Apapun itu Kau

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Langit berwarna biru cerah dihiasi burung-burung yang berterbangan ceria. Di kejauhan beberapa anak kecil berlari-larian, saling mengejar, bermain riang, tertawa-tawa melewati bukit-bukit hijau nan permai. Alunan musik memabukkan; perpaduan biola dan piano yang dimainkan sejumlah orang di alun-alun kota. Aroma semerbak roti dan kue yang baru saja diangkat dari pemanggang bercampur dengan wangi bunga dari ladang luas di kaki bukit.

Amrita mengatupkan kedua matanya. Duduk memeluk lututnya. Menghayati.

Dalam renungannya Ia mendengar gemericik air sungai yang memanjang dari balik bukit melewati pinggir kota. Dipatrikannya segala aroma, nuansa, suara dan warna dalam ingatannya. Juga rumput-rumput hijau halus yang menggelitik telapak kaki telanjangnya tiap kali tertiup angin sepoi-sepoi. Sungguh Ia tahu, hari seindah ini tentu takkan terulang kembali.

Ah, mengapa dunia ini indah sekali?

Amrita menunduk memandangi selembar foto keluarga. Seorang bapak dan seorang ibu berdiri berdampingan dengan seorang gadis kecil yang tersenyum kaku, malu-malu. Amrita ingat, itu adalah kali pertamanya berdiri di depan kamera.

“Dunia indah sekali hari ini. Sayang sekali,” ujarnya lirih pada foto keluarga itu, seperti sebuah mantra. Ia bangkit dari duduknya, menyadari betapa Ia telah bertumbuh menjadi remaja sehat yang masih mirip dengan gadis kecil di fotonya, lalu merapikan rok dan blazer hitamnya yang ditempeli rumput, mengenakan kembali sepatu hak tinggi hitamnya. Berjalan lambat-lambat melalui jalanan-jalanan familier yang kini terasa asing, kembali ke rumahnya yang kini tak berpenghuni dengan membawa setangkai bunga.

****

09.20

Seorang pemuda membuka matanya.

Dia tengah berjalan melewati jalanan-jalanan kota persinggahannya kali ini. Anak-anak berlarian melewatinya. Lorong-lorong yang semerbak harum oleh aroma roti dan kue bercampur dengan wangi ladang bunga di kaki bukit. Penjual-penjual yang tersenyum ramah menawarkan dagangannya. Burung tengah menari-nari di birunya langit. Suara musik bergema dari alun-alun kota di mana beberapa orang turut berdansa.

Sungguh hari yang indah. Hari yang kata orang-orang takkan terulang kembali.

Pemuda itu berjalan pelan melintasi setiap petak batu jalanan. Tas punggung melekat erat di punggungnya yang berselimutkan jubah kusam. Memperhatikan bangunan-bangunan yang disukainya, suasana yang begitu menggugah kenangannya, langkah-langkah familier yang diayunkannya.

Dunia yang indah sekali. Rasanya sudah begitu lama sejak ia terakhir kali singgah di tempat seindah ini dengan suasana semegah ini. Entah berapa hari. Entah berapa bulan.

Si pemuda mengulurkan tangannya, berjalan pelan seraya menyusuri dinding-dinding batu tiap bangunan tua dengan ujung-ujung jemarinya. Mengingat teksturnya yang familier, menunggu-nunggu hingga dirinya sampai pada bukit hijau sejuk dengan angin angin sepoi-sepoi menerpa pipinya.

****

09.30

Amrita duduk di atas rerumputan hijau favoritnya lagi. Ia tak lagi mengenakan pakaian serba hitamnya karena prosesi telah selesai dilaksanakan tadi pagi. Bunga anyelir merah muda yang mulai layu masih juga digenggamnya. Dipandanginya bermenit-menit lamanya, meninggalkan dunia nyata.

“Anyelir merah muda. Aku akan selalu mengingatmu. Artinya sungguh manis, namun juga tragis.” Amrita menoleh ke arah sumbernya suara, menemukan seorang pemuda dengan jubah kusam, tersenyum kepadanya dengan hangatnya dengan mata yang mengingatkannya akan matahari terbenam; lelah namun tetap bercahaya. “Halo.”

Amrita tersenyum. “Halo,” jawabnya. “Jarang sekali kutemukan seorang pemuda yang mengerti bahasa bunga.”

