Menimbang Relevansi Jalur Independen dalam Pemira

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Namanya jalur independen. Jalur ini tidak memakai kendaraan partai politik sebagaimana lazimnya pemira tahun lalu. Lahir dari kemajemukan mahasiswa pertanian yang tidak puas dengan sistem partai. Pencalonannya pun, perseorangan.

Hasil survey yang diadakan Agrica melalui kuisioner pada 13-20 November lalu, menampilkan hasil yang tidak menggembirakan bagi partai mahasiswa. Salah satu pertanyaannya adalah sistem mana yang lebih relevan diterapkan di Fakultas Pertanian sebagai mekanisme pencalonan presiden BEM tahun ini. Dari 200 responden, tercatat 54 persen responden menjawab independen, sisanya 46 persen setuju dengan sistem partai.

Ini memberi angin segar bagi calon independen untuk menang di pemira tahun ini, meski dengan selisih yang cukup tipis. Sebaliknya, memberikan peringatan dini bagi partai mahasiswa yang ada di Faperta. Di titik ini, jika partai mahasiswa mengalami defisit kepercayaan dari publik maka demokrasi mengalami kebekuan.

Merosotnya tingkat kepercayaan publik terhadap partai mahasiswa mengindikasi bahwa partai mahasiswa memiliki peran dan tanggung jawab dalam kehidupan demokrasi kampus. Namun, tidak kunjung memperlihatkan kinerja yang  sesuai harapan publik. Padahal, dalam miniatur negara partai menjadi pilar utama penyangga bangunan demokrasi. Partai menjadi jembatan aspirasi mahasiswa. Bukan hadir saat Pemira saja.

Kehadiran calon Presiden BEM jalur independen dalam Pemira tahun ini sebagai jalan tengah temporer sekaligus peringatan dini (early warning) bagi partai mahasiswa yang dalam praktiknya mengecewakan publik.
Sebenarnya wacana ini sudah lama muncul. Seperti yang diungkapkan Bhaskara Anggarda, mahasiswa Agroteknologi’09, selama ini belum ada sistem baku yang ditawarkan di Muskema terkait jalur independen. Jalur independen dapat meredam kegerahan mahasiswa akan partai yang munculnya hanya menjelang Pemira. “Partai munculnya musiman, kalo independen dapat mewakili seluruh suara mahasiswa kenapa tidak,”ungkapnya (20/11).

Hasil survey Agrica pun menunjukkan 21 persen responden tidak setuju pemberlakuan jalur pencalonan independen diterapkan pada pemira 2013/2014. Sisanya 79 persen setuju. Bichin, Agrotek’10, setuju dengan independent. Menurutnya DLM demokratis, karena membuka akses pencalonan presiden BEM dari jalur independen. “Sebuah demokratisasi di Faperta, independen diperbolehkan maju dalam pemira tahun ini,”tuturnya (20/11).
Dede Suhada, mahasiswa Agroteknologi’10 merasa sistem partai lebih efektif. Menurutnya organisasi partai lebih struktural, jalur koordinasi antar anggota lebih baik dibanding independen yang maju sendiri. “Namun partai ada kekurangannya yaitu partai hanya di dominasi oleh orang-orang partai saja,” ucapnya (20/11).
Syarat pencalonan lewat jalur independen, dalam RUU Pemira tertera, calon wajib mengumpulkan minimal 200 KTM. Sedangkan pencalonan oleh partai  hanya membutuhkan 100 suara yang dibuktikan melalui KTM. Menurut Imron, ketua DLM,  pengumpulan syarat KTM bagi calon independen yang lebih besar dibanding partai agar calon independen percaya diri untuk maju. “Partai hanya 100 karena partai sudah berpengalaman, sedang independen yang mungkin kurang pengalaman bisa membuat calon lebih pede maju dengan 200 KTM,” ujarnya (20/11).

Elektabilitas dan pendidikan politik
Baik jalur partai atau independen, elektabilitas menjadi penting dan sebisa mungkin memberikan pendidikan politik yang sehat dalam demokrasi kampus. “Sosok yang mewakili semua prodi. Bukan hanya terkenal di prodinya masing-masing,” jelas Bhaskara.
Sistem partai seharusnya bisa memberikan cerminan pendidikan politik bagi mahasiswa yang hampir sama miniatur negara. “Dengan adanya partai seharusnya bisa menjaring mahasiswa pertanian untuk belajar berpolitik,” ucap Harvin, sekjen Partai Harapan. Namun, jauh panggang daripada api, kenyataannya tak berjalan sebagaimana mestinya. Bhaskara menjelaskan Partai seharusnya memberikan pendidikan politik, nyatanya partai cuma mucul menjelang pemira, selebihnya tidak diketahui keberadaannya. (Aliya, Bekti, Santika).
Print Friendly, PDF & Email
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Komentar

Orang berkomentar