Terimakasih untuk Sang Hujan

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
3311

Rintik hujan perlahan jatuh membuat embun di setiap jendela kaca.  Sedang aku masih duduk termangu, resah.  Ku pandang selembar foto, tampak raut bahagia yang sengaja dibuat-buat didepan kamera. Aku dan teman-temanku mengenakan putih abu-abu, mengelilingi sosok tegap namun mulai keriput  itu, Ia adalah wali kelas pertama kami di masa SMA dan sayangnya satu tahun itu sebagai pertemuan pertama dan terakhir bagi kami. Foto perpisahan yang tengah ku pandang itu diambil saat momen Ia pensiun.

“Bagaimana bisa kalian menjadi pecundang? Kalian semua anak cerdas, tapi hanya malas belajar. Jika ingin jadi orang besar siapa yang harus dilawan? Ya, diri kalian sendiri,” Kata – kata itu selalu ku dengar ketika aku dan teman-teman lainnya melalukan kesasalah atau sekedar mendapat nilai jelek, khususnya nilai fisika. Begitulah beliau, wali kelas kami seorang guru fisika yang cerewet namun penuh perhatian. Seperti halnya sosok ayah di sekolah, tidak melulu Ia jejalkan angka-angka di otak kami, namun selalu ada petuah dan motivasi yang kemudian dilontarkan.

Hampir dua tahun berlalu seakan kami kehilangan sosoknya, hanya sekedar kabar pun kami begitu buta. Setelah Ia tak lagi di sekolah, tidak ada lagi kata marah yang tulus itu, tidak ada lagi sosok yang tanpa ragu berbagi kisah dari awal perjuangannya sampai berakhir menjadi guru. Bagi kami Ia adalah guru yang sesungguhnya “digugu dan ditiru” begitulah orang jawa mendefinisikan seorang guru.

“Putri, fotonya udah dipasang bingkai belum?”  Suara cempreng itu seketika membuyarkan lamunanku

“iya Aqila, sedang dalam proses, hehe” bohongku.

Semua orang tampak sibuk, memang kelas sudah berakhir namun tidak ada satupun dari kami yang pergi meniggalkan sekolah. Bukan karena diluar hujan, hanya kami sedang merencanakan sesuatu yang sangat kami nanti. Untuk tahun terakhir di SMA, kami tidak ingin menyia-nyiakan momen hari guru ini.

“Bagaimana bunganya? Sudah selesai?” tanya Aqila

“Sebentar lagi.” Jawab icha

“ oke, dipercepat ya cha. Nisrina, bagaiman kuenya?”

”sebentar Qil, karena hujan dari tokonya belum bisa antar kesini”.

“Aduuuh, udah makin sore nih nanti kelamaan. Hujannya udah agak reda kok, gimana kalau anak cowok aja langsung ambil kuenya di toko, jangan nunggu dianter!”

“iya deh,” Akhirnya Andi mengalah untuk mengambil kue yang telah dipesan.

Sebagai ketua Kelas kami,  Aqila menjadi strong women yang selalu dapat diandalkan.  dia menjadi yang tersibuk, mondar – mandir dan terus berteriak untuk memastikan semuanya berjalan dengan sempurna. Walaupun sangat cerewet, tapi dia memang yang terbaik.

Setelah semua persiapan selesai, dan hujan telah reda akhirnya kami berkonvoi  bersama menuju alamat wali kelas pertama kami, Pak Chandra. Perjalanan yang tidak sebentar pun kami tempuh dan  akhirnya  tiba di kediaman beliau. Kami coba memberikan salam, mengetuk pintu, sampai memencet bel rumah, namun hasilnya nihil. Hampir saja kami menyerah, setelah melihat betapa senyapnya situasi rumah beliau.

guys, hujannya mulai turun lagi.” Celetuk Satria

“wah iya, mulai gerimis lagi. Amankan kue nya!” perintah Bahar.