Pemuda itu tertawa renyah, bertanya apakah dia boleh duduk di sebelahnya, yang dibalasnya dengan anggukan. “Aku bukannya tahu sebanyak itu kok. Salah satu kenalanku sering menjelaskannya padaku. Matanya berbinar-binar ketika bercerita. Senyumnya merekah indah.”

“Kenalanmu?” Amrita mengangkat alis. “Ah, tentu saja. Dari penampilanmu, kutebak kau seorang pengelana ya? Pasti kenalanmu banyak.”

Pemuda itu mengangguk. Entah kenapa ada kejanggalan dalam anggukannya, seakan dia terlalu sering melakukannya hingga hal itu terasa mekanis saja. Dia mengulurkan tangan kanannya. “Ten.”

Lagi-lagi Amrita mengangkat alis heran. “Namamu Ten? Seperti angka!” Ten tertawa terbahak-bahak lalu mengangguk. “Namaku Amrita,” balasnya seraya menyambut uluran tangan Ten untuk bersalaman. Ten tersenyum, mengangguk mekanis lagi.

Lalu pembicaraan mereka mengalir begitu saja dengan mudahnya. Ten bercerita tentang perjalanan dan persinggahannya. Tentang kota-kota yang ramah penduduknya hingga kota-kota yang membenci pengelana. Tentang kota di mana matahari begitu indahnya tenggelam di ujung lautan juga tentang kota yang dikelilingi pegunungan. Dia bercerita bahwa sesekali dia menemukan tempat indah yang tak terjamah, singgah di sana untuk satu malam lalu pergi melanjutkan perjalanan.

Amrita menanggapi dengan antusias, sejenak melupakan kepedihan yang dirasakannya beberapa hari belakangan. “Aku tak pernah pergi keluar dari kota ini,” katanya. “Suatu saat aku ingin berkelana juga. Dunia luar sana pasti indah.”

Ten mengangguk setuju. “Namun jika kau telah bepergian sejauh aku pergi, pasti kau akan merasakan dorongan untuk menetap di beberapa kota favoritmu.”

“Benarkah? Aku tidak bisa membayangkannya.”

“Ya. Dan sesekali kau akan kembali mengunjungi kota-kota yang pernah kaukunjungi sebelumnya karena dikuasai rindu.” Ten mengernyit sekilas, seperti kesakitan. “Seperti kota ini bagiku, misalnya.”

“Kau pernah ke sini sebelumnya?”

Ten menyeringai, mengulurkan tangannya untuk mengusap pelan ubun-ubun Amrita. “Tentu saja!” jawabnya. “Sulit rasanya untuk tidak kembali ke kota seramah dan seindah ini.”

Amrita menyengir senang. Kotanya memang tidak terlalu besar, namun sering jadi tempat persinggahan. Orang-orang ramah yang akan menyapa meskipun tak kenal. Taman yang indah. Suasana damai. Bukit-bukit yang permai. Amrita merasa bahagia dan bangga tiap kali mendengar para pengelana memuji kotanya. Ia begitu mencintai kotanya hingga sulit baginya untuk meninggalkannya dan berpetualang keliling dunia. Lagipula, sepeninggal orang tuanya sekarang, ia masih memiliki toko untuk diteruskannya.

“Memangnya toko apa?” tanya Ten saat Amrita bercerita.

“Toko bunga. Terlengkap di kota ini!” Ia mengucap bangga. “Ada di ujung jalan itu.”

“Oh, pantas saja kau tampak mengerti berbagai macam bahasa bunga!” Ten tergelak, kemudian menatap Amrita dengan sorot mata teduh menyejukkan, namun juga terlihat sedih. Nyaris seperti tahu. Nyaris seperti mengerti. Nyaris seperti prihatin atas kematian kedua orang tuanya.

Amrita berpikir apakah mungkin pengelana ini sudah mengetahuinya? Tentu, orang tuanya dikenal hampir seluruh penduduk di kota ini, jadi mungkin saja berita menyebar dengan begitu cepatnya, bahkan hingga sampai ke telinga pengelana ini.

“Maukah kau mampir ke tempatku sebentar? Aku akan menjelaskan lebih banyak lagi bahasa bunga padamu.” Amrita mengerahkan senyum terbaiknya. Sungguh permintaan egois, ia tahu, tapi lebih ringan rasanya jika melewati hari ini bersama orang lain dibandingkan sendirian saja.

