Empat Tuntutan untuk Rektor Unsoed

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Jum’at (14/11),
Faisal Yanuar (kanan), Presiden BEM
Fisip menghampiri dan menekan Rektor Unsoed,

Achmad Iqbal (kiri) untuk menandatangani tuntutan

mahasiswa terkait masalah kebijakan dan fasilitas

kampus saat  acara Sambung Rasa dengan Rektor

sedang berlangsung di aula Jurusan Ilmu  Budaya, Fisip,

Foto: Agc/Arif

Dialog Sambung Rasa dengan Rektor Unsoed yang diadakan oleh rektorat Jumat (14/11), di jurusan ilmu budaya FISIP, diwarnai kericuhan. Permasalahan akademik dan fasilitas di Unsoed seakan tidak ada titik temunya. Bergantinya petinggi universitas pun nyatanya tidak mampu mewakili aspirasi mahasiswa.
Kericuhan diawali adanya tuntutan mahasiswa FISIP terkait empat masalah kebijakan dan fasilitas kampus. Keterbukaan informasi kebijakan kampus, keringanan biaya kuliah, pembebasan pungutan biaya fasilitas kampus, hingga pencairan dana ke jurusan yang terkesan lambat dipaparkan dengan gamblang dalam dialog tersebut, “Masih tidak adanya keterbukaan informasi kepada Persma, permasalahan UKT 2014, pungutan penggunaan BLU seperti gedung soemardjito, hingga pengembangan laboratorium dan perpustakaan yang terkesan lambat,” ujar Azka, Mahasiswa FISIP (14/11).
Terkait tuntutan tersebut, Rektor Unsoed, Dr. Ir. Achmad Iqbal, M.Si., menolak untuk menjawab secara tegas, “Perlu peninjauan kembali dari setiap permasalahan,” jawabnya (14/11). Tidak puas dengan tanggapan tersebut, beberapa mahasiswa melakukan provokasi terhadap rektor, “Kami ingin rektor menandatangi surat tuntutan kami sebagai sikap politik,” saut Faisal Yanuar A. B. S., Presiden BEM FISIP (14/11).
Dialog Sambung Rasa terpaksa diakhiri sepihak oleh pembawa acara sehingga  kericuhan tidak dapat dihindarkan. Faisal menghampiri dan memaksa rektor untuk menandatangani surat pernyataan tuntutan, bersama mahasiswa FISIP yang lain.  Namun, dosen yang hadir tidak setuju dengan penandatanganan tersebut, “Hormati rektor dan keputusan moderator, beri mereka (pejabat rektorat) jalan untuk lewat,” tegas salah satu dosen jurusan ilmu budaya (14/11).
Perjuangan mahasiswa tetap berlanjut meskipun rektor meninggalkan tempat dialog. Konfirmasi didapatkan satu minggu lagi setelah Faisal mengejar rektor, “Kayaknya mereka mikir ide dulu buat cari aman,” ujar Faisal.dengan skeptis (Janu/Isti)
Print Friendly, PDF & Email
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Komentar

Orang berkomentar