Kekuatan Rakyat, Capai Swasembada

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Kebutuhan yang meningkat, sedang produksi dalam negeri akan bahan pangan masih belum mencukupi. Swasembada pangan kian digadang-gadangkan oleh pemerintah. Haruskah kita swasembada? Bagaimana mantan Menteri Pertanian Prof. Dr. Ir. Bungaran Saragih, M.Ec memandang swasembada pangan di Indonesia?
Bogor (22/7). Agrica berkesempatan mewawancarai mantan Menteri Pertanian, dua kabinet, yaitu Kabinet Persatuan (26 Agustus 2000 – 23 Juli 2001) dan Kabinet Gotong Royong (2001 – 2004) di kantor Yayasan Borneo Orangutan Survival (BOS). Guru Besar Institut Pertanian Bogor yang sudah emertus ini, pagi itu menyambut hangat kedangan Agrica. Saat ini Ia masih aktif menjadi Ketua Pembina Yayasan BOS dan sebagai penasihat Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO).
Pandangan terhadap pertanian masa kini menurutnya harus berbasis sistem Agribisnis, bertani tidak hanya untuk menutupi kebutuhan hidup. Pemikiran cerdasnya Ia tuangkan dalam berbagai judul publikasi ilmiah.
Pria asal Pematang Siantar ini telah dianugerahi berbagai penghargaan. Penghargaan tersebut antara lain Cited for Distinguished Academic Performance, Economic Institute, Boulder, Colorado, USA (1975); Cited for Distinguished Academic PerformanceInternational Honor Society of Agriculture, GAMMA SIGMA DELTA (1979); dan Dosen Terbaik Program Magister Manajemen Agribisnis, IPB (1991 – 1993).
Berikut petikan wawancara Agrica bersama Prof. Bungaran Saragih.
Sejak dulu Indonesia punya angan-angan untuk swasembada. Kenapa kita harus swasembada?
 
Kita perlu swasembada. Karena kita negara besar. Jika kita tidak swasembada, kita bisa dipermainkan oleh negara-negara lain. Pangan itu sumber hakiki. Pangan adalah hak asasi manusia.
Menurut Bapak, sejauh mana Indonesia sudah menyiapkan diri untuk swasembada pangan?
 
Kita sudah siap. Kita sudah mencapai swasembada dari dulu. Sewaktu saya menjabat, saya sudah pernah hitung, kita pernah swasembada pangan. Ekspor kita lebih besar dari impor. Kita peroleh dari sawit, dari kakao, dari karet. Masalahnya adalah kita tidak pernah setuju dengan pendapat itu. Karena banyak kepentingan pribadi. Ada yang berkepentingan dari beras, maka istilah macam-macam bermunculan. Selalu membawa swasembada kedalam komoditi.
Bagaimana tanggapan Bapak dengan swasembada komoditi di berbagai daerah?
 
Pangan yang aman bukan hanya dari segi produksi, tetapi juga dilihat dari kemungkinan bisa mengimpor. Pangan yang kurang disuatu daerah bisa didatangkan dari daerah lain jika tidak cukup dari luar negeri. Kita negara kesatuan kok harus ada swasembada di kabupaten juga swasembada di provinsi? Kita harusnya swasembada secara nasional itu yang dinamakan negara kesatuan.
Indonesia sempat kelangkaan kedelai tahun lalu, kebutuhan kedelai tinggi, seberapa besar peluang kita dapat swasembada dengan pemanfaatan kedelai lokal?
 
Untuk komoditi kedelai, saya rasa tidak perlu ada istilah swasembada. Karena semangat swasembada harus ada untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing dari kedelai kita dahulu. Sembari meningkatkan  daya saing, jika kurang di dalam negeri, meningkatkan impor juga tidak masalah. Bukan berarti karena kita ingin swasembada lantas kita melarang impor. Jika kita larang impor, maka harga dikonsumen akan sangat tinggi sekali. Jadi kalau mau membantu petani menurut saya bukan dengan kebijakan fiskal atau dengan membuat pajak dan larangan impor. Tapi bagaimana caranya meningkatkan produktivitas.
Gerakan Percepatan Penganekaragaman Pangan berbasis Korporasi (GP3K), program BUMN yang menerapkan 100.000 hektar. Seefektif apakah sebenarnya solusi penambahan lahan demi mendukung swasembada?
 