Ten melakukan anggukan mekanis itu lagi, lalu beranjak berdiri. Mereka berjalan santai menikmati angin dan matahari. Dunia yang begitu indah di hari yang indah. Suasana yang kata orang belum tentu akan kita temui di esok hari juga.

****

10.45

“Jadi chrysanthemum merah ini sama artinya dengan mawar merah,” Amrita menjelaskan seraya menunjuk-nunjuk buket bunga yang berjejer rapi di depan toko. “Daisy, terutama yang berwarna putih, artinya kepolosan. Ah, dan ingat jangan pernah memberikan kekasihmu bunga anyelir berwarna kuning karena berarti penolakan!” Amrita tertawa bersemangat.

Ten menyimak dengan antusias, sesekali mengangguk dan tertawa saat mendengar celotehan dan nasihat Amrita tentang bunga-bunga yang memiliki arti negatif. Dibanding saat di bukit tadi, senyum Amrita sekarang merekah indah. Tulus dan bahagia. Ten menyadari betapa Amrita mencintai pekerjaannya yang dia warisi dari kedua orang tuanya ini.

Ten memperhatikan kala Amrita mengusap dan menghirup aroma dari beberapa tangkai bunga. Menghirupnya dalam-dalam hingga ia mengernyit pedih. Mungkin ia tengah mengingat aroma orang tuanya saat mereka masih berada di sini, menawar-nawarkan bunga, dan mengajarkan Amrita tentang indahnya tiap jenis bunga.

Si pemuda mengulurkan tangannya untuk meraih setangkai bunga Morning Glory berwarna putih bersih di rak sebelah kirinya. Amrita mengangkat alis ketika menyadari Ten yang bahkan tak mengalihkan pandangannya dari dirinya, uluran tangannya pada bunga itu begitu yakin dan mantap. Mekanis, Amrita menyadari. Seakan-akan dia sudah pernah–bukan, sudah sering berkunjung ke toko bunga ini dan tahu persis letak-letak bunga yang dijajakan.

Amrita tengah berusaha mengingat-ingat wajah-wajah pelanggan yang sering datang berkunjung ketika Ten menyelipkan bunga Morning Glory yang sudah setengah mengatup itu ke sela telinga kirinya. Ten tersenyum menatapnya. “Manis,” katanya. “Cocok untukmu.”

Amrita terpenjara dalam senyum hangat Ten. Senyum yang ramah dan familier. Ten terlihat seperti pemuda berumur dua puluh tujuh, dengan rahang kuat dan tatapan tajam orang dewasa. Janggut tipis menyelimuti dagu hingga rahangnya. Tiba-tiba saja Amrita teringat umurnya; tujuh belas. Ia mengernyit bingung.

Mungkin Ten memang sering datang ke toko ini dulu sebagai pelanggan, namun Amrita tak menyadarinya. Mungkin Ten sudah sering melihat Amrita setiap datang ke toko ini. Mungkin karena itu pula ketika Amrita tengah bersedih dan menangis di bukit hijau itu, Ten menyapanya. Mungkin teman yang Ten bilang pernah menceritakan banyak hal tentang bahasa bunga itu juga sebenarnya orang tuanya. Mungkin saja, bukan?

Mungkin saja hal itu menjelaskan rasa yang berkecamuk dalam diri Amrita. Rasa yang begitu akrab seperti telah dikenalnya bertahun-tahun.

Amrita berandai-andai apakah Ten tahu arti dari bunga Morning Glory. Jika ya, Amrita berandai-andai apa maksud dari Ten.

“Entah kenapa aku suka sekali bunga Morning Glory,” kata Ten memecah hening. “Bunga yang kusukai setelah Milkvetch.”

Amrita tersenyum. “Milkvetch. Kehadiranmu mengurangi rasa sakitku. Bunga yang indah.” Jarinya kembali memainkan kelopak bunga Daisy merah yang merekah indah. Matahari menyilaukan muncul dari ujung-ujung bangunan berlantai tiga. “Teh?”

Ten membalas senyumnya, lembut berkata, “Tentu saja. Secangkir teh di hari yang indah, aku akan senang sekali.”

