Tuntutan Mahasiswa : Didengar atau Diabaikan ?

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Senin (19/2) Penyampaian visi-misi bakal calon (Balon) Rektor Unseod periode (2018-2022) telah dilaksanakan. Tiga calon rektor yang dipilih oleh Senat Unsoed untuk diajukan ke Kemenristekdikti juga telah diumumkan. Prof. Dr. Ir. Suwarto, MS., Prof. Dr. Ir. Mas Yedi Sumaryadi, MS., dan Dr. Agus Nuryanto S.Si., M.S.,  terpilih menjadi calon rektor. Berbeda dengan Dr. Muslih Faozanudin, M.Sc., yang harus rela menunda keinginannya untuk menjadi orang nomor satu di Unsoed.

Hal menarik terjadi saat penyampaian visi-misi bakal calon  rektor. Pada sesi tanya jawab, Sujada Abdul Malik, Mahasiswa FISIP 2014 sekaligus Presiden BEM Unsoed 2018 terpilih membacakan sejumlah tuntutan mahasiswa terhadap keempat balon rektor. (Tuntutan mahasiswa dapat dilihat disini). Selain itu, Sujada juga meminta kepada empat Balon rektor untuk menandatangani draft tuntutan. Sujada berdalih, adanya penandatangan draft dimaksudkan untuk mengingatkan rektor terpilih jika sewaktu-waktu kebijakannya tidak sesuai dengan tuntutan mahasiswa. Ia juga mengundang balon rektor untuk menghadiri diskusi publik yang diadakan BEM. Namun, tak sepenuhnya permintaan Sujada dipenuhi. Keempat bakal calon rektor enggan untuk menandatangani draft tuntutan namun, perihal diskusi publik sepanjang diskusi publik diiyakan.

Berjalannya pemaparan visi misi diiringi dengan tanggapan terhadap tuntutan mahasiswa. Keempat balon rektor pun memberikan beberapa jawaban yang menarik akan tuntutan mahasiwa. Dr. Muslih Faozanudin, M.Sc, dirinya menganggap bahwa tuntutan mahasiswa mengenai tidak adanya kenaikan UKT selama 5 tahun merupakan sesuatu yang tidak logis. “Biaya operasional selalu naik karena inflasi, permintaan tidak menaikkan UKT merupakan hal yang tidak logis,” ungkap Muslih (19/2).

Mengenai tuntutan pelibatan mahasiswa dalam setiap kebijakan kampus, Prof. Dr. Ir. Suwarto, M.S., mengungkapkan, “Mahasiswa adalah anak, sehingga akan dilibatkan dalam setiap kebijakan yang menyangkut mahasiswa,” ungkapnya (19/2). Sedangkan Prof. Dr. Ir. Mas Yedi Sumaryadi, M.S, berpendapat “Perlu adanya komunikasi dan sikap menghormati sehingga dapat berjalan dengan baik,” ungkapnya (19/2). Dr. Agus Nuryanto S.Si., M.S., turut menyoroti permasalahan pelecehan seksual yang terjadi di lingkungan kampus, “Sudah mendengar masalah tersebut, namun tidak pernah ada laporan, apabila terdapat laporan dapat ditindak,” ungkapnya (19/2).

Diantara beberapa tuntutan mahasiswa, terdapat tuntutan yang kurang mendapat perhatian oleh keempat balon rektor, yakni  penyelesain pungutan liar (pungli) di kampus. Tidak ada jawaban tegas mengenai permasalahan tersebut.  ”Masih belum puas dengan semua jawabannya,” ungka Sujada. Hal ini sangat disayangkan, karena akhir-akhir ini permasalahan tersebut banyak disorot oleh mahasiswa yang akhirnya melahirkan tuntutan.

Pemilihan Rektor merupakan momentum yang tepat untuk dapat memperbaiki hubungan mahasiswa dengan rektor yang belum mesra. Semua gagasan yang disampaikan oleh calon rektor untuk mengobati keresahan  mahasiswa hendaknya bukan omongan saja. Tanpa adanya tindakan nyata segala persoalan akan terus tersisa. Harapan ini diungkapkan oleh Kusja, S.IP., Kabag Akademik Unsoed, “Semoga action yang dilakukan oleh rektor dapat berjalan sesuai dengan visi-misi,” harapnya (19/2). (Vins/Etok/Ersa)

 

Foto: Agc/Riva

Print Friendly, PDF & Email
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Komentar

Orang berkomentar