Dilema Mengangkat Kembali Luka Lama

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

“Darah itu merah Jenderal, seperti amarah!”. Itulah sepenggal dialog dalam Film Pengkhianatan G30S/PKI yang masih terngiang hingga saat ini. Film karya sutradara Arifin C. Noer yang dirilis pada tahun 1984 sekarang tengah menjadi buah bibir di media massa. Dilatarbelakangi perintah  Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo mengenai  pemutaran film Pengkhianatan G30S/PKI secara serentak, membuat beberapa pihak bereaksi.

Dua Versi Sejarah G30S/PKI           

Menilik sejarah G30S/PKI, banyak versi yang menceritakan runtutan kejadian sebenarnya dari peristiwa tersebut. Ada dua versi terkenal mengenai peristiwa G30S/PKI,  pertama  peristiwa ini murni direncanakan  dan dijalankan oleh  PKI yang dipimpin oleh D.N Aidit dkk. Versi inilah yang kemudian dijadikan dasar pembuatan film Pengkhiantan G30S/PKI pada masa Orde baru. Versi ini menerangkan bahwa PKI memusuhi Angkatan Darat  akibat ditolaknya usulan  pembentukan Angkatan Kelima1. Selain itu, adanya isu Dewan Jenderal2   yang beranggotakan Jenderal A.H Nasution, Jenderal  Ahmad Yani,  Letjend  Suprapto, Letjend  M.T Haryono, Letjend  Siswondo Parman, Mayjend  D.I Panjaitan, Mayjend  Sutoyo Sisiwomiharjo turut serta melatarbelakanginya. Berdalih ingin menyelamatkan Negara dan Presiden Soekarno, meletuslah G30S/PKI. Pasukan Tjakrabirawa dibawah perintah Kolonel Untung melakukan penculikan dan pembunuhan. Mereka yang dituduh Dewan  Jenderal ditemukan tewas. Beruntung  bagi Jenderal A.H Nasution yang lolos dalam penculikan tersebut, mesikipun anak dan pengawalnya turut menjadi korban. Kolonel Untung kemudian mengumumkan adanya pembentukan Dewan Revolusi3 melalui siaran RRI yang sudah mereka kuasai. Namun, gerakan ini tak bertahan lama, dibawah komando Mayjend Soeharto, keadaan yang semula genting dapat segera dipulihkan.

Setelah Orba jatuh pada 1998  kebebasan berdemokrasi menjadi lebih luas, muncul pihak yang memberikan versi yang berbeda dari versi pertama. Versi kedua menyatakan bahwa rentetan kejadian G30S/PKI bukan hanya diperankan oleh PKI, melainkan internal AD juga terlibat. Diantara beberapa petinggi ABRI pada saat itu, nama Mayjend Soeharto dicurigai. Adanya pelaporan Letkol Doel Latief kepada  Mayjend Soeharto mengenai gerakan 30 September menjadi cerita baru.  Mayjend Soeharto dinilai sudah mengetahui rencana gerakan tersebut semalam sebelum meletus. Sikapnya yang cenderung diam dan membiarkan membuat dirinya dicurigai. Dugaan ini semakin kuat dengan tidak adanya pengadilan terhadap orang-orang PKI seperti Aidit ketika upaya penumpasan dilakukan. Mereka yang diduga terlibat G30S/PKI banyak yang langsung dieksekusi tanpa pernah bersaksi. Tidak adanya pengadilan menggiring opini bahwa terdapat sesuatu yang disembunyikan Mayjend Soeharto sebagai Pangkopamtib mengenai fakta sebenarnya gerakan tersebut.

Isu G30S/PKI Saat Ini

52 tahun berlalu , isu PKI ternyata masih hangat bahkan cenderung memanas. Adanya dugaan bahwa PKI bangkit menjadi topik panas akhir-akhir ini.  Pihak yang mengatasnamakan korban peristiwa ‘65 muncul ke publik.  Mereka menuntut supaya peristiwa tahun ‘65 diluruskan.  Didalam era digital yang sangat luas, isu-isu sensitif seperti itu dapat menimbulkan suatu kehebohan. Tak mau masyarakat khususnya kaum muda lupa akan kejadian ’65, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo menginisisai pemutaran kembali film Pengkhianatan G30S/PKI secara serentak. Perintah ini kemudian menjadi Polemik.

