Jas Almamaterku Rp 24 Juta !

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Di beberapa sudut kampus, tergantung lusuh beberapa jas kuning berlogo Universitas Jenderal Soedirman. Berbagai sentilan bahkan bernada sindiran dituliskan pada jas almamater yang kini berubah menjadi simbol penolakan terhadap pemberlakuan  Uang Kuliat Tunggal (UKT). Mulai dari bertuliskan “Ruang dekan dingin, ruang kuliah panas”, “UKT=Uang Kuliah Tinggi”, hingga “Jas Almamaterku Rp 24 Juta”. Simbol-simbol ini merupakan suara, bahkan teriakan.

Di perjalanannya yang hendak menginjak satu semester, UKT tampak belum dapat diterima. Mahasiswa, sebagai konsumen merasa harus membayar terlalu mahal atas fasilitas yang diterimanya. Alhasil, Pembantu Rektor 1 harus rela sibuk melayani ketukan pintu ruangannya hampir setiap pekan.  Mewawancarai mahasiswa dari berbagai fakultas yang masih terus memperjuangakan keringanan biaya UKT. Kesepakatan dengan proses tawar menawar pun beberapa menghasilkan keringanan. Mulai dari diturunkan Rp 500 ribu, menjadi Rp 1 juta, bahkan Rp 0. Sementara, hasil survey kecil AGRICA di Fakutlas Pertanian menunjukkan, masih banyak mahasiswa tidak mengetahui bahwa UKT dapat diringankan.

Dengan dalih memukul rata biaya kuliah, yang terjadi justru mark up. Ketika dimintai penjelasan rincian dan unit cost, pihak fakultas maupun universitas tidak pernah menjelaskannya dengan tuntas. Jika besaran UKT ditetapkan berdasarkan kebutuhan di masing-masing program studi, maka semestinya dengan mudah dapat dijelaskan unit costnya. Lalu, artinya bukan program studi yang menyusunnya melainkan ketetapan dari atas?

BEM Kema Faperta dan di fakultas lain hingga kini masih terus mengadvokasi keringanan biaya UKT mahasiswa angkatan 2012. Upaya terbaru yakni menyerbarkan kuisioner keringanan UKT sejak dua minggu terakhir. Hasil sementara, dari 552 kuisioner, 512 menyatakan tidak menyanggupi besaran UKT. Terlebih mahasiswa yang juga membayar biaya sumbangan murni. Sementara, hanya 7 persen yang menyatakan sanggup. 7 persen ini termasuk mahasiswa yang memilih UKT diatas Rp 3 juta. Kebutuhan program studi ini ternyata tidak didukung dengan kemampuan mahasiswanya.

Syarat keringanan UKT berupa JAMKESMAS tidak dapat dipenuhi oleh seluruh mahasiswa yang mengajukan keringanan. Sebab JAMKESMAS hanya diberikan kepada warga yang didata sebagai keluarga yang tergolong kemampuan ekonomi lemah berdasarkan sensus penduduk. Banyaknya permohonan keringanan UKT tidak kunjung membuka mata hati pihak rektorat. Angin segar berupa respon penghapusan UKT atau keringanan UKT tidak kunjung berhembus.

Diteruskannya UKT sama halnya menunggu bom waktu. Menunggu saat beberapa mahasiswa tidak dapat membayar UKT selama perjalanan studinya tujuh atau delapan semester ke depan.

Print Friendly, PDF & Email
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Komentar

Orang berkomentar