Potret Pangan Organik di Banyumas

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
1
Informasi pangan organik berkembang
pesat, tidak terkecuali di daerah Banyumas. Sudahkah masyarakat Banyumas
benar-benar sadar akan pangan organik?
 
Mensana en corporesano. Di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Tubuh yang sehat dapat diperoleh dengan rutin berolahraga dan mengkonsumsi makanan yang aman bagi tubuh.
                         Produk sayuran organik yang beredar di swalayan
Budidaya tanaman tanpa menggunakan bahan kimia disebut teknik budidaya organik. Ini merupakan contoh konkret dalam mendukung terciptanya produk pangan yang aman bagi manusia. Dalam budidaya tanaman organik, produsen mengolah tanah dengan berbagai teknik go-green. Artinya, produsen tidak menggunakan pestisida sintetis, organisme hasil rekayasa genetika (GMO), obat-obatan, dan pupuk buatan. Produsen menggunakan pupuk kompos dan pupuk kandang. Cara pembasmian hama dan gulma pun dengan teknik konvensional.
Selain menghasilkan bahan makanan yang sehat, bertani secara organik dapat membantu menjaga kelestarian lingkungan. Tanpa menggunakan bahan-bahan kimia, lingkungan akan tetap terjaga. Baik kondisi tanah, air, maupun udara. Bertani secara organik juga menciptakan lingkungan kerja yang aman bagi petani karena dapat terhindar dari polusi akibat bahan kimia.
Jika Anda mengunjungi stand sayuran dan lebih memilih sayuran dengan kondisi fisik segar dan tanpa cacat, berarti Anda belum paham tentang sayuran organik. Secara fisik sayuran organik memang terlihat hampir sama dengan sayuran anorganik.  Tapi jika kita melihatnya lebih teliti akan ditemukan bintik atau lubang pada bagian daun. Bintik inilah yang membuktikan bahwa sayuran organik tidak menggunakan bahan kimia dalam pembasmian hama.
Buah dan sayuran organik mengandung antioksidan  hingga 50 persen lebih banyak dibanding anorganik. Para ilmuwan yakin mengonsumsi makanan organik mampu mengurangi risiko penyakit jantung, kanker dan penyakit berat lainnya.
Sejauh ini di Purwokerto ketersediaan produk organik masih terbatas di beberapa supermarket, yaitu Rita Isola dan Moro. Noni (35), konsumen yang ditemui Agrica di Rita Isola Purwokerto mengugkapkan, “Saya lebih sering mengonsumsi sayur biasa, soalnya lebih mudah menjangkaunya.(24/07).
Sayuran organik yang terdapat di kedua supermarket memang tidak ditemukan dalam jumlah besar. Sentra sayuran organik ini berasal dari Melung dan Windujaya. Pasokan datang setiap 3 hari sekali berjumlah antara 20-25 ikat. Perbandingan sayuran organik yang terjual tiap harinya diibaratkan dari 100 ikat yang dijual, hanya laku 20 ikat saja. Dalam kata lain, hanya 20persen yang terjual.
Melung sebagai salah satu sentra pertanian organik di Banyumas memproduksi 15 komoditi sayuran organik. Diantaranya cesim, kangkung, putren, seledri, selada, daun bawang, sereh, pauling, terong, cabe, gandum, buncis, labu siam, oyong, dan kacang tanah. Sedangkan di Windujaya hanya fokus pada selada saja
Selain didistribusikan ke beberapa supermarket serta kantin di gereja, konsumen dapat langsung membeli ke lahan. “Kadang konsumen beli langsung ke desa Melung. Kalo dibeli tengkulak, keuntungan lebih besar soalnya dibayar cash,” tutur Taufik (24), petani sayuran organik Melung (23/07).
Ketersediaan pangan organik di Banyumas tidak hanya ada dalam bentuk sayur atau buah mentahan. Ada juga dalam bentuk olahan seperti yang terdapat di Pringsewu Restaurant Group. Menu organik yang ditawarkan dalam bentuk olahan cah dan tumis. Konsumen bisa langsung memetik sayur dan buahnya sendiri, kemudian diolah langsung.
Minat Masyarakat
 
Minat masyarakat Banyumas di daerah pedesaan terhadap pangan organik tergolong rendah. Mereka hanya berfikir membeli sayur dengan harga yang murah namun jumlahnya banyak. “Sing akeh, murah, ora mikirna penyakit,” ungkap Taufik, petani organik Desa Melung (23/07). Berbeda dengan perkotaan, minat terhadap sayur organik lumayan besar. Mereka cenderung memerhatikan kesehatan. Didukung dengan kondisi ekonomi yang mampu mengkonsumsi sayuran organik. Seperti yang diungkapkan Joe (45), Ia mengaku lebih memilih mengkonsumsi sayur organik. “Saya lebih tertarik sayur organik, karena lebih sehat,” tuturnya (24/07).
Sayuran organik memang bernilai jual lebih tinggi dibanding sayuran anorganik. Selisihnya hingga mencapai 30 persen. Meskipun modal awal pertanian organik sama besarnya dengan pertanian anorganik namun resiko yang ditimbulkan pertanian organik lebih besar. Perawatan lebih ekstra juga dibutuhkan untuk tanaman organik.
Menurut Suseno Adi N. (45), Floor Manajer Rita Isola, ada dua hal yang menghalangi masyarakat Banyumas belum go organic. Pertama, minimnya sentra pertanian organik di Banyumas sehingga belum mampu meningkatkan kesadaran konsumen dalam memilih sayuran organik. Kedua, rendahnya minat konsumsi sayuran organik. Hal ini disinyalir karena kurangnya pemahaman konsumen. Masyarakat masih berfikir produk organik dan anorganik sama saja. “Konsumen juga perlu pendidikan tentang organik,” ungkap Suseno (25/07).
                                   Hamparan areal pertanaman organik
Pendidikan organik yang Suseno maksud berawal dari tingkat produsen (petani organik). Produsen harus lebih aktif dalam memproduksi dan memasarkan produknya guna menarik para konsumen untuk lebih memilih pangan organik. Produsen harus mampu membentuk suatu opini bahwa produk organik jauh lebih baik dari pada produk anorganik. Mulai dari kemasan yang berstandar hingga label yang tidak mudah rusak terkena air. Agar mendapatkan label organik sebuah produk makanan olahan harus mengandung paling sedikit 95 persen bahan organik bersertifikat.  “Produsen juga harus membuat semenarik mungkin packingan produknya,” tambahnya (25/07).
Wacana untuk mewujudkan go organic memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Pertanian organik yang digalakkan di Banyumas baru berjalan selama 3 tahun. “Minimal untuk menuju ke pangan organik dibutuhkan waktu kurang lebih 7 tahun,” ujar Taufik (23/07). Perlu adanya dukungan dari berbagai pihak. Baik pemerintah, konsumen, maupun produsen itu sendiri.  “Mengubah petani an-organik jadi petani organik itu kaya merubah kepribadian seseorang,”pungkasnya (23/07).

Reporter:              Yekti Utami

                               Dwi Farhatul
Aflaha
                  Wafiatul Amri
Print Friendly, PDF & Email
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
1

Komentar

Orang berkomentar