Kedatangan Menristekdikti Disambut Aksi

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Caption: Senin (21/3) Aliansi Keluarga Besar Mahasiswa Unsoed (KBMU) berjalan menuju depan gedung Rektorat untuk menyambut Dikti Prof. Dr. H. Muhamad Nasir, M. Si., Akt., Ph. D., Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) di Gedung Rektorat Unsoed. Walaupun sudah menunggu lama, mereka tidak berhasil menemui M Nasir (Foto: Agc/Dian)

Senin (21/3), kedatangan Prof. Dr. H. Muhamad Nasir, M. Si., Akt., Ph. D., Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) di Gedung Rektorat Unsoed dalam rangka kunjungan kerja ke gedung Rektorat disambut aksi mahasiwa. Mereka (red: mahasiswa) yang menamai dirinya Aliansi Keluarga Besar Mahasiswa Unsoed (KBMU) menuntut beberapa tuntutan.

Salah satunya menuntut pencabutan UKT, “Kami meminta Unsoed dan Menristekdikti untuk menuntut pencabutan UKT, penghapusan represivitas kampus, dan transparansi Dikti,” teriak Riyan, Koordinator Lapangan Aksi ketika berorasi. Hal senada disampaikan Azzy DK, perwakilan BEM FISIP, “Kami (red: mahasiswa) sepakat untuk mencabut UKT,” tuturnya lantang saat berorasi (21/3).

UKT dinilai tidak mampu memenuhi tuntutan pasal 31 pembukaan UUD 1945. Pada pasal 31 ayat 1 disampaikan “Setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan”. Akan tetapi adanya kenaikan level UKT 2016 dinilai menjadi penghalang masyarakat untuk kuliah karena semakin mahal, ”Dalam pembukaan UUD 1945 disampaikan seperti itu. Tapi nyatanya UKT masih saja naik,” tegas Azzy. Dia juga menambahkan dalam Peraturan Menristekdikti pasal 9 mengkritisi pasal 8 karena memperbolehkan pungutan selain UKT. Padahal pada pasal 8 tidak diperbolehkan.

Selain itu, mahasiswa juga menuntut penghapusan represivitas kampus. Hal tersebut diwujudkan dengan adanya jajaran birokrasi yang menyusun konsep sekaligus menjadi panitia dalam PKKMB, “Sebenarnya mereka ingin mencerdaskan atau membodohkan mahasiswa? Masa ada dangdutannya dalam PKKMB?” papar Sujada Abdul Malik, Perwakilan BEM-U (21/3). Selain itu, mahasiswa juga menuntut transparansi Dikti, “Kita ingin tahu transparansi dan segala informasi Dikti,” tambah Riyan.

Walaupun sudah menunggu beberapa jam, mereka gagal menemui M Nasir. Dia pindah ke Hotel Aston Imperium bersama rektor, “Gara-gara tadi sempat ricuh, mereka pindah tanpa memberi informasi ke mahasiswa,” jelas Biko, salah satu perwakilan mahasiswa yang ditunjuk berdiskusi bersama M Nasir. Azzy tidak kaget dengan sikap M Nasir yang seperti itu, “Sebelumnya saya juga pernah seperti ini. Orang penting seperti dia (M Nasir) memang sulit untuk ditemui,” jelasnya (21/3).

Berbeda dengan yang disampaikan Azzy, Biko kecewa dan menilai M Nasir pengecut, “Kecewa. Dia kan sudah ngundang mahasiswa, kok tanpa pemberitahuan ditinggalin. M Nasir pengecut,” keluhnya. Dia juga menambahkan, walaupun aksi ini tidak berhasil menemui rektor, mahasiswa akan tetap mengawasi terus kebijakan kampus. (Janu)

Print Friendly, PDF & Email
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Komentar

Orang berkomentar