Alhasil kami sibuk sendiri melindungi kue tart dari air hujan. Rasanya sangat kecewa kalau – kalau kejutan yang telah kami siapkan akan gagal begitu saja. Beberapa dari kami ada yang berusaha berputar melewati gang sempit untuk sampai di pintu belakang kediaman Pak Chandra, dan benar saja tampaklah sosok sepuh yang masih saja bersemangat berkutat dengan angka-angka kesayangannya. Di usianya sekarang beliau tetap membuka les privat matematika dan fisika untuk anak-anak SD dan SMP. Bukankah sangat membosankan?  tapi entahlah karena memang pada dasarnya aku sama sekali tidak tertarik dengan yang berbau fisika.

Dengan hati-hati kami mengendap-endap ke pintu belakang, dan menemui Pak Chandra. “KEJUTAAAAAN!!!!” kami menyodorkan kue lengkap dengan lilin kepadanya. Kemudian tanpa ragu ia meniup lilin yang menyala, memadamkannya sebelum kalah dengan hujan.

Pak Chandra  masih tampak begitu heran dan bingung, apa yang aku pikirkan? Hanya takut beliau sudah tak mengenali kami lagi. Namun, ternyata aku salah besar, sedetik kemudian Ia mulai meneteskan air matanya. Tak percaya dengan apa yang di depan mata, Ia terus berterimakasih dan tak lupa bertanya kenapa kami memeberinya kejutan. Ya, cukup dimaklumi karena beliau sudah tak muda lagi, di tanggal 25 November ini bahkan Ia lupa kalau hari ini peringatan hari guru.

Hujan semakin deras, buru-buru Ia mempersilahkan kami masuk ke rumah. Sekali lagi kami ucapkan selamat hari guru padanya. Setelahnya, kami hanya menyimak dengan saksama dan manggut- manggut saja ketika ia menaik turunkan intonasi bicaranya. Seperti kilas balik waktu ia masih senantiasa berbagi cerita dan petuahnya kepada kami, dan kami sangat merindukan ini.

Sekarang giliranku menunaikan tugasku yang terakhir, membacakan puisi untuknya. Sudah cukup lama, dan sangat canggung. Baris pertama puisiku, ku ibaratkan beliau sebagai salju pertama yang turun sebagai seorang yang selalu kami nanti.

“Bapak ngga ingin jadi salju,” protesnya.

“Kenapa Pak?” tanyaku penasaran, dan cukup menegangkan, takut telah menyinggung beliau.

“Bapak lebih suka jadi hujan, hujan itu menyejukkan, hujan itu berkat dan hujan itu dekat”

Kami cukup terharu mendengar kata-kata beliau, yang sedari awal kami jengkel dengan hujan yang hampir menggagalkan kejutan ini, sampai kami tersadar bahwa kami harus bersyukur dengan adanya hujan, hanya saja aku heran dengan keliamat terakhir, mengapa hujan itu dekat?.

“Kalian tinggal dimana? Di Indonesia, kan? Di Indonesia ngga ada salju, adanya hujan. Kalau bapak jadi salju kan jauh, ngga ada di Indonesia.”

Selain perhatian dan nasihatnya, humornya yang selalu membuat kami berfikir dahulu sebelum akhirnya dapat tertawa juga sangat kami rindukan. Di hari – hari senjanya, semangat itu tetap berkobar pada dirinya. Harapannya hanya ingin diberi hidup lebih panjang dan dapat melihat kami menjadi orang-orang besar katanya. Beberapa strategi sempurna untuk masa depan ia bagikan, ia berkata kami harus menyelesaikan apa yang telah kami mulai dan jangan pernah melupakan orang yang berada dibekalang kesuksesan kami. Tentu saja aku dan teman-teman tidak akan melupakan guru kami. Terimakasih untuk semua guru dan selamat hari guru.

Oleh: Gita Putriyani*

*Mahasiswi Agroteknologi 2018

Gambar: Agc/Syifa

Print Friendly, PDF & Email
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
3311

Komentar

Orang berkomentar