DAIVA

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
    Aku menjauh dari bangku tua itu. Bangku tua yang selama tujuh tahun tidak pernah berubah posisinya. Pohon beringin tua di sampingnya pun tetap setia menemaninya, seolah tahu dia sedang kesepian. Disitu, tempat aku dulu sering bercerita pada angin, berkeluh kesah pada langit, dan tempatku mengamati dari kejauhan seseorang yang sekarang aku tak tahu dimana rimbanya.
Langit Bandung sore ini tidak secerah biasanya. Semilir angin dan dedaunan yang berguguran ini tidak pernah asing bagiku, kembali mengusik memori otakku. Tiba-tiba aku terbayang masa lalu, masa-masa ketika semuanya terasa baik-baik saja, ketika dia memberiku sebuah kotak berisi pesan perpisahan. Ya, lagi-lagi bangku tua itu jadi saksinya.
Aku hendak beranjak pergi. Namun sesuatu memaksaku untuk kembali mendekati bangku tua itu. Masih teringat jelas, sebuah goresan kecil yang aku buat di sudutnya, ketika aku masih SMA. Goresan yang mungkin orang-orang tak pernah tahu artinya, karena itu hanyalah dua buah huruf yang sama–DD. DD adalah inisial nama kami, Delia dan Daiva. Aku tersenyum dalam hati. Ternyata setelah sekian lama goresan ini tidak pernah hilang. Andai, seseorang yang namanya telah kugoreskan ini, tidak pernah menghilang. Tuhan, aku merindukannya.
“Del..” seseorang menepuk pundakku dari belakang. Ternyata Vivian, sahabatku.
Aku menoleh dan hanya tersenyum.
“Lagi nostalgia ya? Bandung still the same, right?”
“Hmm, kota yang penuh kenangan. Apalagi sekolah ini, taman ini.” Jawabku.
“Apa kamu belum bisa melupakannya?” tanya Vivian.
“Sudahlah, jangan bahas itu lagi.” balasku sambil beranjak pergi.
***
Malam semakin larut, namun mata ini belum juga mau terpejam. Pikiranku terbang jauh entah kemana, menyusuri jalan-jalan kecil menuju masa lalu. Aku teringat perkataan Vivian tadi sore. Apakah aku benar-benar belum bisa melupakannya? Entahlah.
Aku membetulkan posisi tidurku. Cahaya redup kamarku membuatku semakin terlena, mencoba mengingat-ingat kenangan tujuh tahun silam. Kenangan yang mungkin akan selalu berujung pahit, namun mengingatnya adalah candu untukku. Satu nama itu tak pernah mau lepas dari benakku. Daiva, dimana kamu sekarang? Seperti apa rupamu sekarang? Mengapa kamu pergi tanpa pamit? Apakah…. Ah, sudahlah.
Aku lelah. Lelah dengan semua kenyataan bahwa kita tidak mungkin bisa bertemu lagi. Aku lelah. Aku lelah berharap dengan sesuatu yang tak pasti. Aku lelah. Aku lelah dengan segala abu-abu yang ada pada dirimu, Daiva.
***
Daiva, laki-laki pertama yang mampu menarik perhatianku. Kala itu aku masih awal duduk di kelas XI bangku SMA. Mengenal cinta adalah sesuatu yang baru bagiku. Yang aku tahu, jatuh cinta itu menyenangkan. Mencintai seseorang pastilah akan terasa begitu indah. Aku dan Daiva, merasakan hal yang sama. Namun, cinta kami tak pernah terucap oleh kata. Diam, hanya diam yang mampu dia tunjukkan, yang membawa kisah kami sampai sejauh ini.
Aku tidak akan pernah lupa hari itu, ketika seisi kelas meneriaki Daiva dengan namaku. Ketika untuk pertama kalinya aku melihatnya begitu gugup dan berlari tanpa arah menjauhiku.
“Ada apa, Vi?” tanyaku pada Vivian yang sedari tadi berada di kelas.
“Itu.. Daiva, Del…dia ternyata..” jawab Vivian terbata.
“Daiva kenap….” belum selesai aku bertanya, Vino temanku menimpali dengan lantang
“Tadi kita nggak sengaja buka-buka catatan harian Daiva, penuh coretan nama kamu, Del. Daiva suka kamu. Hahahahah.”
Aku hanya diam.
***
Aku kembali membetulkan posisi tidurku. Lucu sekali jika mengingat kejadian itu. Daiva, anak laki-laki berwajah tampan itu, menyukaiku. Sungguh lucu, mengetahui seseorang yang kita sukai juga menyukai kita. Mungkin kami jodoh. Aku sempat berpikir seperti itu. Ah, anak kecil. Tahu apa soal jodoh.
