Momentum Hari Pangan Dunia, Hidupkan Kembali KRPL !

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
3

Hari pangan dunia merupakan peringatan untuk mengingat kembali dibentuknya organisasi pangan dan pertanian dunia Food and Agriculture Organization (FAO) pada tanggal 16 Oktober 1945 di Quebec City Kanada . Organisasi ini didirikan untuk menaikkan tingkat nutrisi dan taraf hidup,  meningkatkan produksi, proses, pemasaran dan penyaluran produk pangan dan pertanian, mempromosikan pembangunan di pedesaan; dan melenyapkan kelaparan. Hal ini mengingat kondisi dunia pada saat itu tengah mengalami kekacauan pasca meletusnya perang dunia ke-II.

Hingga saat ini,  FAO sudah memiliki 189 negara anggota dengan aktivitas utama FAO terkonsentrasi pada 4 bagian yaitu Bantuan Pembangunan untuk negara-negara berkembang, Informasi mengenai nutrisi, pangan, pertanian, perhutanan dan perikanan, nasihat untuk pemerintah dan mengadakn forum netral untuk membicarakan dan menyusun kebijakan mengenai isu utama pangan dan pertanian.

Mengusung tema “Our action are our future” dengan tagline #Zero Hunger World By 2030 is Possible,  semangat untuk menghilangkan kelaparan pada tahun 2030 dikobarkan.  Terkhusus pemerintah Indonesia, moment peringatan hari pangan dunia terfokus pada isu pemanfaatan lahan rawa supaya produktif. Upaya ini diterapkan pada lahan rawa yang ada di daerah Kalimantan Selatan. Diharapkan, aksi ini dapat menunjukkan kepada dunia bahwa kemampuan Indonesia dalam memanfaatkan lahan non optimal/lahan marginal merupakan suatu inovasi.

KRPL

Namun,  tulisan ini tidak membahas upaya pemanfaatan lahan rawa yang sedang dilakukan oleh pemerintah saat ini. Melihat kebelakang, jauh sebelum adanya aksi pemanfaatan lahan rawa, upaya untuk memanfaatkan lahan potensial sudah dilakukan oleh pemerintah Indonesia. Salah satu aksi tersebut yaitu adanya program Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL). Program KRPL sudah di inisiasi oleh pemerintah sejak tahun 2010. Pada dasarnya KRPL didefinisikan sebagai rumah yang memanfaatkan pekarangan secara intensif melalui pengelolaan sumberdaya alam lokal secara bijaksana, yang menjamin kesinambungan persediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas, nilai dan keanekaragamannya.

Program ini untuk mengoptimalisasi pemanfaatan lahan pekarangan sebagai upaya mewujudkan ketahanan pangan. Hal ini mengingat jumlah lahan pertanian biasa menurun jumlahnya setiap tahun. Prinsip dasar KRPL adalah: (1) pemanfaatan pekarangan yang ramah lingkungan dan dirancang untuk ketahanan dan kemandirian pangan, (2) diverifikasi pangan berbasis sumber daya lokal, (3) konservasi sumberdaya genetik pangan, dan menjaga kelestariaannya melalui kebun bibit desa menuju peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat. Inti dari program ini ialah mendorong masyarakat untuk melakukan budidaya tanaman pada lahan pekarangan baik untuk konsumsi pribadi maupun untuk komersial.

Model Kawasan Rumah Pangan Lestari merupakan percontohan dalam solusi ketahanan pangan. Beragam teknologi dipakai dalam program pangan lestari. Teknologi dalam program ini adalah konvensional yang diperbaharui, konvensional karena model ini merupakan model yang sudah dilakukan masyarakat sejak zaman eksisting yang kemudian diadaptasikan dengan teknologi yang sudah maju. Melalui Program ini setiap Rumah Tangga dapat memenuhi kebutuhan pangan yang mendasar, seperti sayur-sayuran dan bumbu dapur. Diversifikasi pangan diperuntukan guna menguatkan ketahanan pangan nasional. Ini dilakukan untuk mengurangi permintaan dan ketergantungan bahan pangan pokok beras, selain itu juga untuk memperbaiki mutu pangan yang dikonsumsi agar beragam, berimbang dan bergizi.

Salah satu penerapan dari diversifikasi pangan yaitu penanaman umbi garut sebagai bahan sumber karbohidrat. Berbagai program/kegiatan baik langsung maupun tidak langsung yang terkait dengan diversifikasi pangan telah digulirkan di Indonesia, namun demikian hasil belum sesuaiu harapan. Tingkat konsumsi penduduk masih bertumpu pada pangan utama beras. Capaian skor Pola Pangan Harapan (PPH) belum sesuai harapan yang ideal. Program/kegiatan diversifikasi pangan perlu disiapkan dengan perencanaan secara holistik dan terintegrasi, mulai dari hulu (budidaya) hingga hilirnya (pemasaran produk), serta dengan target capaian yang jelas.

Konsep ketahanan pangan dapat dipadukan dengan konsep agribisnis, artinya setelah tercukupinya kebutuhan pangan maka surplus hasil produksi pekarangan dapat dijual. Untuk pangan pokok sebagai sumber karbohidrat diutamakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga yang bersangkutan, sementara untuk tanaman hortikultura (sayur dan buah) selain untuk kebutuhan rumah tangga dapat diarahkan untuk dijual, oleh karena itu disarankan agar membudidayakan komoditas yang sesuai dengan agoekosistem setempat dan bernilai tinggi.

Beberapa contoh yang mungkin sudah banyak diterapkan yaitu adanya budidaya tanaman sayuran dengan sistem hidroponik. Penerapan hidroponik di pekarangan rumah terbukti dapat menghasilkan sayuran yang berkualitas dan memiliki nilai jual. Mengingat potensi ekonomi dari upaya tersebut perlu dibangun kelembagan pemasaran yang mantap untuk menampung hasil pekarangan tersebut, kerjasama pemasaran output.

Menghidupkan kembali program KRPL merupakan hal yang perlu dilakukan sebagai alternatif program-program lain. Hal ini mengingat program ini mudah diterapkan dan dilakukan oleh masyarakat. Betapa tidak,  pekarangan rumah merupakan objek yang paling dekat dengan masyarakat.  Baik masyarakat yang berada di daerah pedesaan maupun daerah perkotaan.

Selain itu  adanya peran serta masyarakat  tentunya akan meringankan tanggung jawab  pemerintah dalam memenuhi kebutuhan pangan bagi warga negaranya. Program ini juga dapat mengubah pola hidup masyarakat konsumtif menjadi lebih produktif. Dengan kondisi tersebut upaya untuk menghilangkan kelaparan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat akan tercapai. Oleh karena itu, marilah kita manfaatkan pekarangan rumah kita untuk kegiatan budidaya tanaman sesuai dengan kondisi lingkungan kita tinggal.

Selamat Hari Pangan Dunia 2018

“Our action are our future”

Fikri Rojaba *Mahasiswa Perencaan dan Sumberdaya Lahan 2017

Gambar : fao.org

Print Friendly, PDF & Email
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
3

Komentar

Orang berkomentar