Bagaikan dua sisi mata uang, perintah  pemutaran tersebut menimbulkan pro dan kontra.  Mereka yang  pro berpendapat bahwa pemutraran film itu perlu dilakukan agar generasi muda tahu akan peristiwa kelam tahun ‘ 65 itu. Muncul anggapan akan sangat berbahaya apabila generasi muda tidak mengetahui sejarah peristiwa ’65. Selain itu, mereka juga beranggapan bahwa pelajaran sejarah mengenai peristiwa ’65 didalam bangku sekolah belumlah cukup apabila hanya sekedar membaca. Ketidaktahuan generasi muda akan peristiwa ’65 dinilai dapat membahayakan masa depan bangsa. Ketakutan ini bukan tanpa sebab, karena apabila suatu bangsa tidak dapat belajar dari sejarah kelamnya, maka bukan tidak mungkin peristiwa tersebut dapat terulang kembali.

Disisi lain, mereka yang kontra berpendapat bahwa film tersebut tidak relevan karena mengandung kebohongan dan sarat akan kepentingan politis zaman Orde Baru (Orba). Mereka berpendapat bahwa film Pengkhianatan G30S/PKI sarat akan kebohongan. Seperti adegan penyiksaan yang tidak sesuai fakta serta adanya anggapan bahwa film tersebut terlalu menyudutkan PKI. Selain itu, banyaknya adegan kekerasan juga dinilai tidak pantas untuk ditonton oleh anak-anak. Mereka yang menolak juga ingin kebiasaan-kebiasaan yang ada di zaman orba untuk tidak dilakukan lagi.

Masyarakat sebagai objek yang merasakan dampak dari isu ini tentu semakin resah. Ketidakjelasn mengenai kebenaran fakta peristiwa ’65 membuat masyarakat menjadi bingung. Disini penulis berpendapat, bahwa penayangan film Pengkhianatan G30S/PKI jangan terlalu diributkan. Terlepas dari banyaknya adegan yang tidak sesuai dengan fakta, yang jelas peristiwa tersebut benar-benar terjadi. Penculikan dan pembunuhan terhadap jenderal juga benar-benar terjadi. Penulis juga berpendapat, bahwa upaya untuk mencari siapa dalang “sesungguhnya” dibalik peristiwa G30S/PKI pasti tidak akan pernah selesai. Hal ini dikarenakan saksi sejarah serta bukti-bukti sejarah yang sudah tidak ada. Terlepas dari peristiwa G30S/PKI, Ideologi PKI memang tidak sesuai dengan ideologi bangsa. Peristiwa Madiun 1948 misalnya, disitu jelas-jelas PKI melakukan upaya untuk menganti ideologi bangsa. Sehingga pertanyaan mengenai PKI sesuai atau tidak, pasti jawabannya tidak.

Sebagai generasi muda yang tidak mengalami langsung peristiwa tersebut, mempelajari peristiwa tersebut sangatlah penting. Dengan adanya kemajuan teknologi, keterbukaan informasi tentulah dapat membantu kita untuk mempelajarinya. Selain itu, dengan adanya keterbukaan informasi juga dapat membantu kita dalam mencari fakta dari berbagai sisi. Dengan begitu, dalam menerima informasi menjadi lengkap dan berimbang.  Informasi yang lengkap dan berimbang inilah sebagai bekal guna menghayati peristiwa ini secara utuh agar peristiwa seperti G30S/PKI tidak terjadi dimasa yang akan datang.

 

Angkatan Kelima : Angkatan yang diisi oleh petani dan buruh yang dipersenjatai

Dewan Jenderal : Kelompok Jenderal yang diduga akan melakukan kudeta pada 5 Oktober 1965

Dewan Revolusi : Struktur pemerintahan baru yang dibentuk setelah peristiwa G30S/PKI meletus

 

 

Kevin Tsalatsaa* Mahasiswa Agroteknologi 2016

Sumber gambar: NetZ.com

Print Friendly, PDF & Email
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Komentar

Orang berkomentar