Kasih Malam Natal

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
1

Angin malam bulan Desember begitu terasa tenang. Bulan setengah di atas, hadir setelah sekian lama tertutup oleh kelabu. Lelaki dengan sweater coklat tua memandang ranting pohon yang sedang damai. Sesekali mengusap mata, melihat damainya ranting itu membuat kenangannya di masa lalu kembali hadir. Suara langkah-langkah kecil, teriakan tawa canda dan tangisan kembali terngiang di telinganya. Bayang-bayang segala perilaku masa lalu kini hadir kembali. Ia kini duduk di kursi penuh kenangan, berharap semua yang kini telah hilang itu kembali walau hanya sesaat.

“Yahh… itu semua sudah berlalu…” seorang remaja berbadan tegap bak atlet, duduk termangu di teras rumah dengan tatapan tak berarah.

“Kak, Naya lapar,” ujar gadis kecil berambur pendek, berjalan keluar menuju teras rumahnya,

“Sabar ya Naya, sebentar lagi Ibu datang,” timpal Gatra, seseorang yang dipanggil dengan sebutan ‘kak’ oleh gadis kecil bernama Naya. Diseberang jalan, wanita dewasa dengan anggunnya berjalan kearah rumah sederhana berwarna biru muda.

“Yeayyy,,, Ibu datang!!” ucap Naya dengan girang. Mereka pun masuk untuk mempersiapkan makan malam serta merayakan Christmas Eve dengan penuh bahagia.

Suasana damai menyelimuti ruang makan. Pohon natal berhias lonceng-lonceng kecil, tak lupa pula bintang penuh kilau dipucuknya yang telah siap untuk menyambut hari kelahiran Tuhan Yesus Kristus.

“Bu, natal kali ini kita tak bersama Ayah lagi?” ucap Naya penuh harap. Wanita yang dipanggilnya Ibu itu menengadahkan kepala, menatap langit-langit rumah sejenak,

“Naya, Ayah kan bekerja untuk kita. Ingat kan apa yang dikatakan Ayah?” ujar Natalie, wanita itu kembali bertanya kepada gadis kecilnya,

“Huftt,,, iya Ibuu.. Naya ingat, tapi Naya juga ingin di malam dan hari natal bisa bersama Ayah seperti teman-teman Naya yang lain,” jawab Naya masih dengan tatapan harap yang memilukan.

“Naya, sudah. Jangan buat Ibu bingung, Naya sudah besar kan sekarang? Ayo makan terlebih dahulu, nanti kakak nyanyikan sebuah lagu khusus untuk Naya,” timpal Gatra penuh tegas namun terselip kasih sayang kepada adik kecilnya itu. “Huffttt…” dengus Naya sembari menyuapkan sesendok nasi ke dalam mulut mungilnya.

Christmas Eve atau malam natal, malam penuh damai yang telah mereka nantikan, kembali mereka rasakan tanpa adanya sosok Ayah yang telah empat tahun lamanya mereka nantikan. Gatra yang telah menjanjikan sebuah lagu untuk adik kecilnya itu, mulai mengambil gitar yang tersandar disebelah sofa. “Jrengg…” petik demi petik ia bunyikan mengiringi suara merdunya.

“Tok.. tok…” ketukan pintu terdengar memecah kedamaian malam natal. Gatra dengan sigap berdiri dan berjalan kearah pintu, terbesit pertanyaan ‘siapa yang datang saat malam natal seperti ini ?’, tangan kekarnya memegang gagang pintu kemudian membukanya. Pria tampan, dengan guratan pada wajah, menunjukkan umurnya yang sudah mulai tak muda lagi. Pria yang sekilas terlihat seperti Gatra tersebut langsung memeluk Gatra tanpa sepatah kata terucap dari mulutnya.

“Ayah…” sepatah kata pertama terucap dari mulut Gatra. Air mata tak terbendung lagi. Sekian detik suasana haru menyelimuti dua lelaki itu.

“Gatra, siapa yang datang?” Tanya Natalie ketika sadar anak lelakinya itu diam tanpa suara. Gatra jalan bersama Petro, seseorang yang ia panggil dengan sebutan ‘Ayah’. Naya yang sedang mengunyah makanan, seketika berhenti dan langsung berlari menghampiri Petro.

“Ayahhh…!! Naya rindu sekali dengan ayah,” ucapnya yang telah berada digendongan Petro. Haru dan senang mengelilingi ruang keluarga yang dipenuhi dengan cahaya temaram dari lilin-lilin kecil. Kesempurnaan sebuah keluarga kecil yang telah lama mereka rindukan, dalam sekejap datang melengkapi kebahagiaan malam natal. Cinta kasih tergambar pada tawa-tawa kecil keluarga itu.

“Terima kasih Tuhan atas cinta kasih yang telah Engkau berikan…” gumam Gatra dengan senyuman yang terlukis di wajahnya.

 

Oleh: Fikanian Sanusi*

*Mahasiswa Teknik Pertanian 2018

Print Friendly, PDF & Email
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
1

Komentar

Orang berkomentar