Program Komersial Fakultas Pertanian

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
105

Fakultas Petanian (Faperta) berinovasi membangun usaha benih padi dan beras premium. Pembangunan ini berasal dari Program hilirisasi teknologi dari Kementerian Riset, Tekologi, dan Pendidikan tinggi (Kemenristekdikti) yang berupa teaching Industry. Program ini bertujuan agar perguruan tinggi tidak hanya berorintasi pada riset saja, tetapi membangun industri berbasis teknologi yang berfungsi sebagai sarana pembelajaran dan pengembangan produk inovasi.

Teaching Industry merupakan program yang murni bersifat komersial seperti yang diungkapkan oleh  Ir. Suprayogi, M. Sc., Ph.D selaku bagian dari tim penyusun proposal teaching industry, “Ini industri milik universitas yang orientasinya murni bisnis,” ujar Suprayogi (11/10). Produk yang akan menjadi andalan dalam usaha ini adalah benih-benih yang dihasilkan oleh para akademisi Faperta. Selain itu, teaching industry juga akan mengadakan mesin-mesin penggiling padi untuk dibuat Rice Milling Unit (RMU), ”Akan ada pabrik beras dan benih padi-padi Unsoed,” tambahnya.

Tempat penggilingan padi ini bisa digunakan oleh warga sekitar dan juga mahasiswa, “Aplikasinya bisa dipakai oleh mahasiswa dan juga masyarakat,” tutur Ir. Joko Maryanto, M.Si. selaku Wakil Dekan Bidang Keuangan dan Umum (10/10). RMU juga dapat menerima magang mahasiswa Faperta yang sesuai dengan bidang studi yang ditekuni, “Tidak digunakan untuk praktikum, tapi untuk magang kerja berupa latihan lapangan,” jelas Suprayogi. Masyarakat dari luar civitas akademika juga dapat mengikuti pelatihan kompetensi tersebut, “Masyarakat luar bisa ikut pelatihan, nanti mendapat setifikat tapi dikenakan biaya,” tambah Suprayogi.

Progres teaching industry hingga saat ini (red: Oktober) masih dalam tahap pelelangan untuk bangunan RMU dan alat-alat lainnya, “Kita sedang mengadakan proses pelelangan melalui publik,” ungkap Suprayogi. Tantangan pembangunan teaching industry pada saat ini adalah sedang dikejar oleh waktu karena ditargetkan akan selesai pada akhir tahun 2019. “Kita sedang berpacu dengan waktu karena semuanya harus selesai bulan Desember,” tambah Suprayogi.

Adanya teaching industry ini memunculkan beberapa harapan. Suprayogi berharap agar bisnis industri tersebut dapat terus berkembang, “Semoga ini (red: teaching industry) dapat semakin berkembang, memberikan income kepada universitas, dan dapat dicontoh oleh mahasiswa,” harap Suprayogi. Harapan juga muncul dari Joko yang mengharapkan tempat teaching industry yang akan dibangun dapat berbentuk pabrik yang modern, “Ini sudah saatnya era modern 4.0, semoga bentuk pabriknya modern,” harap Joko. (Vikram/Fahmi)

Print Friendly, PDF & Email
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
105

Komentar

Orang berkomentar