****

12.45

Amrita mengobrol dengan Ten begitu seru dan begitu lama, waktu berlalu terlalu cepat. “Oh, ya ampun, sudah jam segini! Biar kusiapkan dulu makan siang kita.” Ten hendak mencegahnya, tapi Amrita bersikeras. Akhirnya Ten tertawa dan mempersilakan, menunggu dengan sabar seraya membuka buku jurnal kecilnya.

Ten membuka halaman pertama yang berisi tulisan-tulisan rapinya. Dia memang suka mencatat hal-hal yang direnungkannya dalam perjalanan, juga menggambar sketsa akan benda-benda dan suasana indah yang ditemuinya.

Ten membalik-balik tiap halaman dengan sabar dan tenang awalnya, namun ritmenya semakin cepat dan raut wajahnya mulai berubah. Pedih dan tersiksa. Tulisan-tulisan beserta ilustrasi yang awalnya rapi dan indah mulai berubah menjadi coretan kasar dan tak terbaca. Dari awalnya begitu banyak yang dibahasnya hingga hanya beberapa kalimat singkat saja dengan huruf besar-besar dan berantakan.

Napasnya tertahan ketika sampai di halaman terakhir. Ditandainya dengan bookmark bunga milkvetch putih yang dilaminating. Halaman itu penuh bercak hitam tinta. Kusut dan kotor. Tulisannya nyaris tak terbaca. Hanya satu kata.

Satu kata.

“Maaf menunggu lama!” Jurnal Ten terjatuh karena terkejut. Ketika dia hendak memungutnya, kaki kanannya tak sengaja menendang jurnal itu menjauh hingga sampai di ujung kaki Amrita yang sedang membawa dua piring besar sandwich ayam dan salad. Amrita meletakkan kedua piring di atas meja. “Maaf, kuharap kau tidak keberatan dengan menu ini saja. Aku tak pandai memasak.” Dia tertawa. “Ah, apakah ini milikmu?” Amrita mengernyit membaca satu kata di halaman terakhir. “Ten? Kau suka menulis namamu sendiri di dalam jurnal ya?”

Ten menyambar cepat jurnalnya. Raut wajahnya tak terbaca, itu pun hanya sekilas, karena setelahnya dia tersenyum. “Kurasa begitu. Namaku begitu aneh hingga aku menyukainya!” Dia tertawa, tapi tidak dengan Amrita. Ia membelalak ngeri. Bukan pada Ten, melainkan pada sesuatu yang diingatnya, tapi tak benar-benar diingatnya.

“Sepuluh.” Amrita berbisik kasar, kalimatnya tak jelas. Kepalanya berdenyut. Ia tak tahu mengapa, tapi ia yakin tengah melupakan sesuatu.

“Amrita?” Panggilan Ten membuatnya terkejut. Itu kali pertamanya dia memanggil namanya. Amrita. Sungguh indah caranya melafalkan nama itu, Amrita menyukainya.

“Yuk makan!” Kemudian ia duduk di hadapan Ten, mengobrol tentang banyak hal. Hari yang indah. Sungguh, keduanya berharap waktu akan berbaik hati dan berhenti sejenak.

****

17.25

Mereka berjalan pelan menaiki bukit hijau asri itu lagi. Tertawa-tawa. Bahagia. Langit berwarna oranye dan merah. Semburat biru bercampur liar menciptakan garis-garis ungu. Matahari tenggelam perlahan. Burung-burung kembali ke sarangnya. Dunia beranjak senyap. Tak ada lagi musik yang mengalun di kejauhan. Tak ada lagi anak-anak kecil yang berlarian. Tak ada lagi aroma semerbak roti yang baru diangkat dari pemanggang.

Berganti lampu-lampu yang mulai dinyalakan. Suara-suara berganti senyap tawa dari kejauhan di mana sebuah keluaga berkumpul untuk menyiapkan makan malam bersama. Juga suara pintu yang terbuka lalu tertutup ketika seorang suami baru saja pulang dari kerjanya, kemudian istri dan anaknya menyambutnya.

Amrita tak memiliki kehangatan keluarga itu lagi. Ketika ia pulang nanti rumahnya gelap dan kosong. Buket-buket bunganya yang tersisa pasti sudah tidak segar lagi. Seandainya ayah dan ibunya masih ada, takkan pernah buket-buket bunga itu tersisa.

