Pintu PR I Terus Diketuk Keringanan

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Pernah kredit sepeda motor ? seperti itulah sistem yang ditawarkan Uang Kuliah Tunggal (UKT). Ringan di awal, berat di jalan. Setelah membayar uang muka dan cicilan pertama, baru diketahui akumulasi cicilan hampir dua kali lipat dari harga cash  atau normal. Alhasil, hampir satu semester penerapan Uang Kuliah Tunggal (UKT), pintu Pembantu Rektor 1 (PR 1) tidak pernah libur dari ketukan mahasiswa yang datang mengajukan keringanan.

Seperti Nurul, Agroteknologi 2012. Ia mengaku sudah putus asa ketika melihat nominal UKT Rp 3 juta. Niat untuk kuliah diurungkan, Ia mengakui, berat jika semester ke depannya harus membayar sebesar itu. “saya mending kuliah di swasta kebumen aja,” ujar Mahasiswa asli Kebumen ini (15/10). Nurul pun mencoba, ditemani perwakilan BEM-U, menemui Kepala staf Bagian Pendidikan UNSOED, kemudian diusulkan ke PR 1. Setelah proses wawancara, Nurul menyanggupi untuk membayar UKT sebesar Rp 300 ribu.

Nurul hanya segelintir dari ribuan mahasiswa yang menginginkan keringanan hingga menuntut UKT dihapus. Mahasiswa menuntut dengan beragam cara, seperti tuntutan tertulis, pemasangan atribut menolak UKT, hingga menggelar aksi massa. Alasan yang melatar belakanginya pun beragam. Mayoritas mahasiswa, sebagai konsumen, merasa fasilitas yang didapat saat kuliah tidak sebanding dengan mahalnya UKT yang harus dibayarkan.

Mahasiswa angkatan 2012 berhak mengajukan keringanan biaya UKT. Namun, banyak mahasiswa belum mengetahui prosedur mengajukan keringanan. Seperti dituturkan Ari,Agroteknologi 2012, “Pas registrasi, pilih UKT di bawah batas, tapi nggak punya kartu Gakin. Terus sekarang nggak tau gimana ngajuin keringanannya,” tuturnya (09/10).

Upaya mewadahi keluhan seperti Ari pun dilakukan Departemen Advokasi BEM Kema Faperta. Selama dua minggu terakhir, pihak BEM menyebarkan kuisioner keringanan UKT ke tiap kelas. Menteri Advokasi BEM Kema Faperta, Kamal M. Kaban, menjelaskan kuisioner sedang dalam proses rekap. “Sedang dilakukan rekap oleh BEM, supaya ketauan pastinya berapa jumlah maba yang sanggup dan tidak sanggup”, jelasnya (10/10). Kamal menambahkan, saat ini pihaknya bekerjasama dengan BEM se-UNSOED untuk memperjuangkan keringanan UKT. “Tiap minggunya diadakan pertemuan aliansi BEM se-Unsoed melakukan rapat membahas UKT. Sampai sekarang sudah tiga kali ketemu,” tambahnya.

Hasil rekapitulasi kuisioner sementara, dari 552 kuisioner yang masuk, 512 mahasiswa menyatakan tidak menyanggupi besaran UKT yang ditetapkan sebesar Rp 3 Juta. Angka ini belum termasuk kuisioner dari mahasiswa program Alih Jenjang. Sebagian besar yang menyatakan tidak sanggup merupakan mahasiswa yang juga dibebani biaya sumbangan murni. Diperoleh beberapa mahasiswa yang mengaku membayar sumbangan murni di atas Rp 10 juta. Besaran UKT pun menyentuh angka Rp 9 juta.

Upaya serupa dilakukan BEM Fakultas Ekonomi. Pihak BEM mengedarkan 500 kuisioner dari jumlah mahasiswa angkatan 2012 sebanyak 850 mahasiswa. “Dari 400an kuisioner yang kembali, 30 – 35 % nya menyatakan tidak menyanggupi biaya UKT,” jelas Hanindito, Presiden BEM FE (09/10). BEM FE bekerja sama dengan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) untuk mengedarkan dan mengumpulkan kuisioner.

BEM FE menuturkan, hingga kini masih terus mengadvokasi mahasiswa Fakultas Ekonomi untuk mendapat keringanan biaya UKT. “Perbandingannya, tiap 5 anak yang ngajukan, 4 anaknya goal mendapat keringanan,” tuturnya. Hanindito mengakui, repotnya proses birokrasi untuk mengajukan keringanan UKT. “Di awal, birokrasinya muter-muter. Dari fakultas sampai rektorat. Masih harus proses wawancara dulu dengan PR 1. Baru bisa diputuskan goal atau nggak” ungkapnya.

Syarat pengajuan keringanan biaya UKT, yakni JAMKESMAS pun tidak dapat dipenuhi seluruh pemohon keringanan. Sebab, JAMKESMAS diberikan hanya kepada keluarga yang tergolong ekonomi lemah melalui sensus penduduk. Keringanan biaya UKT pun bukan tanpa konsekuensi. Terdapat aturan, mahasiswa yang mendapat keringanan UKT, tidak diperkenankan menerima beasiswa.

Dijelaskan oleh Hanindito, besaran keringanan yang diperoleh beberapa mahasiswa FE beragam. Mulai dari menjadi Rp 500 ribu, menjadi Rp 0 , hingga terdapat salah seorang mahasiswa yang diberi bantuan uang tunai per semester sebesar Rp 2,75 juta. Banyaknya mahasiswa yang belum teradvokasi membuat Hanindito sangat mengharapkan, jangka panjangnya dapat menurunkan UKT secara keseluruhan.

Bagian Pendidikan UNSOED, yang paling sering bersentuhan dengan UKT pun tidak berani berkomentar banyak. Saat dimintai keterangan lebih lanjut terkait pengajuan keringanan biaya UKT oleh Agrica, pihaknya hanya menjawab, “Itu kewenangan pimpinan. Yang memutuskan besaran atau keringanannya pun pimpinan (PR 1),” jelas salah satu staf Bagian Pendidikan UNSOED (8/10). (Maman/ Bhekti/Lani)
Print Friendly, PDF & Email
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Komentar

Orang berkomentar