Rekayasa Genetika Menuai Polemik

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Namanya rekayasa genetika, orang menyebutnya transgenik. Indonesia sudah mengawali ini sebelumnya pada tahun 1990 an. Ilmuwan Indonesia melalui LIPI sudah bisa menemukan padi transgenik padi golden rice yang mengandung vitamin A dan singkong transgenik. Namun tampaknya pola pikir yang salah dari petani menjadikan transgenik ini kurang dilirik.
            Memang transgenik ini memiliki ciri khas yang cukup melekat kuat. Ciri khas ini seperti hasil produktivitas per satuan luas yang tinggi, lebih tahan terhadap hama dan penyakit serta daya penyesuaian diri tanaman dengan lingkungan yang cukup baik. Transgenik ini  juga mempunyai umur tanam yang cukup anjang. Salah satu contoh transgenik yang ada seperti tanaman transgenik tembakau yang memiliki daya adaptasi yang baik terhadap kondisi cuaca dingin karena tanaman ini mengandung gen untuk mengatur pertahanan pada cuaca dingin yang dihasilkan dari tanaman Arabidopsis thaliana dan sianobakter ( Anacyctis nidulans ).
            Menurut Sucipto, penyuluh dari Balai Penyuluh Pertanian Kecamatan Sumbang, dengan adanya bentuk inovasi teknologi transgenik dalam melakukan kegiatan usaha taninya, secara langsung petani tidak akan mudah dalam menerima dan menerapkan. Karena para petani akan menganalisis dulu, apakah teknologi transgenik ini benar-benar dapat memberikan keuntungan bagi mereka atau tidak? Prinsip dasar yang digunakan petani dalam mengadposi setiap inovasi teknologi baru yang masuk dengan cara menjalankan 3 fungsi yaitu tahu, mau dan mampu.
            Keberadaan dan eksistensi teknologi transgenik ini menurut Sucipto dapat menimbulkan pandangan baru bagi petani, khususnya petani yang berada di pelosok desa, karena mereka beranggapan, teknologi transgenik ini hanya akan menimbulkan banyak dampak negatif yang sangat membahayakan bagi kesehatan manusia. Petani dalam melakukan budidaya tanaman lebih memilih benih yang aman daripada benih yang belum jelas keamananya. Seperti yang diungkapkan petani padi, Harno, di desa Grendeng, “Penggunaan tanaman transgenik hanya untuk hasil yang tinggi, kekayaan yang melimpah dan keuntungan tanpa memperhatikan aspek kesehatan itu tidak baik, mending pakai yang lokal aja lebih aman dari pada transgenik, ”ujarnya (26/07).
            Selain itu, tanaman transgenik mampu menyebabkan dampak negatif terhadap lingkungan, produk pangan, dan kesehatan bagi manusia. Hal tersebut sesuai dengan instruksi dari Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2005 tentang keamanan hayati produk rekayasa genetika yang meliputi aspek keamanan pangan, lingkungan, dan kesehatan. Seperti yang disampaikan Rohmat, koordinator Penyuluh pertanian di Badan Pelaksanaan Penyuluhan Pertanian dan Ketahanan Pangan Banyumas, “Salah satu pengaruh dampak  negatif dari transgenik ini itu ya bisa menimbulkan gangguan kesehatan pada manusia contohnya penyakit alergi kulit,”ungkapnya (25/07).
            Dari segi produksi, tanaman transgenik memiliki input biaya produksi yang mahal dibandingkan
dengan jenis tanaman non transgenik yang ada. Karena tanaman transgenik ini memiliki umur yang cukup panjang sehingga input biaya untuk pembelian pupuk dan pemeliharaan tanaman menjadi meningkat, namun penggunaaan transgenik dalam jangka panjang akan memberikan keuntungan ganda karena transgenik ini mampu mendongkrak produktivitas.