Amrita memandang matahari yang mengintip dari celah-celah ujung bangunan. Silau, tapi indah. Amrita berpikir apakah ia benar-benar harus pulang. Hari ini sungguh menyenangkan, Ten adalah orang baik yang memiliki segudang cerita, tapi belum tentu besok Amrita bisa merasa sebaik ini.

“Oh ya, di mana kau akan menginap?” tanya Amrita. Ia sedikit malu akan dirinya sendiri karena baru menanyakan hal sepenting ini di penghujung hari. Tapi sungguh, kehadiran Ten membuat segalanya terasa lebih ringan. “Kalau kau mau aku bisa mengantarkanmu.” Amrita menimbang-nimbang, lalu menambahkan, “Kalau kau ingin berjalan-jalan lagi besok juga aku akan dengan senang hati menemanimu.”

Ten tersenyum datar, lalu menggeleng pelan. “Aku hanya mampir sebentar. Aku tidak akan menginap.” Ten mengulurkan tangannya, mengusap-usap pelan rambut Amrita.

Amrita diam saja. Terperangah. Sesuatu yang berat menimpa bahunya, punggungnya, kepalanya. Sesuatu dalam dadanya menciut, rasa sakitnya tajam menusuk. “Hanya hari ini saja?” tanyanya pelan. Sebuah suara di dalam kepalanya meraung-raung, berkata bahwa ini hanya kebohongan. Hari ini sungguh menyenangkan, bersama Ten keadaan rasanya lebih ringan. Tapi bagaimana dengan besok?

Ten mengangguk. Kali ini tatapannya serius. Mungkin ada sesuatu dalam raut wajahku, pikir Amrita. Mungkin rasa kehilangan dan takut, atau rasa sakit dan sepi.

Ketika orang-orang berkata bahwa hari indah seperti hari ini takkan pernah terulang lagi, mungkin mereka benar. Mungkin Amrita takkan pernah bertemu dengan Ten lagi. Atau setidaknya akan melalui ratusan, ribuan hari tidak melihat wajahnya. Di hari-hari itu ia akan merasa sendiri. Sendiri yang sepi.

“Amrita?” Amrita takkan mendengar caranya melafalkan namanya lagi. Pelafalan yang berbeda dari cara orang-orang biasa memanggilnya.

Ten terus menggenggam buku jurnalnya di tangan kirinya, ditentengnya ke mana-mana seakan takut kehilangannya. Amrita mereka-ulang kejadian tadi siang, halaman penuh bercak hitam dengan sebuah kata “Ten” yang ditulisnya acak-acakan, seperti rasa depresi yang dituang dalam tulisan. Amrita mengira-ngira apa maksudnya. Mengapa rasanya seakan dia mengerti, tapi juga tidak mengerti di saat yang sama?

Amrita menimbang-nimbang apakah ia benar-benar harus pulang.

“Aku bisa pergi bersamamu,” ujar Amrita. “Ikut serta dalam perjalananmu.” Ketika raut wajah Ten tak juga berubah, Amrita mulai putus asa. “Lagipula aku memang sudah lama ingin pergi dari kota ini,”

tambahnya pelan, ragu. Amrita merasa segalanya begitu aneh. Ia baru mengenal pemuda ini tadi pagi, tapi rasanya seperti ia telah mengenalnya lama sekali.

“Aku tahu kau ingin tinggal di sini hingga akhir hayatmu,” balas Ten setelah sekian lama berdiam diri. “Menikah di sini, memiliki anak, meneruskan toko bunga keluargamu dan mewariskannya pada anakmu. Saat itu kau bercerita dengan mata berbinar. Bibirmu melengkungkan senyum bahagia. Itu sungguh impianmu.”

Amrita menatapnya bingung. Memang benar itu impiannya, tapi ia tak ingat pernah membahas tentang hal itu selama bersama Ten hari ini.

“Kau menyukai bunga dan bahasa-bahasanya,” lanjutnya. “Saat itu juga kau menjelaskannya satu per satu padaku, seperti yang kau lakukan hari ini. Kau terlihat bercahaya dan bahagia, meskipun hari itu adalah hari kematian orang tuamu.”