Sudah lihat hasilnya? Sudah 3 tahun berjalan tidak ada apa-apa. Program itu hanya jargon-jargon saja. Buat saya, semakin sedikit Pemerintah campur tangan. Lalu Pemerintah memberikan inisiatif dan kreativitas dari masyarakat maka semakin maju pertanian kita.
Lalu apa yang penting untuk mendukung itu?
 
Seed (benih) dan praktik pertanian (budidayanya). Kedelai kita rata-rata secara nasional masih 1 ton per ha sedangkan di Brazil, Argentina sudah mencapai  3 ton per ha. Lalu bagaimana bisa bersaing? Usaha kita di kedelai seharusnya bagaimana meningkatkan daya saing terlebih dahulu. Mungkin ada daerah-daerah tertentu yang produktivitasnya sudah 2,5 ton. Itu lah yang bisa swasembada.
Bagaimana perkembangan research untuk kedelai di Indonesia?
 
Pada saat saya menjabat Menteri Pertanian, sudah banyak penelitian-penelitian tentang kedelai, saya kerjasama dengan Jepang tetapi sekarang sudah hilang. Mungkin tidak ada yang mau memikirkan itu lagi. Dahulu budget litbang lebih besar daripada dirjen. Kita memposisikan diri membantu pembangunan, pada bidang dimana masyarakat tidak bisa. Apa itu? Research. Coba kalian lihat, berapa biaya research kita, kecil sekali. Bagaimana kita bisa bersaing, tapi mau swasembada ?
Kedelai lokal kita kalah saing dengan kedelai impor (rata-rata), di negara pengekspor kedelai, mereka menerapkan transgenik. Apakah kita bisa juga menerapkan transgenik?
 
Transgenik juga harus kita pakai tetapi harus dipakai dengan prinsip kehati-hatian. Kita coba apakah produktivitasnya memang jauh lebih bagus. Dilihat dari dampak lingkungannya. Apakah ada dampak (negatif) dari nutrisinya. Jika tidak ada, maka teruskan. Kalau ada berhenti pakai transgenik. Sekarang banyak anti transgenik. Tapi kita impor asalnya transgenik.
Apa yang membuat transgenik kontroversi?
 
Dahulu Ada persaingan bisnis antara perusahaan-perusahaan di Amerika dan di Eropa. Di Eropa mengarah pada penelitian agrochemical (istilah untuk berbagai produk kimia yang digunakan dalam pertanian). Melalui teknik agrochemical akan meningkatkan produksi. Sedangkan Amerika datang dari seed (benih). Jadi benih adalah blueprint dari agribisnis. Kalau ada benih yang bagus maka budidaya pertanian bisa sangat membantu, tetapi kalau benihnya tidak bagus, maka praktiknya sangat terbatas. Oleh karena itu, Amerika melakukan penelitian, mengeluarkan banyak biaya, dan menang. Pengguna agrochemical terkejut. Mereka membuat kampanye bahwa transgenik bahaya. Mungkin juga mereka benar, tetapi dilebih-lebihkan. Karena itu bisnisnya bisa mati. Jadi kalau menurut saya coba saja transgenik, tetapi hati-hati.
Tapi sampai saat ini Indonesia masih menjadi negara penonton atau penikmat. Apa pengaruhnya kalau kita tidak juga menerapkan transgenik?
 
Kita tidak menghasilkan transgenik, tetapi kita mengonsumsi. Akhirnya, kita menjadi pasarnya orang lain saja. Kalau kita bisa pakai transgenik, dan benar terbukti lebih bagus, why not? Transgenik itu kan spesifik, berfungsi untuk kepentingan tertentu saja. Jika kita terapkan transgenik Seed dasar kita saja yang didatangkan dari luar transgenik, tetapi ada ekstansi seed yang bisa kita buat disini. Hanya seed dasarnya saja yang kita buat disana.
Soal regulasi, sejauh mana peraturan di negara kita tentang transgenik?
 
Sudah ada peraturannya, transgenik sudah boleh masuk. Tetapi dengan prinsip cartagena. Waktu saya sebagai menteri dahulu, saya gunakan itu. Saya pakai prinsip cartagena (Protokol memastikan keamanan di lingkungan agar tidak merugikan keanekaragaman hayati) tetapi saya dituduh  disogok oleh PT. Monsanto. Diperiksa kejaksaan dan KPK, saya tidak terbukti karena saya melakukan dengan prosedur yang ada.
Belum pernah produk transgenik yang sudah sampai di pasar-pasar Indonesia mendapatkan label. Padahal, bukankah sudah ada peraturan tentang pelabelan?
 