            Menurut ahli Pemuliaan tanaman dan Bioteknologi Fakultas Pertanian Unsoed Prof. Ir. H. Totok Agung D.H., M.P., Ph.D. menyatakan, “Kelebihan dan kekurangan dari teknologi itu harus disikapi dengan bijak. Kelebihan perlu didukung, sedangkan kelemahan dan kekurangan inilah yang harus ditekan dan diminimalisir sekecil mungkin. Karena dalam penggunaan inovasi teknologi pasti akan menimbulkan dampak jangka panjang dan jangka pendek,” jelasnya (25/07). Totok menambahkan, transgenik ini bisa dilepas jika tanaman  transgenik telah tersertifikasi serta semua aspek regulasi dan ketentuan dari pemerintah telah terpenuhi.
            Lebih lanjut lagi, menurut Rohmat Koordinator Penyuluh pertanian di Badan Pelaksanaan Penyuluhan Pertanian dan Ketahanan Pangan ( Bappeluh ) Banyumas, “Transgenik tak mampu tumbuh subur di Indonesia disebabkan adanya political will dari pemerintah yang kurang serius dalam mengembangkan dan menerapkan inovasi teknologi rekayasa genetika di Indonesia,” jelasnya. Sementara itu Sucipto menyatakan bahwa, untuk dapat mengembangkan tanaman transgenik di Indonesia harus ada jaminan dari pemerintah terhadap tanaman transgenik tersebut, baik pengawasan maupun peraturan perundang undangan yang jelas dan tegas. Jika dari segi ekonomi ada keuntunganya dan tidak menimbulkan banyak kerugian atau dampak negatif tidak masalah.
Penerapan transgenik
            Teknologi transgenik ini terus dikaji pengaruhnya terhadap aspek kehidupan manusia seperti lingkungan, keamanan pangan, dan keamanan kesehatan, serta pengaruh keamanan keanekaragaman hayati. Prof. Ir. H. Totok Agung D.H., M.P., Ph.D. menyatakan  bahwa, uji terbatas (rumah kaca), uji keamanan lingkungan, uji keamanan pangan dan uji multilokasi harus di tempuh satu persatu dalam mengembangkan dan menerapkan tanaman transgenik di Indonesia. Jika salah satu dari aspek tersebut tidak terpenuhi maka tanaman  hasil rekayasa genetika tak bisa di lepas ke masyarakat.
            Penggunaan benih transgenik dalam upaya meningkatkan produktivitas, seperti halnya komoditas kedelai pun menyebabkan monopoli benih kepada para petani. Ancamannya petani akan memiliki ketergantungan besar terhadap perusahaan produsen benih dan akan kehilangan kreativitas dalam mengembangkan benih karena petani tidak bisa memproduksi benih sendiri.
            Jika ditinjau dari segi ekonomis, tanaman transgenik mempunyai keuntungan yang lebih besar daripada varietas lokal. Khusus untuk kedelai, tanaman transgenik memiliki bentuk polong yang lebih besar, warna polong yang kuning, serta daya hasil yang tinggi. Sementara itu untuk kedelai varietas lokal bentuk polong relatif lebih kecil, warna polong agak kuning keputihan, produktivitas lebih rendah dari transgenik serta rentan terhadap hama dan penyakit, tergantung masing-masing varietas yang dibudidayakan. Dari segi umur tanaman kedelai lokal memiliki umur yang lebih pendek dari pada kedelai transgenik. Sedangkan untuk tanaman jagung produktivitas tanaman lokal hanya bisa mencapai 4,5 ton/Ha namun pada tanaman transgenik mampu mencapai 10.2 ton/ Ha.
            Perkembangan transgenik di Indonesia menunjukan sinyal yang positif dengan dilakukanya berbagai uji coba tanaman transgenik khususnya tanaman Kapas Bt DP 5690 B sebagai varietas unggul dengan nama Nucotn 35 B di delapan kabupaten Sulawesi selatan yang di kembangkan oleh PT. Monsanto Indonesia yang berasal dari Amerika Serikat pada tahun 2001. Di samping itu pada tahun 2008 jagung transgenik telah ditanam di kawasan Jawa Timur dan Lampung seluas 1,36 hektar dari 3,4 juta hektar lahan yang ada. Dalam perkembangannya transgenik tidak menemui jalan yang mulus. Klasik, terbentur hambatan struktural dengan kebimbangan pemerintah sehingga teknologi hasil rekayasa genetika masih sebatas asa.
Reporter : Muhammad Aziz Muslim
                    Ana Hanifiyyat Dewi
Print Friendly, PDF & Email
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Komentar

Orang berkomentar

LPM Agrica

Bila mulutmu dibungkam, tajamkan penamu !