Hari itu? “Ten?” Amrita menggeleng, mengernyit. “Aku tak mengerti. Orang tuaku–”

“Dalam pertemuan sebelumnya,” Ten menarik napas tertahan. Berat, “dalam pertemuan sebelumnya, kau memberiku ini.” Ten membuka buku jurnalnya perlahan, menuju halaman terakhir yang bertuliskan namanya, kemudian mengangkat pembatas buku dari bunga milkvetch kering yang dilaminating itu. “Sebagai ungkapan terima kasih. Kehadiranmu mengurangi rasa sakitku, katamu. Saat itu juga kau meminta untuk pergi bersamaku, seperti hari ini. Tapi itu bukan impianmu, aku tahu.”

Amrita memandangi pembatas buku itu tidak mengerti. Berusaha mengingat apa yang terlewatkan. Tapi kosong. Pikirannya kosong, ia tak menemukan apapun.

Ia memandang bingung pemuda di hadapannya, tidak mengerti bahkan mengapa ia terus menganggapnya seorang pemuda ketika ia tahu orang ini jelas-jelas adalah seorang pria dewasa. Tak mengerti mengapa ia dapat secara spesifik menganggapnya berumur dua puluh tujuh, ketika ia sungguh tak tahu.

Matahari mulai bersembunyi. Suasana sunyi dan gelap, hanya temaram lampu dan kunang-kunang yang menemani. Air mata Amrita menetes, ia tak mengerti. Ia hanya berharap hari seindah ini akan terulang lagi. Lagi dan lagi. Bersama Ten beban di pundaknya tak terasa begitu berat. Ia tak merasa sendiri. Namun ia teringat kata orang bahwa hari seindah ini takkan terulang lagi.

Kemudian Amrita mengernyit, berusaha mengingat siapa yang mengucapkan kalimat itu, karena Amrita tak ingat bertemu atau berbincang dengan siapapun hari ini kecuali Ten. Pipinya basah dan segalanya blur. Ia bahkan tak mengerti mengapa ia menangis.

“Hari seindah ini takkan pernah terulang lagi,” ujar Ten lemah. Amrita mengangkat wajah, menemukan jawabannya. Ten. Ten. Ten. Sepuluh. Ten menarik Amrita dalam pelukannya. Hangat. Begitu akrab. Amrita akhirnya mengerti perasaan yang begitu membuncah sejak awal bertemu Ten. Rindu.

“Namamu…?” Amrita berbisik ragu. “Siapa namamu?” Melingkarkan lengannya, membalas pelukan si pemuda. Aromanya juga terasa akrab. Amrita mulai terisak, namun ia tak juga mengerti.

“Leo,” ia menjawab. “Aku Leo, Amrita. Ini tahun kesepuluhku mengunjungimu.” Suaranya terdengar begitu menyedihkan hingga Amrita merasa bersalah, apapun kesalahan yang tak bisa diingatnya itu. “Aku Leo.”

“Aku tidak tahu.” Amrita terisak. “Aku tidak mengerti. Rasanya menyedihkan. Leo?”

“Amrita, kumohon, sudah hentikan permintaanmu.” Leo melepaskan pelukannya, menangkupkan kedua telapak tangannya pada pipi basah Amrita. “Hentikan doamu itu. Hentikan mengulang-ulang waktu di kota ini. Orang tuamu takkan kembali, aku takkan tinggal. Tak ada yang akan berubah meskipun kau terus mengulangnya.”

“Kalau…” Kepala Amrita berdenyut-denyut. Sakit. “Kalau aku tak mengulangnya…bagaimana caraku melewati ratusan hari tanpa siapapun, Leo…?” Suaranya bergetar. Ragu. Mulutnya terus mengatakan hal yang tak dimengertinya. “Tanpa siapapun. Tak juga kau…”

“Aku akan selalu kembali, Amrita. Kau tahu itu. Selama sepuluh tahun ini aku selalu kembali, bukan? Hentikan, Amrita. Sudah cukup.” Suaranya begitu mendesak. Patah-patah.

“Ini hari yang begitu indah. Meskipun ayah dan ibu sudah tiada, tapi aku bertemu denganmu. Semua orang tertawa riang, bahagia. Jika kubiarkan waktu berlalu…” Amrita tercekat. Teringat horor yang dilihatnya sepuluh tahun silam, ketika ia melihat api melalap seluruh kota. Orang-orang terbakar dan berlarian kesana kemari, putus asa.