Dari negara pengekspor, saya rasa sudah ada origin of product pasti diberi tahu saat pembelian, harus ada deskripsinya, itu yang disebut traceability. Harus ada pelabelan. Biarlah konsumen yang memutuskan mereka mau atau tidak. Contohnya seperti produk hibrida. Kalau transgenik lebih bagus dari hibrida ya kita pakai transgenik. Kalau hibrida lebih bagus, biarkan saja orang memilih.
Berbicara soal kelembagaan, dalam Peraturan Presiden No. 32 tahun 2013 tentang penugasan Perusahaan Umum Bulog untuk mengamankan harga dan penyaluran kedelai. Menurut Bapak, apa pengaruhnya jika Perum Bulog ikut terlibat dalam tata niaga kedelai?
 
Perum Bulog tidak mengambil keputusan, hanya sebagai pelaksana. Boleh dia mengamankan harga jika pemerintah memutuskan seperti itu. Tetapi bagaimana dia melakukannya, dia harus punya stok sendiri. Karena supply (penawaran) dan demand (permintaan) itu menentukan harga. Dia bisa mempengaruhi supply demand kalau Bulog punya stok. Stoknya itu dari mana, dia bisa beli dari dalam negeri dan juga luar negeri (impor). Dia harus punya stok, maka Bulog harus punya uang. Pertanyaannya sudah dialokasikan tidak uang itu?
Bagaimana menurut Bapak tentang fungsi Perum Bulog sebagai stabilitator harga?
 
Pasar lebih kuat dari pada Bulog. Kalo menurut saya, jangan bermain-main di pengaturan supply, itu sumber korupsi. Buat saja tarif impor. Tonggak bukan di pemerintah, justru masyarakat yang harus diaktifkan untuk menimbulkan stabilisasi. Masyarakat itu lebih kuat daripada pemerintah.
Sekarang Perum Bulog milik BUMN, tidak lagi sebagai LPND. Bagaimana jika Bulog masuk ke kabinet lagi?
 
Merubah dari Perum Bulog menjadi Bulog berarti kembali ke orde baru, yang telah menimbulkan krisis yang besar. Kesalahannya bukan di Perum Bulog. Dia hanya pelaksana, Bulog diberi sumberdaya. Tetapi harus ada yang mengatur ini, siapa? Yaitu Dewan Ketahanan Pangan (DKP). Kalau DKP tidak berfungsi, ya Perum Bulog tidak berfungsi. Sekarang Perum Bulog di bawah BUMN, peraturannya Di bawah DKP. Masalahnya bukan megotak-atik Perum Bulog, tetapi fungsikan kembalilah DKP. Kalau kita mau ke orde baru ya tidak benar itu. Kalau Bulog dulu memang di bawah Presiden. Masa sekarang presiden mengurus beras.
Akan ada kebijakan penetapan HPP kedelai. Apa pengaruhnya?
 
Bagus saja. Cuma menurut saya kenapa itu harus diatur pemerintah? Apakah itu komoditas strategis. Kalau terlalu banyak komoditi strategis ya tidak strategis lagi. Seharusnya tidak perlu. Bikin saja tarif impor. Siapa yang paling produktif dia yang akan menang. Kalau kita bikin tarif impor 10 persen, maka harga dalam negeri akan naik 10 persen. Siapa yang diuntungkan, yaitu petani. Jika kita tidak bikin tarif, impor kita akan banyak nanti.
Kembali soal swasembada. Indonesia pernah swasembada kedelai pada tahun 1992 dengan proteksi. Apa yang bisa kita petik dari situ?
 
