Kartu Kendali Tanpa Kendali

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Kartu kendali mahasiswa yang digunakan sebagai salah satu syarat kelulusan telah terbit setahun lamanya. Memasuki jalan usia dua tahun, sampai saat ini belum jelas nasib dan keberlanjutannya.

Secarik kertas kuning itu terlihat masih baru meski sudah setahun lebih dimiliki. Bukan karena dirawat atau disimpan rapi, melainkan belum ada paraf kegiatan yang terisi. Padahal, sudah banyak kepanitiaan baik tingkat Hima atau fakultas yang diikuti. Hesti Ayu, Agribisnis 2011, menanggapi biasa saja tentang kartu kendali. Dirinya tidak kuatir mengenai poin yang harus tercapai dalam ketentuan kertas kuning tersebut. Malah cenderung malas menggunakannya. Bingung bagaimana kartu ini digunakan.

Media ini usulan dari Dewan Legislatif Mahasiswa (DLM). Tujuannya baik, yaitu untuk pengembangan karakter mahasiswa.  Jadi tidak hanya memilik kompetensi akademik tetapi mahasiswa memiliki integritas tinggi, mental yang bagus serta bisa bekerja sama.

Sesuai SK Dekan Nomor 122/H.23.4.FP/PP.06.01/2011 yang diterbitkan 12 Mei 2011, syarat kelulusan mahasiswa diwajibkan mengantongi sekurang-kurangnya 100 poin. Nilai poin yang dimaksud jelas tertera pada kartu kendali tersebut. Keluarnya SK Dekan ini, menunjukkan wujud aturan yang jelas diatur dan wajib dijalankan. PD III menegaskan kurang, jika poin yang dikantongi kurang dari 100, mahasiswa tidak bisa lulus.

Namun, memasuki tahun kedua penerapan kartu kendali, dijumpai sejumlah kendala. Minimnya sosialisasi mengenai mekanisme pengisian membuat banyaknya hima-unit bingung menggunakan kartu kendali. Beberapa Hima dan Unit  yang ditemui Agrica mengakui kebingungan mengenai pengisian kartu kendali tersebut. “Teknis pengisiannya belum tahu. Sebelumnya belum pernah ada sosialisasi juga,” ujar Ghina, President of SEGA (08/10).  Singgih, Ketua Umum Himateta pun mengeluh hal yang sama. Dirinya mengaku sampai sekarang belum tahu mau bagaimana dan belum pernah ada mahasiswa ITP yang meminta tanda tangan.

Kebingungan bukan hanya milik Hima-unit. Dani, mahasiswa Agroteknologi 2011, “Saya masih merasa bingung tentang bagaimana mekanisme dan proses pengisiannya sehingga kartu saya belum saya isi,“ tuturnya (09/10).

Imron, Ketua DLM Faperta  menjelaskan teknisnya yaitu dimulai dari mahasiswa baru (maba) yang ikut kegiatan hima-unit mengumpulkan kartu tersebut ke hima-unit yang bersangkutan. Kemudian untuk mendapatkan tanda tangan, maba harus menunjukkan bukti sertifikat kegiatan. Kalau belum dapat atau tidak ada sertifikat, alternatifnya dengan melampirkan daftar absen. Selanjutnya ditandatangani dan dicap oleh ketua panitia atau ketua umum masing-masing hima-unit . Lebih lanjut dijelaskan, apabila kartu tersebut hilang maka mahasiswa dapat meminta kembali tanda tangan, dengan kembali menunjukkan sertifikat.

Pengawasan

Laiknya anak yang baru berumur dua tahun, penggunaan kartu ini masih butuh pengawasan dalam penerapaanya. DLM mengaku belum melakukannya. “Kita belum punya rekapan mengenai poin, karena baru akan dibicarakan lagi dengan hima-unit,” tukas Imron yang sudah setahun menjabat Ketua DLM. Selama ini, Imron menjelaskan, kartu kendali ini memang DLM yang membuat tapi fungsi kontrolnya perlu dilakukan bersama.

Disinggung mengenai tulisan “Pantaskah Anda lulus? tanyakan pada DLM”. Imron menjawab dengan tegas tidak tahu siapa yang menulis dan menempel. “Bukan suudzon atau gimana itu seperti mengadu domba antara mahasiswa dengan DLM,” tegasnya. Imron menambahkan, kartu kendali memang proker DLM tapi tulisan tersebut dirasa kurang sopan.

Harapannya, sosialisasi atau paling tidak kumpul dengan hima-unit membicarakan kartu ini segera dilakukan. Agar tidak banyak persepsi yang muncul. Faris Karamatul Malik, Presiden BEM KEMA Faperta juga mengutarakan harapannya, “Harusnya ada evaluasi dari DLM dan sosialisasi terkait kartu kendali ini,” jawabnya (10/10). DLM masih punya tugas berat sebelum mengakhiri masa jabatannya. Tentunya tanggungjawab dalam keberlanjutan nasib kartu kendali ini. (Siwi/Aziz)
Print Friendly, PDF & Email
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Komentar

Orang berkomentar