Dua tahun berlalu. Dua tahun itu pula aku tidak pernah mendapatkan kejelasan atas kejadian yang setidaknya sudah membuatku sulit tidur berminggu-minggu. Kejadian dimana Daiva tertangkap basah menaruh hati padaku. Aku bingung dengan seseorang bernama Daiva. Sejak kejadian itu, dia tidak pernah menatapku diam-diam lagi. Dia tidak pernah tertunduk malu lagi ketika aku memergokinya sedang memandang ke arahku. Dia tidak lagi seperti dulu. Tuhan, andai dia tahu, aku juga menyukainya.
***
Ponselku berdering. Panggilan masuk dari Vivian membuyarkan lamunanku. Susah payah kuraih ponsel yang kuletakkan di atas meja di samping tempat tidurku.
“Halo?”
“Halo, Del? Besok kamu free kan? Jam 10 pagi aku tunggu di cafe biasa ya. Wajib datang. Titik. See you.”
Tut….tut….tut….
Seperti itulah Vivian. Tanpa ba bi bu. To the point. Langsung pada intinya. Singkat, padat dan jelas jika ingin mengatakan sesuatu. Ya Tuhaaaan, andai Daiva bisa seperti ini. Astaga! Daiva lagi.
***
Kuletakkan kembali ponselku di atas meja. Namun belum sampai, ponselku terjatuh. Kuraih ponselku di lantai. Tiba-tiba perhatianku tertuju pada kotak berwarna ungu muda yang sudah usang dan berdebu di bawah tempat tidurku. Kubersihkan kotak itu perlahan. Aku tidak yakin untuk membukanya kembali. Aku takut. Aku takut perasaan sedih itu muncul lagi. Namun ku kumpulkan keberanian untuk membuka kembali kotak itu.
Isinya masih sama. Secarik kertas tak bergaris warna putih tulang dengan gambar hati berwarna merah di sudut kiri atasnya, dan sebuah buku catatan kecil berwarna biru tua.
Kubuka lipatan-lipatan lusuh kertas itu, kubaca lagi.
Cinta itu memang indah dan sangat indah
Keindahan cinta bisa membuat seseorang menjadi tak berdaya
Aku tahu itu semua
Namun entah mengapa aku masih saja sulit mengungkapkannya
Perasaan takut selalu saja ada di pikiran ini
Aku tak ingin kehilangan dirimu
Karena bagiku kehadiranmu sangat berarti
Aku ingin berhenti menjadi seorang pemuja
Entah kapan aku melakukannya
Daiva.
Batinku membuncah. Apakah sesulit itu menyatakan cinta? Lalu apa arti dua baris terakhir itu? Apakah kamu menyerah?
Pipi ini terasa hangat. Tak terasa air mataku menetes. Kotak ini dari Daiva. Dia memberikannya padaku ketika hari perpisahan kala itu. Dia mendekatiku ketika aku sedang duduk sendiri di bangku taman belakang sekolah. Dengan tersipu dia memberikan kotak itu lalu pergi tanpa kata meninggalkanku.
***
Alarm ponsel membangunkan tidurku pagi ini. Gerimis kecil yang terdengar lirih menambah suasana sendu pagi ini. Jika tidak ada janji dengan Vivian, rasanya malas sekali melangkahkan kakiku ke kamar mandi.
Dengan berdandan seadanya, aku menuju tempat yang dimaksud Vivian. Aku tidak berpikir banyak. Jika tidak ingin sekadar mengobrol, mungkin Vivian ingin mengatakan sesuatu yang tidak bisa dia katakan lewat telepon.
Lima belas menit perjalanan dari rumah, aku sudah sampai di cafe yang biasa kita kunjungi. Namun tak kudapati sosok Vivian di tempat favorit kami, di bagian paling belakang dengan jendela menghadap ke jalan.
Aku duduk di tempat biasa. Aku tak berfikir apa-apa. Yang aku pikirkan Vivian pasti datang terlambat, seperti biasa. Mataku lurus memandang ke luar jendela, masih gerimis.
Lamunanku pecah seketika saat pelayan cafe mengantarkan secarik kertas padaku. Kertas berwarna merah jambu yang sudah terlipat rapi.
Dengan segera kubuka lipatannya, lalu terbaca satu kalimat yang sudah pernah aku baca sebelumnya. Satu kalimat yang tertulis di halaman pertama buku catatan kecil berwarna biru tua itu.
Izinkan aku membaca nada-nada di dalam jiwamu, untuk kunyanyikan saat kau mungkin sudah lupa lirik-liriknya.
Tanpa aba-aba aku menoleh ke belakang. Seorang pria yang wajahnya sangat tidak asing bagiku, melambaikan tangan padaku seraya tersenyum begitu indah. Kita bertemu lagi, Daiva.
                                                                                                                                   Oleh : Annita Fasikh (Agrica 2011)
Print Friendly, PDF & Email
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Komentar

Orang berkomentar