Penerapan Sistem Paket Mahasiswa 2016

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
4

Satuan Kredit Semester (SKS) menjadi satuan beban mahasiswa, beban kerja dosen, dan beban penyelenggaraan program pendidikan. Tahun 2017 Unsoed mengubah sistem pengambilan SKS mahasiswa angkatan 2016 menjadi sistem paket. Meski mendapat respon positif dari mahasiswa, masih terdapat kendala dalam penerapannya.

Sesuai Surat Keputusan (SK) Rektor No.17/2016 Bab VI pasal 6 ayat 3, beban kredit semester satu dan dua menggunakan sistem paket dengan jumlah SKS ditentukan oleh masing–masing fakultas. Dr. Ir. Heru Adi Djatmiko, M.P., Wakil Dekan Bidang Akademik Faperta, mengungkapkan Indeks Prestasi (IP) semester satu tidak berpengaruh terhadap jumlah SKS yang diambil. “IPK-nya nol masih tetap ambil SKS maksimal. Ga usah memperdulikan prasyarat,” terang Heru (20/02).

Penerapan sistem paket secara teknis didasarkan atas penyesuaian Peraturan Pemerintah dan Mata Kuliah Dasar Umum (MKDU). ”Ada Permen (Peratuan Menteri) bahwa semester satu dan dua harus sistem paket karena bagian dari MKDU,” jelas Kusja, S.IP, Kepala Bagian Akademik Pusat Administrasi Unsoed (21/02).

Ina Ibadilah, Mahasiswa Agroteknologi 2016, mengungkapkan sistem paket cukup menguntungkan mahasiswa. ”Menguntungkan buat mahasiswa yang baru ngerasain kuliah dan  hasil IP masih di bawah tiga,” ungkapnya (18/02). Hal senada diungkapkan  Fajar Nugroho, mahasiswa Agrobisnis 2016, “Mahasiswa yang IP-nya di bawah tiga harus menghadapi perbaikan, kalau ada yang harus ditinggal (SKS tidak penuh) kan menambah beban,” ujarnya (21/02).

Sayangnya sistem paket dibatasi dalam jumlah SKS. Hal ini didasarkan perbedaan jumlah mata kuliah pada setiap fakultas. “Sistem paket berdasarkan jumlah mata kuliah, bukan jumlah SKS,” terang Kusja. Faperta misalnya menerapkan 22 SKS untuk semester dua. Adanya batasan SKS dinilai menghambat beberapa mahasiswa. ”Mungkin akan menghambat mahasiswa yang harusnya ngambilnya lebih banyak (24 SKS),” ungkap Kusja.

Penerapan sistem paket pada SKS juga masih terkendala prasarana meski pihak universitas telah menjamin sistem secara otomatis. Sistem Informasi Akademik (SIA) masih belum diperbarui sehingga tidak sesuai dengan sistem paket. “Aturannya sudah harus paket, tapi di SIA belum teraplikasi ke Fakultas sehingga masih kesulitan,” keluh Heru. Mahasiswa dengan IP dibawah tiga, harus melapor ke bagian akademik untuk dapat mengambil SKS secara penuh. ”SKS bisa full dengan menyerahkan nama dan NIM, tapi harus lewat sini (red: WD 1) karena sistem IT-nya belum jalan,” terang Heru.

Adanya beberapa kendala menyebabkan pemberlakuan sistem ini diakui belum paten.  “Sewaktu-waktu bisa berubah dan dievaluasi,” ungkap Kusja. Ina berharap, “Semoga sistem yang sudah dibuat bisa diterapkan dengan adanya pengawasan,” tutupnya. (Lisna/Intan)

Karikatur : Agc/Adi

Print Friendly, PDF & Email
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
4

Komentar

Orang berkomentar