Saat itu kita tidak mengimpor. Kenapa tidak impor? Karena konsumsi rendah, mampu memenuhi kebutuhan. Dahulu cuma tempe, sekarang pakan ternak juga menggunakan tahu. Dahulu bukan sebuah prestasi menurut saya. Karena dahulu memang konsumsi kita rendah. Permasalahan sekarang kan, konsumsi kita semakin tinggi, jumlah penduduk kita meningkat. Konsumsi per kapita meningkat karena income meningkat. Orang butuh kalori, protein, lemak, vitamin dan mineral. Protein tidak harus tempe. Di negara-negara maju, mereka tidak terlalu pusing karena sumber kalorinya bisa dari jagung, umbi, nasi, dan banyak sumber pangan. Kalau satu mahal, beralih ke lain, itulah ketahanan pangan. Sumber protein, bisa dari ikan, bisa dari daging, juga telur. The more options, the more developt the country. Kalau mau swasembada pangan, kita harus sampai ketahanan pangan dulu.
Mana yang lebih penting, swasembada atau ketahanan pangan?
 
Yang penting memang bukan swasembada pangan, yang penting adalah ketahanan pangan. Bagaimana kita tersedia makanan dan mampu untuk membelinya. Kalau swasembada pengertiannya yang dihasilkan sama atau lebih besar dari yang dibutuhkan. Tetapi, belum tentu orang punya akses untuk itu. Ada makanan tetapi tidak bisa membeli, itu yang terjadi pada swasembada. Ketahanan pangan lebih bagus dari swasembada, orang yang sudah ketahanan pangan, sudah berdaulat. Pangan itu bukan, beras saja, bukan kedelai saja. Pangan merupakan gabungan dari macam-macam menjadi sumber kalori, menjadi vitamin, mineral, lemak.
Seharusnya kita bisa subtitusi itu. Apakah kita belum bisa diversifikasi pangan?
 
Begitulah, karena kita belum berkembang. Kita belum bersedia dengan pilihan. Jika kita bersedia, dimana ada pilihan maka kita tidak membatasi diri dan mau membeli.
Indonesia negara konsumtif terbesar akan beras, dan salah satu negara pengimpor gandum terbanyak. Tanggapan bapak? Bukankah, jika kita mampu menekan laju 2 komoditas ini, konsumsi pangan negara akan aman.
 
Konsumsi beras memang terlalu tinggi, 139 kg per kapita. Jika dikurangi menjadi 100 kg per kapita kita bisa kembali mengekspor beras. Kebijakannya justru bagaimana mengurangi konsumsi bukan meningkatkan produksi saja. Khusus untuk beras, kalau kita bisa kurangi konsumsi 30 persen kita bisa mengurangi areal sawah 30 persen, maka bisa kita gunakan untuk menanam jagung, kedelai, sayur-sayuran. Cara lain, harga beras harus dinaikkan. Atau lawan dengan harga komoditas lain dengan harga yang lebih murah.
Apa yang harus dibenahi dari pola pertanian kita?
 
Mindset. Kalau saya, pertanian harus berkonsep sistem dan usaha agribisnis. Pertanian bukan sekadar way of life, pertanian adalah bisnis dengan untung rugi itu penting. Kalau untung, karena saya hasilkan sendiri bukan karena dikasih Pemerintah. Jangan berpikir aku hanya petani jagung, petani padi, petani kedelai. Berpikirlah bahwa aku petani Indonesia. Dan saya bisa pindah dari tanam jagung ke tanam padi, bisa ke tanaman kedelai, tergantung mana yang cocok buat saya. Sering petani kita, hanya tahu dia petani padi, dia hanya tahu dia petani jagung. Tidak mengembangkan konsep agribisnis.
Bagaimana sebaiknya arah pertanian ke depannya?
 
Perbaikan di Pemerintah terlebih dahulu. Pemerintah yang pintar, bersih dan berdedikasi. Gunakan kekuatan rakyat. Rakyat lebih pintar dari pemerintah.
Reporter :

Subhekti Hikmanto

Aliyah Rizky
 
 
                                                      Prof. Dr. Ir. Bungaran Saragih, M.Ec
Lahir : Pematang Siantar, 17 April 1945
Karir :
–        Mantan Menteri Pertanian 2000-2004
–        Guru Besar Institut Pertanian Bogor
–        Ketua Pembina Yayasan Borneo Orangutan Survival (BOS)
–        Penasihat Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO)
Pendidikan :
Sarjana di IPB bidang Sosial Ekonomi Fakultas Pertanian (Lulus 1971)

M.Ec di North California State University, Amerika Serikat (Lulus 1977)

Ph.D di North California State University, Amerika Serikat (Tamat 1980)
Print Friendly, PDF & Email
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Komentar

Orang berkomentar