Liputan Forum Diskusi Nasional di Gedung Dewan Pers

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Berfoto bersama Nizar Patria daari Dewan Pers

 

Kamis pagi (23/4) delegasi LPM Agrica memulai hari pertama kegiatan Forum Diskusi Nasional (FDN) di Gedung Dewan Pers, Jakarta Pusat.  Kegiatan ini merupakan salah satu rangkaian Journalist Day (JD) 2014 yang digelar oleh Badan Otonom Pers Economica (BOE) Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia. FDN diikuti oleh sembilan Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) dari berbagai universitas yang menjadi finalis lomba essay JD 2014.
Sembilan LPM tersebut diantaranya LPM Agrica Faperta UNSOED, LPM Kenthingan UNS, BPPM Equilibrium FE UGM, LPM Leviathan UIN Jakarta, LPM Gema Keadian FH UNDIP, LPM Profesi UNM Makassar, LPM Manifest FH UNBRAW, LPPM Opini Fisip UNDIP dan Ultimagz UMN Jakarta. Kesembilan LPM kemudian dibagi ke dalam tiga kelompok diskusi sesuai sub tema karya essay yang dibuat. LPM Agrica mengikuti diskusi di kelompok sub tema ‘Media Berpihak Secara Terang-Terangan, Sah atau Tidak?’ bersama dengan BPPM Equlibrium dan LPM Leviathan.
Diskusi dilaksanakan di ruang pertemuan Dewan Pers lantai 7. Pemateri diskusi kelompok yaitu pengurus Dewan Pers bagian wartawan, Nezar Patria. Pemateri pernah menjadi redaktur pelaksana VIVA.co.id (2014), mantan Ketua Umum Alainsi Jurnalis Independen (AJI) (2008-2011) dan wartawan majalah TEMPO selama sembilan tahun hingga tahun 2008.
Nizar Patria memberi pengantar materi dengan sejarah kebebasan pers di era reformasi. “Pers mahasiswa menjadi wadah mimbar bebas dan pemberitaan bagi mahasiswa kritis untuk mengkritik pemerintah,” jelas Nizar. Kebebasan pers ditandai dengan lahirnya Undang-Undang Pers Nomor 40 Tahun 1999 yang membebaskan Surat Ijin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP).
Nizar menjelaskan, pasca itu, media memasuki era musim semi media. “Selama kurun 2000-2002 jumlah media cetak naik 600 persen, muncul enam TV swasta baru, dan radio selain RRI berhak memproduksi berita sendiri,” jelasnya. Memasuki 2004 media berada pada musim gugur karena adanya seleksi alam. “Media yang mampu bertahan adalah media yang memiliki modal bersar, distribusi luas, dan jaringan yang kuat. Tersisa 400an media cetak standar Dewan Pers dan lainnya ‘abal-abal’,” tambahnya.
Media memasuki era industrialisasi dan mengikuti mekanisme pasar. “Media harus independen atau ruang redaksi harus terbebas dari kepentingan pemiliknya. Media yang netral akan membuat berita yang berimbang, jujur, faktual, dan berpihak pada kepentingan publik,” terang Nizar. Independensi dan netralitas merupakan prinsip agar media tetap dibaca dan dipercaya oleh pembaca.
Kepemilikan media saat ini didomonasi 12 grup media yang sebagian dimiliki oleh pengusaha yang bertarung dalam pemilu. “Konglomerasi merupakan konsentrasi kepemilikan. Pembaca perlu mengindentifikasi pemilik media tersebut dan dapat melihat keberpihakan media tersebut kepada pemilik yaitu jika pemberitaan mengarah pada satu arah,” ungkap Nizar.
Peran Dewan Pers sebagai lembaga kontrol terhadap penyimpangan yang dilakukan media terbatas hanya menegur dan memberikan rekomendasi. “Media yang tidak menjaga independensi dan netralitasinya, menulis berita bohong dan menerima suap, perlahan akan cidera publik dan perlahan ditinggalkan oleh pembaca,” pungkas Nizar (Aliyah, Lani, Siwi).
Print Friendly, PDF & Email
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Komentar

Orang berkomentar