MUSKEMA: Menentukan Masa Depan KEMA Faperta

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Jika mahasiswa dalam akademiknya memiliki fase optimal saat menjelang ujian, organisasi mahasiswa di Faperta saat ini berada di fase tersebut. Fase menguji dan mengevaluasi secara keseluruhan, baik BEM, DLM, Hima dan UKM melalui Musyawarah Keluarga Mahasiswa (Muskema). Ajang untuk berkumpul, bermusyawarah dan mengambil keputusan. Di forum pengambilan keputusan tertinggi Keluarga Mahasiswa (KEMA) Faperta  inilah arah organisasi yang tergabung dalam KEMA Faperta ditentukan.

Laiknya miniatur Negara demokratis, di Muskema kali ini pun bukan perkara mudah mencapai kata sepakat dalam bermusyawarah. Padahal, Muskema terdiri atas banyak agenda. Diantaranya Laporan Pertanggung Jawaban (LPJ) BEM, Laporan Pelaksanaan Tugas (LPT) DLM, Pembahasan dan Penetapan Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART), Pembahasan Rekomendasi Muskema serta Garis-garis Besar Haluan Kelembagaan (GBHK). Hingga akhirnya mengesahkan Presiden BEM dan DLM Faperta.
Sejak dimulainya Muskema Senin (19/11) lalu, Muskema diwarnai adu pendapat. Diawali dengan perbedaan pendapat pada penentuan agenda Muskema. Salah satu peserta, Kamal, Agrotek ’08, mengusulkan Laporan Pertanggung Jawaban (LPJ) BEM dan Laporan Pelaksanaan Tugas (LPT) DLM dibahas sebelum pembahasan AD dan ART. Presiden BEM Kema, Faris, senada dengan Kamal, sepakat LPJ dan LPT didahulukan. “LPJ di awal, kita jadi bisa tahu, kelemahan penerapan AD/ART seperti apa,” ungkapnya (20/11).
Sementara, Imron Gempur, Agrotek ’09, menghendaki AD dan ART dibahas terlebih dahulu, sebelum LPJ dan LPT DLM. Menurutnya, agenda Muskema tidak perlu diubah. “Rujukannya kan AD/ART, jadi jelas itu dulu beres diketok. Dua-duanya (BEM dan DLM) selesai, tinggal LPJ KPR,” tegasnya (19/11). Imron melihat, jika LPJ dan LPT DLM dilaksanakan sebelum membahas AD dan ART, dikhawatirkan pada prosesnya akan terjadi vacuum of power (kekosongan kekuasaan). “AD/ART dulu juga supaya ngga ada kekosongan power nantinya sekitar satu bulan. Nggak mungkin kan saat itu, setelah LPJ, Presbem masih mau ngurus hima-unit,” tambahnya.
Faris menjelaskan, pihaknya menjamin, di masa peralihan BEM, tidak akan merepotkan hima-unit karena semua proposal kegiatan terkait pendanaan akan selesai Desember.  Hingga akhirnya, pembahasan agenda Muskema baru mencapai kata sepakat pada hari ketiga (21/11). Forum menyepakati dan menetapkan LPJ BEM dan LPT DLM dilaksanakan sebelum pembahasan AD dan ART.
Menilik Muskema tahun 2011, efek jangka pendek  vacuum of power paling dirasa oleh Komisi Pemilihan Umum Raya (KPR). Terlebih, hingga saat ini, instrument pelaksanaan Pemira, yaitu Undang-Undang Pemira masih berupa draf yang belum disahkan. Seperti diamati Mendagri BEM, Tores, “UU Pemira seharusnya sudah diketok sebelum kepengurusan DLM habis jadi KPRnya nggak repot,” jelasnya (20/11).
Di forum pengambilan keputusan tertinggi ini, berbagai keputusan akan diambil dan ketetapan dapat disusun. Diantaranya perubahan isi AD, ART, GBHK, termasuk sistem Pemilihan Umum Raya (PEMIRA) dan sistem kepartaian. Di samping itu, ART KEMA, mencakup di dalamnya aturan tentang Hima dan UKM.
Sayangnya, ajang penentu masa depan KEMA ini tidak mendapat perhatian dari Hima dan UKM. Forum Muskema dihadiri tidak lebih dari 30 mahasiswa dan belum mewakili seluruh Hima dan UKM. Faris pun menyayangkan hal ini. “Harusnya temen-temen Hima-Unit hadir. Ada tidaknya BEM, DLM, semua keputusan tergantung mereka.  Kan mereka yang mau melaksanakan,” ungkapnya (20/11).
Ketua Panitia Muskema, Oky D.P pun menyadari, minimnya peserta akibat minimnya publikasi, baik dari panitia maupun DLM. “Publikasi dari DLM juga mestinya lebih gencar, dibantu juga sama ketua Hima-Unit. Pembentukan panitia juga jangan dadakan, minimal sebulan, karena ini event besar keluarga Faperta,” ungkapnya (19/11).
Pentingnya Hima dan UKM hadir dalam Muskema, membuat forum akhirnya mengambil langkah baru. Penambahan poin pada Bab 5 Pasal 12 tentang Tata Tertib Muskema. Tertera bahwa muskema akan sah jika dihadiri oleh minimal 3 orang perwakilan masing-masing Hima dan UKM.
Kehadiran Hima-unit juga untuk menyampaikan rekomendasi KEMA ke depannya.   Hima-unit turut berperan menilai pertanggung jawaban Presbem dan Ketua DLM beserta jajarannya.  Termasuk rekomendasi Muskema tahun lalu kepada Presbem. Diantaranya mengembalikan kepercayaan hima-unit dan membangun bargaining position dengan birokrat. “Dari saya, sudah hampir 100% dijalankan semaksimal mungkin. Walaupun yang seharusnya menilai kan teman-teman hima-unit,” terang Faris.
Terkait hasil Muskema nantinya, pihaknya mengaku siap. “Siap ditolak dan diterima. Ini kan hasil keputusan bersama. Yang penting usaha untuk azas kebermanfaatan buat Faperta lebih baik,” pungkasnya. (Rizki/Juli/Lani)
Print Friendly, PDF & Email
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Komentar

Orang berkomentar