Amrita berteriak histeris. Ia ingat, kekuatannya bangkit di saat yang tak tepat. Di hari yang indah, tentu saja takkan ada orang yang mendengarkan peringatannya akan kebakaran besar yang akan melanda di keesokan hari. Orang tuanya sudah tiada, tak ada lagi yang percaya padanya. Lalu Leo…

Ia ingat menyuruh Leo untuk pergi sejauh mungkin. Pergi dan jangan kembali. Hanya Leo yang mempercayainya. Sahabatnya. Sahabatnya sejak kecil.

“Jika kubiarkan berlalu, api itu akan datang, Leo.” Amrita mencengkeram lengannya, sorot matanya dalam dan menusuk, namun tak fokus. Bukan Leo yang tengah dilihatnya, melainkan tragedi besar itu. “Leo, kau harus pergi!”

****

19.45

Amrita bangkit, bergegas menggedor tiap rumah, memperingatkan mereka tentang kebakaran besar. Amrita ingat raut wajah jijik dan tidak percaya mereka, begitu akrab, begitu membekas dalam ingatannya. Leo berlari mengikutinya. “Kali ini kau harus ikut pergi denganku, Amrita!”

Amrita tak menghiraukannya, tak kenal lelah menggedor-gedor tiap pintu rumah. Memperingatkan. Berkali-kali diusir dan dimaki, tapi tetap bersikeras membujuk. Tubuhnya gemetar hebat, ia ketakutan. Air matanya tak juga kering. Panik. “Amrita!”

“Waktunya hanya hingga tengah malam!” teriak Amrita putus asa. “Mereka semua harus pergi dari sini, kalau tidak…”

Bulan menggantung dengan bangga. Bulat dan penuh. Purnama. Amrita terus berlari. Belum ada orang yang mau mendengarkannya, tapi pasti…pasti…

“Amrita!” Leo mencengkeram lengan Amrita, membuatnya meringis kesakitan. Leo segera melepaskannya. Kepalanya tertunduk. Menderita. “Ini kesepuluh kalinya, Amrita. Takkan ada yang berubah.”

Amrita tahu. Ia sekarang mengerti. Ten. Sepuluh. Tulisan dalam jurnal itu adalah perubahan-perubahan yang dicatat Leo pada setiap kunjungannya. Pertemuan kesepuluh. Berantakan dan lusuh. Putus asa.

“Leo, aku akan mengantarmu hingga ke gerbang depan.” Amrita menggandeng tangannya. Leo mengusap wajahnya kemudian memeluk Amrita. Hangat dan bersahabat. Penuh kasih sayang. “Maaf, aku harus tinggal.” Dan Leo tahu karena itu adalah jawaban yang sama pada tahun-tahun sebelumnya. “Kau harus pergi dari sini.”

****

23.00

Leo melangkah keluar gerbang. Semua orang tertidur, bahkan para penjaga. Enam puluh menit menuju tragedi, jika saja Amrita melangkah keluar dari sana.

Senyumnya lemah dan lelah. Menyakitkan untuk melihat wajah orang yang kaucintai begitu putus asa. Leo berharap Amrita akan berubah pikiran tahun ini, untuk pergi saja bersamanya, jauh-jauh dari tempat ini, jauh-jauh dari frustrasi dan tragedi.

Tapi ia tahu Amrita takkan pernah melakukannya.

Amrita berbisik, bertanya apakah Leo akan datang mengunjunginya lagi tahun depan. Yang disambutnya dengan tawa pedih.

“Tentu saja. Berkali-kali pun akan kukatakan. Aku akan menemuimu tahun depan.”

Gerbang berderit menutup. Amrita melambaikan tangannya, masih menangis, tapi tersenyum lebar. “Jaga dirimu!” serunya.

Lalu hening. Hening yang sama setiap tahunnya. Leo berbalik, mulai berlari menembus malam. Jurnalnya di tangan kirinya, siap dia isi lagi. Dia berpikir tentang nama Amrita. Nama yang dia dengar berasal dari bahasa sansekerta, bahasa negeri jauh di sana. Amrita. Abadi.

Leo berharap Amrita mengerti arti Morning Glory tadi pagi. Ikatan. Leo berharap kini Amrita tengah tersenyum.

Dengan napas sesak, di udara yang dingin membeku, Leo berlari hingga dilahap kegelapan. Sebagai manusia, ia dan Amrita hanya bisa berdoa dan berharap.

****

END.

by : Azizah Al Rasyid

Print Friendly, PDF & Email
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Komentar

Orang berkomentar