RANTAU 1 MUARA

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Judul : Rantau 1 Muara
Penulis : Ahmad Fuadi
Penerbit      : GramediaPustakaUtama
Terbit : 27 Mei 2013
Tebal : 400 Halaman
Harga : Rp. 75.000,00
ISBN : 978-979-22-8568-0
RANTAU 1 MUARA
Merantaulah, gapailah setinggi-tinggi impianmu
Bepergianlah, maka ada lima keutamaan untukmu
Melipur duka dan memulai penghidupan baru
Memperkaya budi,  pergaulan yang terpuji,
Serta meluaskan ilmu.
   Seperti itulah kutipan indah dari syair Imam Syafi’i yang menjadi pembuka novel berjudul Rantau 1 Muara karangan Ahmad Fuadi. Setelah sukses menjadi novel best seller dan mendapat banyak penghargaan dengan 2 novel pendahulunya, Negeri 5 Menara, dan Ranah 3 Warna, kini giliran novel ketiga sebagai pamungkas dari Trilogi Negeri 5 Menara yang menjadi sorotan.
   Jalan cerita kehidupan Alif Fikri sebagai tokoh utama  yang diambil dari kisah nyata kehidupan sang pengarang dengan adanya penambah dan pengurangan ini, tidak lepas dari “mantra” yang ada pada ketiga novelnya tersebut. Man jadda wajada (siapa yang bersungguh-sungguh akan sukses) menjadi jurus jitu Alif dalam menggapai impian-impiannya hingga ia bisa kuliah di Amerika, mendapat pekerjaan yang mumpuni, dan berkeliling dunia dengan kerja kerasnya. Man shabara zhafira (siapa yang sabar dia akan beruntung) yang menjadi “mantra” kedua, bersabar bukan berarti diam menunggu nasib, namun tetap aktif berusaha melakukan hal yang bermanfaat hingga tujuan tercapai. Lalu terakhir, Man saara ala darbi washala (siapa yang berjalan di jalanNya akan sampai di tujuan) mengajarkan sikap konsisten terhadap apa yang kita lakukan saat ini, dapat membuat kita berhasil mencapai tujuan yang kita impikan.
   Alif Fikri yang sedang dilambung kebanggan karena baru saja pulang dari Kanada sebagai Duta Muda dari Indonesia dan karena namanya mulai dikenal sebagai penulis yang patut diperhitungkan, harus dihadapkan dengan kenyataan pahit. Kesungguhan Alif secara emosional diuji. Ijazah sarjana yang baru diraihnya, pun pengalamannya diluar negeri menjadi terasa nihil. Pasalnya Krisis ekonomi dan reformasi justru menutup peluangnya untuk mencari pekerjaan.
   Tak peduli krisis ekonomi, kebutuhan hidup tidak dapat ditunda. Dalam beratnya cobaan hidup, Alif teringat dengan satu mantra yang ia pernah dapatkan dari pesantren: Man saara ala darbi washala. Sejak saat itu Alif mulai serius mencari jalan yang mampu mengantarkannya ke muara yang ingin ditujunya. Hingga akhirnya ia menjadi wartawan di Majalah Derap, pengalaman kerja Alif menjadi wartawan Derap mampu menggambarkan kepada pembaca tentang bagaimana cara kerja seorang wartawan serta kesulitan-kesulitan yang dihadapinya. Hal tersebut dapat menjadi magnet tersendiri untuk menarik minat pembaca pada dunia jurnalistik.
   Seperti novel-novel sebelumnya, Fuadi kerap memberikan bumbu cinta di setiap jalan cerita novelnya. Jika dua novel sebelumnya cerita cinta Alif tidak terlalu mencolok, maka dalam novel Rantau 1 Muara ini pembaca akan banyak mendapati perjalanan cerita cinta Alif dengan wanita di tempat kerjanya yang bernama Dinara, yang di kemudian hari menjadi istrinya.Meski begitu, Fuadi tidak melupakan tujuannya dalam menulis novel ini, yaitu agar bermanfat bagi pembaca, maka ia pun banyak memasukkan percapakan tanya jawab yang filosofis antara Alif dan Dinara.
   Tak sampai situ, cerita humor pun Fuadi masukkan dengan memunculkan tokoh unik namun sarat akan makna. Salah satunya adalah kakak angkat asal Indonesia yang tak sengaja Alif temui di Amerika, ketika mencari apartemen murah melalui papan informasi di kampusnya, bernama Garuda. Ia memiliki sifat penolong, sangat sayang kepada Alif, dan seorang penggemar keju. Namun sayang, nasib naas harus menimpa Garuda ketika peristiwa 11 September 2001 di World Trade Center New York terjadi.
   Faktor lain menambahkan ‘kekuatan’ pada novel ini. Pertama, pilihan kata yang tepat. Setiap kata yang dipasang untuk mewakili sebuah konsep, tepat adanya. Persoalan diksi benar-benar dipedomani. Kedua, cara penulis meletakkan motivasi di dalam novelnya, tanpa terasa dipaksakan, namun mengalir lancar. Ketiga, sang pengarang tak lupa menyisipkan catatan kritis pada dunia kewartawanan yang dipandang telah lepas dari idealisme yang seharusnya dipegang. Cerita ini pun dapat menjadi inspirasi dan jalan keluar untuk para pencari kerja agar mendapatkan pekerjaan sesuai dengan passion yang dimiliki.
   Lagi, masih dengan tujuan yang sama, Ahmad Fuadi lewat novel Trilogi ini mengajak pembaca untuk tidak takut bermimpi besar, tak surut memperjuangkan cita dan cinta. Semangat berkompetisi yang positif, tidak mudah menyerah dengan keyakinan teguh bahwa Tuhan menyertai, juga betapa pentingnya pendidikan yang baik, dibeberkan dengan indah dan lancar. Sebuah novel yang mengalir, menggugah, dan sarat pesan moral, namun sangat jauh dari kesan menggurui.
Print Friendly, PDF & Email
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Komentar

Orang berkomentar