Standardisasi Produk Penting

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Dewi Odjar, Deputi Bidang Informasi dan Pemasyarakatan Standardisasi Badan Standardisasi Nasional (BSN) (Berdiri di atas mimbar), sedang memberikan kuliah umum tentang Peran Standardisasi dan Penilaian Kesesuaian di Era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) di depan peserta kuliah umum, di Lantai 1 Gedung Rektorat, pagi tadi (22/10). Dalam kuliah tersebut disampaikan bahwa tidak masalah apabila SNI tidak digunakan untuk produk ekspor. Hal terbenting produk tersebut sesuai dengan standar negara penerima produk (Foto: Agc/Adit).

Standardisasi dalam produk konsumsi dinilai penting. Hal ini untuk meningkatkan keamanan dan kualitas produk. Namun, tidak semua produk memiliki standar seperti gula kelapa.

Belum adanya ciri khas dalam gula kelapa membuatnya tidak memiliki standar. Padahal produk ini sudah menjadi konsumsi primer masyarakat dan dapat mencegah diabetes, “Gula semut belum memiliki ciri khas tertentu sehingga belum memperoleh standardisasi,” jelas Dewi Odjar, Deputi Bidang Informasi dan Pemasyarakatan Standardisasi Badan Standardisasi Nasional (BSN), dalam kuliah umum Peran Standardisasi dan Penilaian Kesesuaian di Era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) di Lantai 1 Gedung Rektorat, pagi tadi (22/10).

Walaupun penting, ketiadaan SNI untuk produk ekspor tidak dipermasalahkan. Hal terpenting produk tersebut sesuai dengan standar negara penerima produk, “Yang penting sudah memenuhi standar luar negeri,” terang Dewi. Meski untuk melakukan ekspor produk tidak mendapatkan label SNI tidak menjadi masalah, namun standardisasi diperlukan untuk mengontrol produk luar yang masuk Indonesia.

Dewi juga menyampaikan, dalam kaitannya dengan MEA, Hak Kekayaan Intelektual (HKI) sama pentingnya dengan SNI. Keduanya berperan untuk melindungi hak cipta, “Bedanya, HKI diakui secara individu, sementara SNI diakui secara massal,” pungkasnya. (Adit/Firman)

Print Friendly, PDF & Email
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Komentar

Orang berkomentar