonesia dia berhak mendapatkan pendidikan.

Kemudian pertanian mulai bergerak, meski sedikit merangkak. Ini awal yang baik untuk kampus hijau dengan kultur yang sedemikian rupa.

Ini bukan tentang aku yang melakukan doktrin terhadap mu. Bukan pula tentang kita yang bergerak karena teman/kampus lain di Unsoed juga bergerak. Bukan tentang UKT yang sedang in, hingga kita tidak mau kalah update. Ini tetang mimpi bahwa setiap orang dapat memilih untuk kuliah atau tidak, bukan karena keadaan yang memaksanya tidak kuliah. Ini tentang kepedulian. Jangan tiba-tiba lupa arti kepedulian. Karena adik kita, sedang menunggu bantuan tiba. Maka aku menggumu, bergerak di depan mata Sang Jenderal Soedirman.

Karena aku adalah kamu. Aku peduli, kamu pun begitu, kita Faperta Unsoed.

1Biaya yang dibutuhkan mahasiswa hingga menyelesaikan study (kurang lebih selama 4 tahun), dibagi jumlah semester yang ditempuh

Oleh : Nisa Lutfiana

           *Anggota LPM Agrica 2013 / Mahasiswa Agroteknologi 2013

           

Print Friendly, PDF & Email
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Komentar

Orang berkomentar